Oleh : Ida Nurhaida Kusdianti (Presidium Aliansi Rakyat Menggugat ,Aktivis Perempuan)
Jakarta, 15 Mei 2024
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Uang sogok menyogok/ untuk pembelian suara dalam setiap pesta demokrasi lima tahunan selama ini sudah menjadi hal yang SALAH – KAPRAH ( salah tetapi di anggap wajar. ), ini sebuah spektrum yang suram karena telah banyak mendatangkan malapetaka dalam demokrasi. Bahkan dalam kontestasi pencalonan presiden banyak melibatkan oligarki dalam pendanaan suksesi yang memakan biaya sangat fantastis dan pada akhirnya Presiden terpilih di kontrol penuh segala kebajikan oleh Oligarki dan sebagai timbal balik penguasa berbalas budi pada para bandar dan setiap kebijakannya Rakyat menjadi objek penderita yang absolut
Persetujuan dari rakyat yang dicapai melalui pemilu yang kredibel adalah PONDASI DEMOKRASI Namun jika pemilu hanyalah sebuah mata uang yang bisa dimanipulasi sesuka hati, landasan berdemokrasi akan runtuh dan jangan heran jika tindakan perilaku korrup di lingkungan pejabat tidak bisa di hentikan akibat saling sandra satu sama lain sehingga sampai pada satu titik KOMPROMI atau KONGKALINGKONG..
Presiden terpilih seharusnya belajar dari presiden Putin Rusia ” OLIGARKI yang membahayakan ekonomi negara akan di cari kesalahannya sampai akhirnya harta oligarki di kuasai negara” tapi yang terjadi di Republik ini.. *Presiden tidak berani mengambil sikap gentle / Berpasang dada menghadapi arogansi OLIGARKI demi kemakmuran rakyatnya
Berapa banyak kekayaan alam kita yang ada di perut bumi tidak berhenti di kuras oleh non- goverment / pihak swasta yang tidak mempedulikan nasib Anak Bangsa, dan ini sebenarnya bukan hal yang sulit bagi pemerintah yang di backup penuh oleh rakyat untuk menghentikan semuanya, tetapi Pejabat pejabat kita bermental banci mereka berpikiran kerdil, seolah-olah melawan oligarki dan membela kepentingan rakyat akan mendatangkan kiamat untuk bangsa ini
Sahabat Ida fillah & lillah
Hingga detik ini kekecewaan dan kemaraham rakyat masih dirasakan, hanya saja…mereka tak berdaya, akhirnya negeri ini seperti memelihara API DALAM SEKAM yang sewaktu waktu bisa membakar seluruh negeri, atau penguasa seperti melempar bola ke dinding yang pada saatnya akan menghantam wajahnya sendiri…ini hanya tentang WAKTU, karena itu…untuk semua rakyat yang merasa dimiskinkan, dibodohkan di curangi, dirampok, dicuri oleh segelintir orang yang menganggap dirinya PEJABAT PUBLIK…tetaplah istiqomah dalam berjuang…Karena tak ada PESTA yang tak usai
Kita akan terus berjuang sampai hak rakyat kembali pada rakyat…sampai kursi- kursi panas itu membakar PEJABAT PENGKHIANAT sampai KEADILAN dan KEMAKMURAN bisa bisa dinikmati oleh RAKYAT
We are at the point of no return
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.