Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Hanief Adrian
Sekjen Keluarga Alumni PSIK-ITB

Bagi kami para juniornya di ITB, dilantiknya Syahganda Nainggolan menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah oleh Presiden Prabowo pada Jumat 2 Oktober 2026 bukan hanya sekedar sebuah kehormatan sebagai seorang aktivis senior. Masuknya Bang Ganda (demikian kami memanggilnya), adalah akhir dari babak 1 perjuangan ideologis dari luar pagar, dan awal dari babak 2 yaitu perjuangan dari dalam kekuasaan.

Memang banyak yang mencibir, katanya sudah sejak lama aktivis berjuang lalu masuk kekuasaan kemudian berubah wataknya menyesuaikan diri dengan kecenderungan kekuasaan yang korup. Kami para juniornya tidak akan bisa menjamin bahwa senior-senior kami tidak akan larut dalam kekuasaan, karena larut atau tidaknya idealisme para aktivis bergantung pada kekuatan gagasan yang mereka perjuangkan sejak muda.

Kekuatan gagasan ibarat materi dalam kimia, apakah berbentuk fasa gas yang mudah menguap, fasa fluida yang mudah larut bergantung pada viskositas atau kekentalan, atau fasa solid yang keras baik karena berasal dari bumi atau cairan yang sudah mengkristal.

Bukan Aktivis Kemarin Sore

Syahganda yang alumni jurusan Geodesi angkatan 1984 dan Fadli yang alumni Fisika 2007, bukan hanya mahasiswa Study Oriented atau istilah sekarang kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), mereka adalah aktivis Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK) ITB yang didirikan pada 20 September 1970-an oleh empat aktivis Dewan Mahasiswa yaitu Sarwono Kusumaatmadja, Wimar Witoelar, Bahder Munir dan Soeparno Satira dengan slogannya yang khas pada saat itu ‘Student Today, Leader Tomorrow’.

Salah satu ujian gagasan seorang aktivis bukanlah sekadar debat panjang ditemani kopi hingga larut malam, ujian terberatnya adalah mengimplementasikannya menjadi aksi nyata. Syahganda yang peduli dalam isu agraria yang dikaji oleh Kelompok Studi Pertanahan (KSP) di Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG), ikut menginisiasi aksi-aksi perebutan tanah rakyat di Badega oleh PT Surya Andalan Mustika (SAM). Padahal petani Badega itu dipimpin Pak Suhdin dan Bu Kokom, sudah mengajukan permohonan hak milik berdasarkan Keppres no 32 tahun 1979 yang ditandatangani Presiden Soeharto.

Tiba-tiba, Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam memberikan hak guna usaha (HGU) Badega kepada PT SAM pada 3 Juli 1986. Surat Keputusan Mendagri tersebut memantik amarah petani Badega dan membangkitkan gerakan mahasiswa khususnya di Bandung, Garut dan Priangan Timur lainnya yang tergabung dalam Komite Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat Badega (KSMuRB).

Syahganda dikenal sebagai komandan lapangan dan orator ulung dalam aksi-aksi KSMuRB, ikut memimpin aksi petani menggeruduk beberapa pos komunikasi yang dijaga oleh tentara, kemudian long march Bandung-Badega untuk membela 13 petani Badega yang ditahan sejak 30 September 1988 hingga dinyatakan bebas murni oleh Mahkamah Agung pada bulan Mei 1989.

Tentu saja sikap radikal Syahganda menjadikannya incaran aparat keamanan Orde Baru yang saat itu sangat represif. Syahganda yang merupakan ketua panitia Program Pengenalan Lingkungan Kampus (PPLK) 1987-1988, sebuah program kaderisasi untuk mahasiswa tingkat pertama agar memiliki kesadaran sosial politik tentang perannya sebagai mahasiswa, ditangkap aparat selama beberapa hari karena mengadakan acara malam tahun baru 1988 yang dianggap mengejek-ejek Soeharto dan Ibu Tien.

Aktivisme Syahganda inilah menyebabkan ia masuk penjara sejak November 1989 dan divonis 2 tahun, resiko terberat menjadi aktivis pada masa Soeharto. Pengalaman menjadi tahanan politik ia alami lagi pada masa Jokowi hanya karena menolak pengesahan UU Cipta Kerja tahun 2020.

Artinya, Syahganda sebagai aktivis yang berjuang melawan kekuasaan sudah teruji dengan keras, tidak hanya dari meja-meja diskusi dan teriakan komando di lapangan, bahkan diuji dengan penjara yang tentu saja berdampak pada diri dan keluarga. Sejak mahasiswa hingga hari ini, ia sudah berjuang selama 40 tahun lebih, bukan aktivis kemarin sore.

Dari Politik Pencitraan Jadi Politik Kejujuran

Kami membaca cibiran lain, bahwa Syahganda dan juga Fadli menjadi Kepala dan Wakil Kepala Badan Komunikasi tetapi bukan ahli komunikasi. Memang benar, Syahganda yang dipecat dari ITB karena divonis penjara kemudian menyelesaikan sarjana ekonomi, kemudian Magister Studi Pembangunan di ITB dan Doktor bidang Kesejahteraan Sosial di UI dengan disertasi mengenai perburuhan. Fadli mengambil gelar Master of Public Administration dari Tsinghua University, almamaternya Xi Jinping sang Pemimpin Tertinggi Cina.

Tetapi, pilihan Prabowo justru tepat dan sesuai dengan watak kepemimpinannya yang tidak menyukai pencitraan. Citra (image) pada dasarnya merupakan representasi dari fakta, dan dalam analisis citra seringkali harus mereduksi beberapa fakta untuk memudahkan pengambilan keputusan inilah yang akan ditampilkan dan ini yang perlu ditutupi. Dalam bahasa lugas, pencitraan kadang memerlukan kebohongan di satu sisi dan penampilan berlebih-lebihan di sisi lain.

Ini yang menjadi soal Pemerintahan negara kita pada masa Reformasi, para pemimpinnya sibuk pencitraan dan melupakan kejujuran untuk penyampaian fakta berdasarkan data yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Semua berubaha saat Prabowo menjadi pemimpin, sikap ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling membuat beberapa pihak marah, tersinggung, sekaligus terkejut dengan fakta keras betapa bobroknya pencurian kekayaan negara selama bertahun-tahun.

Perjalanan aktivisme Syahganda sendiri adalah perjuangan tentang kejujuran yang membumi, bukan hanya cita-cita yang melangit. Selepas penjara, ia bergabung dengan CIDES yang didirikan Adi Sasono, sahabat Profesor B.J. Habibie yang notabene adalah intelektual kesayangan Soeharto, tanpa sekalipun kehilangan sikap kritis. Selesai dari CIDES, ia mendirikan Sabang-Merauke Circle (SMC) pada era SBY bersama dua kawannya dari Geodesi yaitu Arwin Lubis dan Ultra Syahbunan. SMC kemudian mengambil posisi diametral dengan kritik-kritiknya yang tajam terhadap kebijakan Rezim Jokowi yang serampangan.

Sekarang ia memimpin GREAT Institute yang digawangi kader-kadernya di PSIK-ITB seperti Dr. Sudarto, Khalid Zabidi, dan lain-lain yang selalu memberi masukan kritis dan konstruktif kepada Pemerintahan Prabowo. Dalam posisi itulah, Syahganda dilantik Presiden menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah.

Dari perjalanan hidupnya sebagai aktivis, kami para juniornya memperkirakan Syahganda akan mengubah pola kerja yang radikal, dari komunikasi imagologis yang sering terperosok pada kebohongan menjadi komunikasi ideologis yang penuh kejujuran.

Silakan saudara-saudara menyampaikan secara jujur dan kritis, apa yang dapat kita lakukan untuk mencapai cita-cita ideologis bangsa ini.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca