Oktober 10, 2026

Dunia, Zuhud, dan Kecerdasan Akhirat

Disampaikan Oleh : Madi Saputra

Ada kekeliruan besar dalam cara manusia membaca kehidupan. Kita cenderung mengukur keberhasilan dari apa yang tampak: kekayaan, kekuasaan, jabatan, kemewahan, popularitas, teknologi, dan panjangnya pengaruh seseorang di muka bumi. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa sesuatu tidak menjadi bernilai hanya karena ia besar di mata manusia.

Ada kekayaan yang sebenarnya kemiskinan. Ada kekuasaan yang hakikatnya kehinaan. Ada kemenangan yang sedang berjalan menuju kekalahan abadi. Dan ada kesederhanaan yang justru menyimpan kemuliaan di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

«لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ ۝ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ»

“Jangan sekali-kali engkau terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit. Kemudian tempat kembali mereka ialah Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”
(QS. Ali ‘Imran: 196–197)

Dua kata Al-Qur’an menghancurkan seluruh ilusi materialisme:

مَتَاعٌ قَلِيلٌ

Kesenangan yang sedikit.

Bukan berarti seluruh kenikmatan dunia haram. Bukan pula Islam memerintahkan manusia meninggalkan usaha, perdagangan, ilmu pengetahuan, kekayaan, pembangunan, atau kekuasaan. Yang dihancurkan Al-Qur’an adalah kesalahan dalam memberikan nilai kepada dunia.

Dunia menjadi berbahaya ketika yang sementara diperlakukan seolah-olah kekal, yang kecil dianggap besar, dan yang merupakan sarana berubah menjadi tujuan.

DUNIA KECIL KARENA IA AKAN BERAKHIR

Mengapa Allah menyebut dunia qalil, sedikit?

Pertama, karena waktunya sedikit

Manusia mungkin hidup enam puluh, tujuh puluh, atau delapan puluh tahun. Tetapi setelah kematian datang, seluruh umur itu terasa seperti kilatan singkat dalam bentangan keabadian.

Allah berfirman:

«بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى»

“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A‘la: 16–17)

Persoalannya bukan sekadar bahwa akhirat lebih lama. Al-Qur’an mengatakan:

خَيْرٌ وَأَبْقَى

Lebih baik dan lebih kekal.

Dunia kalah dari dua sisi sekaligus: kualitas dan durasi.

*Kedua, dunia sedikit karena kelezatannya terbatas.*
Makanan paling lezat berhenti kenikmatannya ketika seseorang kenyang. Rumah sebesar apa pun akhirnya hanya menyediakan satu tempat tidur untuk tubuhnya. Kekuasaan seluas apa pun tidak mampu membeli satu detik tambahan ketika ajal telah datang.

Manusia dapat memiliki banyak hal, tetapi tidak pernah memiliki dunia sepenuhnya.

Pada akhirnya, dunia akan meninggalkan manusia, atau manusia yang meninggalkan dunia.

DUA KENIKMATAN YANG TIDAK SAMA

Syariat mengenal kenikmatan jasmani, tetapi Islam membawa manusia kepada kenikmatan yang jauh lebih tinggi: kelezatan iman.

Ada kenikmatan yang dirasakan tubuh: makanan, pakaian, rumah, kendaraan, kekayaan dan kedudukan.

Namun ada kenikmatan yang hanya dikenal hati yang hidup: khusyuk ketika shalat, ketenteraman ketika berdzikir, kelezatan membaca Al-Qur’an, keteguhan ketika bertawakal, dan kedamaian ketika ridha kepada ketetapan Allah.

Inilah sebabnya seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi dadanya lapang, sementara orang lain memiliki hampir seluruh fasilitas kehidupan namun hidup dalam kecemasan.

Allah berfirman:

«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Karena itu, kemiskinan sejati bukanlah kosongnya tangan.

Kemiskinan sejati adalah kosongnya hati dari Allah.

SATU CELUPAN YANG MERUNTUHKAN SELURUH KEMEWAHAN

Rasulullah ﷺ memberikan gambaran eskatologis yang sangat mengguncang kesadaran.

Pada Hari Kiamat akan didatangkan seorang manusia yang paling menikmati kehidupan dunia tetapi termasuk penghuni neraka. Ia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan, kemudian ditanya:

«هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟»

“Apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?”

Ia menjawab:

«لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ»

“Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.”

Sebaliknya, manusia yang paling menderita di dunia namun termasuk penghuni surga dicelupkan sekali ke dalam surga. Kemudian ditanya apakah ia pernah mengalami kesengsaraan.

Ia menjawab bahwa ia tidak pernah merasakan penderitaan sedikit pun.

(HR. Muslim)

Satu celupan.
Seluruh istana menjadi tidak berarti.
Seluruh penderitaan menjadi tidak berarti.

Di sinilah timbangan manusia runtuh dan timbangan akhirat berdiri.

*PARA SAHABAT NABI MEMBACA DUNIA DENGAN TIMBANGAN AKHIRAT*

Suatu ketika Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat bekas tikar pada tubuh Rasulullah ﷺ. Ia teringat kemewahan kerajaan Persia dan Romawi, sementara Rasulullah ﷺ hidup dalam kesederhanaan.

Nabi ﷺ kemudian mengarahkannya kepada satu perspektif besar: apakah ia tidak ridha bahwa bagi mereka dunia, sedangkan bagi Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman adalah akhirat?

Bukan berarti Islam mengharamkan kekuatan atau kekayaan. Para sahabat berdagang, memiliki tanah, memimpin negara dan mengelola kekayaan.

Tetapi dunia berada di tangan mereka, bukan menguasai hati mereka.

Rasulullah ﷺ juga bersabda kepada Abdullah bin ‘Umar:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al-Bukhari)

Ibn ‘Umar kemudian mengembangkan kesadaran itu dalam hidupnya: apabila telah berada pada sore hari, jangan merasa pasti akan mencapai pagi; apabila berada pada pagi hari, jangan merasa pasti akan mencapai sore.

Inilah kecerdasan akhirat: hidup serius, bekerja sungguh-sungguh, tetapi tidak pernah lupa bahwa kita sedang melakukan perjalanan.

*ZUHUD DALAM TRADISI MAZHAB SYAFI‘I*

Dalam khazanah ulama Syafi‘iyyah, zuhud tidak identik dengan meninggalkan harta.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin menempatkan pembahasan zuhud sebagai pendidikan hati agar manusia tidak diperbudak oleh kehidupan dunia.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah juga membedah penyakit cinta dunia secara mendalam dalam Ihya’ ‘Ulumiddin. Inti persoalannya bukan keberadaan benda, tetapi keterikatan hati kepada benda.

Karena syariat sendiri tidak memerintahkan manusia menghancurkan dunianya.

Allah berfirman:

«وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا»

“Carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegakkan keseimbangan.

Miliki harta, tetapi jangan menjadi milik harta.
Pegang kekuasaan, tetapi jangan menjadi budak kekuasaan.
Bangun dunia, tetapi jadikan pembangunan itu jalan menuju akhirat.

Inilah zuhud yang matang.

Zuhud bukan membuat tangan kosong. Zuhud adalah membuat hati merdeka.

*KESALAHAN TERBESAR MANUSIA: MENUKAR YANG KEKAL DENGAN YANG SEMENTARA*

Manusia disebut cerdas ketika mampu menghitung keuntungan dan kerugian. Tetapi betapa banyak manusia yang sangat cerdas dalam bisnis namun melakukan transaksi paling buruk dalam eksistensinya: menjual akhirat untuk membeli dunia yang segera berakhir.

Shalat ditinggalkan demi pekerjaan.
Kejujuran dijual demi keuntungan.
Halal dan haram diterobos demi kekayaan.
Persaudaraan diputus demi warisan.
Agama dikorbankan demi jabatan.
Prinsip ditukar dengan tepuk tangan manusia.
Padahal semua yang diperebutkan itu akan ditinggalkan.

Tidak ada rekening bank yang masuk ke liang kubur. Tidak ada jabatan yang ikut melewati alam barzakh. Tidak ada popularitas yang dapat menyuap malaikat.

Yang ikut hanyalah iman dan amal.

Maka persoalan terbesar manusia bukan berapa banyak dunia yang telah ia kumpulkan.

Pertanyaan sesungguhnya adalah:

berapa banyak dari dunia itu yang telah ia kirimkan ke akhirat?

*KESUDAHAN ADALAH UKURAN KEMENANGAN*

Jangan pernah mengukur seseorang hanya dari keadaan hari ini.

Fir‘aun pernah memiliki kerajaan.
Qarun pernah memiliki kekayaan.
Namrud pernah memiliki kekuasaan.

Tetapi sejarah manusia tidak berhenti di istana, singgasana, rekening, atau makam.

Ada akhirat.
Ada kebangkitan.
Ada hisab.
Ada surga.
Ada neraka.

Karena itu, seorang mukmin tidak silau melihat kebatilan sedang berada di puncak. Ia juga tidak putus asa ketika kebenaran sedang diuji.

Allah telah memberikan kalimat yang cukup untuk meluruskan seluruh perspektif:

مَتَاعٌ قَلِيلٌ

Hanya kesenangan yang sedikit.

Maka bekerjalah, tetapi jangan melupakan Allah. Carilah harta, tetapi dari yang halal. Bangunlah kekuatan, tetapi gunakan untuk kebenaran. Nikmatilah karunia Allah, tetapi jangan membiarkan kenikmatan itu membuat kita melupakan Pemberi nikmat.

Sebab orang yang paling beruntung bukanlah orang yang memiliki dunia paling banyak.

Orang yang paling beruntung adalah orang yang ketika dunia berakhir, kehidupan sebenarnya justru dimulai dalam keridhaan Allah.

Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, jangan jadikan ia menguasai hati kami. Jadikanlah apa yang Engkau titipkan di tangan kami sebagai jalan menuju ridha-Mu. Karuniakan kepada kami husnul khatimah, ampunan pada hari perhitungan, keselamatan dari neraka, dan kenikmatan memandang wajah-Mu di negeri yang tidak mengenal kematian.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا مِنَ الدُّنْيَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، وَأَجِرْنَا مِنَ النَّارِ.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.*DI BAWAH BAYANG-BAYANG KEABADIAN*

Dunia, Zuhud, dan Kecerdasan Akhirat

Oleh: Madi Saputra

Ada kekeliruan besar dalam cara manusia membaca kehidupan. Kita cenderung mengukur keberhasilan dari apa yang tampak: kekayaan, kekuasaan, jabatan, kemewahan, popularitas, teknologi, dan panjangnya pengaruh seseorang di muka bumi. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa sesuatu tidak menjadi bernilai hanya karena ia besar di mata manusia.

Ada kekayaan yang sebenarnya kemiskinan. Ada kekuasaan yang hakikatnya kehinaan. Ada kemenangan yang sedang berjalan menuju kekalahan abadi. Dan ada kesederhanaan yang justru menyimpan kemuliaan di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

«لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ ۝ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ»

“Jangan sekali-kali engkau terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit. Kemudian tempat kembali mereka ialah Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”
(QS. Ali ‘Imran: 196–197)

Dua kata Al-Qur’an menghancurkan seluruh ilusi materialisme:

مَتَاعٌ قَلِيلٌ

Kesenangan yang sedikit.

Bukan berarti seluruh kenikmatan dunia haram. Bukan pula Islam memerintahkan manusia meninggalkan usaha, perdagangan, ilmu pengetahuan, kekayaan, pembangunan, atau kekuasaan. Yang dihancurkan Al-Qur’an adalah kesalahan dalam memberikan nilai kepada dunia.

Dunia menjadi berbahaya ketika yang sementara diperlakukan seolah-olah kekal, yang kecil dianggap besar, dan yang merupakan sarana berubah menjadi tujuan.

DUNIA KECIL KARENA IA AKAN BERAKHIR

Mengapa Allah menyebut dunia qalil, sedikit?

*Pertama, karena waktunya sedikit.*

Manusia mungkin hidup enam puluh, tujuh puluh, atau delapan puluh tahun. Tetapi setelah kematian datang, seluruh umur itu terasa seperti kilatan singkat dalam bentangan keabadian.

Allah berfirman:

«بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى»

“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A‘la: 16–17)

Persoalannya bukan sekadar bahwa akhirat lebih lama. Al-Qur’an mengatakan:

خَيْرٌ وَأَبْقَى

Lebih baik dan lebih kekal.

Dunia kalah dari dua sisi sekaligus: kualitas dan durasi.

