Oktober 10, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi

“The betrayal of intellectuals, pengkhianatan kaum intelektual” (La Trahison des Clercs, 1927) ini gagasan filsuf Prancis Julien Benda.

Pengkhianatan intelektual (sudah berumur panjang), bukan sekadar berbohong, melainkan ketika seseorang yang seharusnya mengejar kebenaran memilih mempertahankan jabatan, kedudukan, ideologi, atau kepentingan kelompoknya.

“Penghianatan intelektual tidak terjadi ketika mereka berbohong, melainkan ketika mereka menukar kebenaran dengan posisi.” Kebohongan adalah gejala, penyerahan kebenaran demi posisi adalah akar pengkhianatannya.

Seorang intelektual bisa tetap menyampaikan argumen yang tampak logis, tetapi jika tujuan utamanya adalah melindungi jabatan, menggembirakan penguasa, atau memenangkan kelompok, ia telah kehilangan fungsi moralnya sebagai penjaga kebenaran.

Julien Benda mengkritik Pengkhianatan intelektual bermula atas kejadian kaum terpelajar Eropa yang meninggalkan  sikap berpikir yang tidak memihak dan nilai universal seperti kebenaran serta keadilan, lalu berpihak pada nasionalisme, kepentingan kelas, rasisme, dan kekuasaan politik.

Dalam kerangka itu, “posisi” mencakup, jabatan  akademik atau birokrasi, loyalitas kepada partai, rezim, atau patron, keuntungan finansial dan status sosial, keselamatan diri dari kritik, ancaman, atau isolasi, kepentingan kelompok identitas,  meskipun bertentangan dengan fakta.

Pengkhianatan paling berbahaya sering tidak tampak sebagai kebohongan kasar. Ia muncul ketika intelektual, hanya mengajukan pertanyaan, “Apakah ini menguntungkan kelompok saya?” bukan “Apakah ini benar dan adil ?”.

Pengkhianatan intelektual sering menggunakan kecakapan akademik untuk membenarkan keputusan yang sudah dipilih secara politik. Diam terhadap kesalahan karena takut kehilangan akses, jabatan, atau dukungan.

Mengubah fakta menjadi alat propaganda, bukan dasar penilaian.
Jadi,  intelektual menjadi pengkhianat ketika kecerdasannya tidak lagi melayani kebenaran dan keadilan, melainkan melayani posisi dan kekuasaan. Di Indonesia sering terjadi karena memburu keuntungan finansial.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca