Oktober 10, 2026
Ilustrasi keprihatinan demokrasi yang hampir mati (foto ist)

Semut Ibrahim | Jakarta – Netralitas Politik selalu menjadi topik panas ketika PEMILU menjelang, walaupun jelas-jelas aturan dengan tegas menyebutkan kewajiban netralitas bagi pelayan rakyat, mulai dari presiden sampai ke tingkat bawah bahkan hingga ke pengurus RT/RW di kampung-kampung, namun masih saja ditemukan “diduga” aparat dari pusat hingga ke daerah justru menjadi alat politik untuk kekuasaan. Lantas kemudian dengan ringan hanya di sebut sebagai “oknum”

Aroma busuk menyengat atas akrobat perlibatan para pejabat, aparat sipil negara (ASN) dan penegak hukum, bahkan aparat desa dengan telanjang tanpa malu-malu mendukung salah satu paslon menjelang Pilpres 2024. Perilaku ini semakin hingar bingar sampai ke daerah-daerah. Ini berarti netralitas hanya jargon kosong tanpa makna. Semua bermula dari mantra sihir cawe-cawe.

Baca juga “Angket “Anak Haram” Konstitusi”

Demi Bangsa & Negara, Lupakan Dulu Kompetitor Politik

Oleh : Nazlira Al-Habsy

Ilustrasi Koran Tempo

Suka atau tidak suka, itulah yang harus dilakukan oleh koalisi dibawah lokomotif PDIP dan NASDEM hingga mendapatkan kepastian, bahwa rakyat mendapatkan JAMINAN Pemilu terselenggara JUJUR dan ADIL, yang diwujudkan dalam bentuk tindakan kongkrit bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam kejahatan pemilu, apakah itu penyelenggara pemilu atau penegak hukum yang berkaitan dengan perkara-perkara yang berhubungan dengan pemilu, harus diproses hukum, ditangkap dan diadili.

Esok sudah masuk Desember 2023, waktu semakin sempit, dan kesempatan pun semakin menipis.

Baca juga “DPR Harus Buka Ruang Pemakzulan Jokowi”

Surya Paloh harus menyudahi segala bentuk basa-basi masa koalisi dengan rezim melalui sikap Partai Nasdem yang lebih tegas hitam-putihnya terhadap semua perilaku jorok dan tidak senonoh para petualang politik amoral.

Sementara Megawati, harus membuktikan bahwa PDIP memang tidak bermain dua kaki, menjadi pihak yang ikut menikmati dampak dari mengakali konstitusi, atau bahkan justru berada “dibalik kelambu” perselingkuhan kotor amoralitas demokrasi, persekutuan asusila politik yang melahirkan anak haram konstitusi.

Jika rasa nasionalisme dan kebangsaan diletakan diatas kepentingan kelompok, maka Surya Paloh, Megawati dan tokoh atau pimpinan partai politik lainnya seperti Ahmad Syaikhu, Muhaimin Iskandar, Amien Rais, sementara waktu harus melupakan rivalitas politik hingga KPU dan Polri terbukti mampu menegakan konstitusi Pemilu secara benar dan konsekwen.

Para tokoh dan pimpinan partai politik secara bersama-sama menggandeng seluruh kekuatan elemen yang memiliki basis massa seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, FUKRI, KWI, PHDI, Walubi, BEM, FPI, dan lain-lain untuk turun dalam satu kekuatan moral, menuntut penegak hukum dan penyelenggara pemilu, tanpa reserve, menjalankan fungsinya, menyelenggarakan pemilu yang Jurdil tanpa cacat demokrasi.

Dengan kekuatan pergerakan moral sebesar itu, mustahil tidak mampu menarik kekuatan TNI, Polri, KPU, MK dan institusi negara lainnya untuk konsisten memilih sikap netral sebagaimana harusnya.

Inilah wujud persatuan dan kesatuan yang sesungguhnya untuk membebaskan masyarakat dari kecemasan dan kegelisahan akan Pemilu yang tidak berjalan secara JUJUR dan ADIL.

Untuk mewujudkan Pemilu Jurdil itu, semua pihak harus ikhlas dan berbesar jiwa guna terbangunnya proses Demokrasi yang fair, bebas dari kecurangan atau cacat moral politik. Tak ada jalan lain, titik.

Keikhlasan dan kebesaran jiwa akan menggagalkan seluruh upaya-upaya keji membenturkan rakyat dan aparat penegak hukum dalam suatu gejolak sosial yang meledak akibat proses politik yang dilakukan dengan kecurangan.

Keikhlasan dan kebesaran jiwa adalah kunci preventif mencegah berbagai kemudharatan akibat kerusakan demokrasi yang pada akhirnya juga akan merusak tatanan hukum dan konstitusi.

Jika Pemilu terselenggara JUJUR dan ADIL, siapapun pemimpin yang kelak menjadi pilihan rakyat, baik Anies – Cak Imin ataupun Ganjar – Mahfud, pasti akan diterima dan didukung sepenuh hati oleh rakyat, juga dengan segenap keikhlasan dan kebesaran jiwa.

Editor : Bams


Pembaca suka menikmati diksi? bisa di baca disini


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca