Oktober 10, 2026
image-5

Oleh : Dr. KRMT Roy Suryo

Jakarta,15 Mei 2024 – Tulisan ini akan lebih komprehensif bilamana dibaca sesudah menyimak apa yg saya tulis kemarin: “ADA APA (APANYA) DRAFT UU PENYIARAN?” karena Prolog permasalahan dan Background referensinya sudah ditulis di sana, agar tidak mengulang kembali untuk dituliskan disini. Intinya, Insan pers saat ini sedang H2C (Harap-harap Cemas), bukan H2SO4 alias SamSul (aSAM SULfat) karena Komisi-1 dan BaLeg / Badan Legislasi DPR-RI sedang merumuskan RUU Penyiaran sebagai Revisi dari Undang-Undang Penyiaran No. 32/2002, namun didalamnya “menabrak’ Undang-undang Pers No 40/1999.

Kondisi hari-hari ini saya rasakan juga mirip suasana awal-awal tahun 2024 kemarin, saat saya sempat merasa “sendirian” mengkritisi KPU, khususnya SIREKAP (Sistem Informasi Rekapitulasi Pemilu) yang acak adit semenjak awal, bahkan kacau balau di akhir perjalanannya (karena terbukti banyak sekali kebobrokan sistem, mulai dari Program Stagging / Beta-version yg dipakai, Cloud-server disembunyikan di Luar Negeri, tepatnya Aliyun Computing (Alibaba.com Singapore), Ditemukannya JASON-script untuk penyelundupan Algoritma tertentu, Peniadaan Filter di OCR/OMR-nya, Penggelembungan Paslon & Partai tertentu, hingga Penghentian tidak jelas alias Tanpa ada Tanggungjawab sama sekali Sistem yang bernilai Milyaran tersebut.

Kenapa sendirian?,Karena Pakar-pakar IT Republik ini yang biasanya mau tampil dan berbicara lantang mengkritisi kalau ada ketidakberesan Teknologi, tampak “diam seribu bahasa” bahkan terkesan “bersembunyi” dibalik tindakan yang diindikasikan terjadi kecurangan bahkan kejahatan teknologi tersebut. Nama-nama seperti OWP, RZA, BSD dan sebagainya bak menyublin alias lenyap ditelan bumi, segendang-sepenarian dengan Kampus ternama di Bandung, tempat Bung Karno dulu menimba ilmu (semasa bernama THS / Technische Hoogeschool te Bandoeng) karena memang terlibat dengan adanya MoU dengan KPU untuk pembuatan SIREKAP.

Alhamdulillah dengan perjuangan gigih melalui berbagai Platform dan didukung Media-media yang masih punya Etika dan Hati Nurani, bukan yang hanya Pro Rezim yang menunggu “cair” dan tampak “tutup mata” dengan segala bentuk penyelewengan teknologi kemarin- Akhirnya satu demi satu Pakar-pakar IT Independen mulai berani juga bersuara jujur demi kebenaran, seperti Dr Leony Lidya, Hairul Anas Suaidi Mahmud MT, Ir Agus Maksum, Ir Abi Akhmad Syarbini, Akhyar ST, Ir. Jay Sofyan, Yasmin Shahab ST, Dr Soegianto, Ir Benhard Mavis Anggiat, Dr Yudi Prayudi dan beberapa nama lain yang akhirnya terus berjuang dalam Aliansi Penegak Demokrasi Indonesia (APDI).

APDI sampai dengan saat ini juga terus bergerak untuk menyampaikan kebenaran dan bersuara lantang, karena sampai kapanpun seorang Akademisi dan Peneliti sejati akan terus mengkritisi bilamana ada hal-hal yang memang tidak benar. Prinsip yang dipakai masih tetap sama dan berlaku universal, yakni “Ahli bisa saja ada kesalahan (mungkin akibat alat ukur atau teori yang dipakai sudah tergantikan oleh inovasi yang lain), namun demikian Ahli tetap harus berkata jujur apa adanya, tidak boleh bohong apalagi melindungi ketidakbenaran dgn menggunakan teknologi”. Prinsip tegas ini Insyaa Allah menjadi pegangan yang tetap terus dijaga sebagaimana sudah dilakukannya sejauh ini, meski dengan resiko yang pasti terjadi dan harus terus dihadapi.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca