Oktober 9, 2026

Oleh Madi Saputra

Mereka yang memperjuangkan rakyat, sering mati di tangan rakyat itu sendiri. Bukan karena jahat, tapi karena rakyat terlalu sibuk menggembalakan ketakutannya.

Ada yang lebih pedih dari kematian : ditikam oleh yang kau lindungi.
Itulah nasib Che Guevara, revolusioner legendaris, yang ditangkap karena dilaporkan oleh seorang penggembala domba. Bukan tentara CIA, bukan agen Bolivia, melainkan lelaki desa dengan kaki telanjang dan mata ketakutan. Ketika ditanya, “Kenapa kau laporkan dia? jawabannya sederhana namun menusuk: “Perangnya dengan musuh membuat dombaku ketakutan.” Begitu murahnya harga seorang pejuang. Ternyata satu nyawa Che tidak lebih berharga dari ketenangan seekor domba.
Tak jauh berbeda, di tanah Alexandria yang disapu Napoleon, Muhammad Kari -pahlawan rakyat Mesir- ditinggalkan oleh rakyat yang ia bela. Ketika ia datang ke pasar untuk mengemis pengampunan dengan menggadaikan nyawanya, para pedagang menolaknya. Mereka tak sudi kehilangan emas, bahkan untuk membeli kembali kehormatan negeri mereka. Dan Napoleon, dengan kejamnya yang jujur, berkata: “Aku mengeksekusimu bukan karena kau melawan kami, tapi karena kau mati demi mereka yang tak layak diperjuangkan.

Gambar ilustrasi

”Sejarah : Tentang Siapa yang Berjuang dan Untuk Siapa
Sejarah bukan hanya tentang siapa yang berjuang, tapi juga tentang untuk siapa perjuangan itu ditujukan. Pertanyaan yang menghantui banyak pejuang dari zaman ke zaman adalah : Layakkah rakyat yang belum sadar untuk diperjuangkan? Muhammad Rasyid Ridha, seorang pemikir Islam modern, pernah berkata dengan getir : “Berjuang demi masyarakat yang bodoh, seperti menyalakan api di tubuhmu sendiri agar bisa menerangi jalan bagi orang buta. Namun, bahkan api itu tak dilirik, karena orang buta lebih memilih kegelapan yang nyaman daripada cahaya yang memaksa mereka membuka mata”.
Rakyat yang belum tercerahkan sering kali tidak mengenali pahlawannya. Mereka kadang menyembah penjajah karena berpakaian rapi dan membawa beras, sementara mencibir revolusioner karena baju compang-campingnya membawa risiko. Inilah wajah sosial yang jarang ditulis dalam buku pelajaran : bahwa dalam sejarah, yang paling dulu mati bukanlah si tiran, tapi orang yang mencoba membangunkan rakyat dari tidur panjangnya.

Penyadaran : Kunci Perjuangan yang Abadi
Perjuangan bukan hanya tentang keberanian mengangkat senjata, tapi juga tentang kesabaran menanam kesadaran. Tanpa penyadaran, revolusi hanyalah pertunjukan sepi di mana rakyat menonton, lalu pergi karena tak mengerti maknanya. Ini adalah pelajaran paling getir dari kisah Che Guevara, Muhammad Karim, dan pemikiran Rasyid Ridha : membebaskan manusia tanpa menyadarkannya hanya akan mengulang tragedi yang sama. Sejarah akan terus menulisnya—bukan dengan tinta emas, tapi dengan darah pahlawan yang dikhianati oleh ketidaktahuan.

Hikmah dari Sunan Giri dan Walisongo
Walisongo, khususnya Sunan Giri, telah tahu hikmah mahal itu. Maka tepatlah apa yang dilakukan Sunan Giri dari Giri Kedaton. Ia tak turun gunung membawa pedang, melainkan mengirimkan ilmu, iman, dan tauhid ke dalam dada para santri, pedagang, dan pemimpin lokal. Ia menyebarkannya ke seluruh penjuru Nusantara, menanamkan kesadaran sebelum mengajarkan perlawanan. Hasilnya terbukti: ratusan tahun kemudian, bukan pasukan besar, tapi jiwa-jiwa yang tercerahkan itulah yang bangkit melawan penjajahan. Kesadaran itulah yang membentuk rakyat menjadi bangsa. Dan bangsa yang sadar, meski lambat bangkit, akan berdiri lebih tegak. Itulah akar dari kemerdekaan yang sejati.

Relevansi untuk Indonesia Masa Kini
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tapi cermin bagi Indonesia saat ini. Di tengah tantangan zaman, politik yang kacau, ekonomi yang timpang, dan sosial yang terpecah. Kita masih melihat rakyat yang kadang lebih memilih kenyamanan sesaat ketimbang perjuangan untuk kebebasan jangka panjang. Ketidaksadaran ini sering dimanfaatkan oleh kekuatan yang menindas, sebagaimana penjajah atau tiran memanfaatkan ketakutan dan kebodohan.
Namun, seperti yang ditunjukkan Sunan Giri, perubahan sejati datang dari penyadaran. Pendidikan dan ilmu adalah senjata terkuat melawan penindasan. Hanya dengan kesadaran, rakyat dapat mengenali musuh sejatinya dan memahami makna perjuangan. Tanpa itu, kita hanya akan terus menyaksikan pengulangan sejarah: pahlawan yang gugur sia-sia, dikhianati oleh ketidakpedulian rakyat yang mereka bela.

Penutup : Menanam Kesadaran untuk Kemerdekaan Sejati
Che Guevara dan Muhammad Karim mati karena rakyat yang mereka perjuangkan belum siap untuk bebas. Sunan Giri, di sisi lain, meninggalkan warisan yang hidup dalam jiwa bangsa karena ia memilih menanam kesadaran terlebih dahulu. Untuk Indonesia hari ini, pesannya jelas : kita harus terus mendidik, menyadarkan, dan membangun rakyat yang kritis dan berdaya. Hanya dengan begitu, perjuangan kita—baik melawan penjajahan masa lalu maupun ketidakadilan masa kini—akan berbuah kemerdekaan yang sejati, bukan sekadar mimpi yang berulang kali kandas di tangan ketidaktahuan.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca