SIKAP BUNGKAM ANIES PADA KEZALIMAN REZIM CURANG, HANYA APOLOGI UNTUK MELEGITIMASI HIPOKRISI, BUKAN ARGUMENTASI YANG TEGAK Di ATAS PILAR KEJUJURAN, KEBENARAN, KEADILAN
Oleh : Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH, M.Si (Ketua Umum TPUA)
Semut Ibrahim | Jakarta, 14 Mei 2024 – Terus terang, saya termasuk yang sangat kecewa kepada Anies Baswedan, baik saat membawa perkara ke MK hingga pasca pengumuman keputusan MK. Sejak dizalimi dengan cawe-cawe Jokowi dalam Pilpres sampai dengan lolosnya Cawapres Ilegal Gibran Rakabuming, saya dan para pendukung Anies sudah meminta Anies untuk melawan. Bahkan, Rekan Aziz Yanuar mengusulkan ide perlawanan dengan Anies Baswedan menyatakan mundur dari Pencapresan.
Ide Aziz Yanuar ini cukup argumentatif. Sebab, sudah dipastikan Anies akan kalah saat bertarung dengan Paslon yang didukung penuh Presiden Jokowi.
Tapi, Anies diam dan akhirnya benar-benar dikalahkan dalam Pilpres karena intervensi Bansos Jokowi dan kontrol ketat ASN, APH, TNI, POLRI, GUBERNUR, BUPATI, WALIKOTA, CAMAT, LURAH dan para kepala desanya. Setelah Anies kalah pun, Anies diminta jangan membawa perkara ke MK, yang ujungnya hanya akan melegitimasi kecurangan. Para pendukung dan relawan meminta Anies mengumumkan sikap tidak menerima hasil Pilpres dan menyatakan tidak terikat dan tidak bertanggungjawab dengan hasil Pilpres 2024.
Nyatanya, Anies ngotot maju via MK lewat Tim Hukum Nasional. Putusan MK juga akhirnya mengalahkan Anies. Bukti yang kesekian kalinya, membawa perkara ke MK hanya melegitimasi kecurangan.
Setelah kalah di MK, banyak pihak meminta Anies untuk menyatakan perlawanan terhadap kemenangan Pilpres curang. Setidaknya, dengan segera mengumumkan sikap oposisi terhadap kemenangan Prabowo Gibran.
Tapi, alih-alih menyatakan oposisi, Anies malah ikut hadir dalam prosesi penetapan kemenangan curang di KPU. Setelah penetapan KPU, dalam wawancara media Anies bersedia dan terbuka untuk berdiskusi dengan Prabowo. Bahkan, tak tegas menolak bergabung di Pemerintahan Prabowo Gibran, dengan dalih belum ada tawaran untuk bergabung , agak beda dengan Ganjar P.
Lalu, Anies berusaha membangun narasi bahwa sikap bungkamnya adalah prestasi. Dalam sebuah diskusi podcast, Anies mengaku tidak mau lagi mengangkat jenazah gara-gara Pilpres.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.