*Kedua, dunia sedikit karena kelezatannya terbatas.*
Makanan paling lezat berhenti kenikmatannya ketika seseorang kenyang. Rumah sebesar apa pun akhirnya hanya menyediakan satu tempat tidur untuk tubuhnya. Kekuasaan seluas apa pun tidak mampu membeli satu detik tambahan ketika ajal telah datang.

Manusia dapat memiliki banyak hal, tetapi tidak pernah memiliki dunia sepenuhnya.

Pada akhirnya, dunia akan meninggalkan manusia, atau manusia yang meninggalkan dunia.

*DUA KENIKMATAN YANG TIDAK SAMA*

Syariat mengenal kenikmatan jasmani, tetapi Islam membawa manusia kepada kenikmatan yang jauh lebih tinggi: kelezatan iman.

Ada kenikmatan yang dirasakan tubuh: makanan, pakaian, rumah, kendaraan, kekayaan dan kedudukan.

Namun ada kenikmatan yang hanya dikenal hati yang hidup: khusyuk ketika shalat, ketenteraman ketika berdzikir, kelezatan membaca Al-Qur’an, keteguhan ketika bertawakal, dan kedamaian ketika ridha kepada ketetapan Allah.

Inilah sebabnya seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi dadanya lapang, sementara orang lain memiliki hampir seluruh fasilitas kehidupan namun hidup dalam kecemasan.

Allah berfirman:

«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Karena itu, kemiskinan sejati bukanlah kosongnya tangan.

Kemiskinan sejati adalah kosongnya hati dari Allah.

*SATU CELUPAN YANG MERUNTUHKAN SELURUH KEMEWAHAN*

Rasulullah ﷺ memberikan gambaran eskatologis yang sangat mengguncang kesadaran.

Pada Hari Kiamat akan didatangkan seorang manusia yang paling menikmati kehidupan dunia tetapi termasuk penghuni neraka. Ia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan, kemudian ditanya:

«هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟»

“Apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?”

Ia menjawab:

«لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ»

“Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.”

Sebaliknya, manusia yang paling menderita di dunia namun termasuk penghuni surga dicelupkan sekali ke dalam surga. Kemudian ditanya apakah ia pernah mengalami kesengsaraan.

Ia menjawab bahwa ia tidak pernah merasakan penderitaan sedikit pun.

(HR. Muslim)

Satu celupan.
Seluruh istana menjadi tidak berarti.
Seluruh penderitaan menjadi tidak berarti.

Di sinilah timbangan manusia runtuh dan timbangan akhirat berdiri.

*PARA SAHABAT NABI MEMBACA DUNIA DENGAN TIMBANGAN AKHIRAT*

Suatu ketika Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat bekas tikar pada tubuh Rasulullah ﷺ. Ia teringat kemewahan kerajaan Persia dan Romawi, sementara Rasulullah ﷺ hidup dalam kesederhanaan.

Nabi ﷺ kemudian mengarahkannya kepada satu perspektif besar: apakah ia tidak ridha bahwa bagi mereka dunia, sedangkan bagi Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman adalah akhirat?

Bukan berarti Islam mengharamkan kekuatan atau kekayaan. Para sahabat berdagang, memiliki tanah, memimpin negara dan mengelola kekayaan.

Tetapi dunia berada di tangan mereka, bukan menguasai hati mereka.

Rasulullah ﷺ juga bersabda kepada Abdullah bin ‘Umar:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al-Bukhari)

Ibn ‘Umar kemudian mengembangkan kesadaran itu dalam hidupnya: apabila telah berada pada sore hari, jangan merasa pasti akan mencapai pagi; apabila berada pada pagi hari, jangan merasa pasti akan mencapai sore.

Inilah kecerdasan akhirat: hidup serius, bekerja sungguh-sungguh, tetapi tidak pernah lupa bahwa kita sedang melakukan perjalanan.

*ZUHUD DALAM TRADISI MAZHAB SYAFI‘I*

Dalam khazanah ulama Syafi‘iyyah, zuhud tidak identik dengan meninggalkan harta.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin menempatkan pembahasan zuhud sebagai pendidikan hati agar manusia tidak diperbudak oleh kehidupan dunia.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah juga membedah penyakit cinta dunia secara mendalam dalam Ihya’ ‘Ulumiddin. Inti persoalannya bukan keberadaan benda, tetapi keterikatan hati kepada benda.

Karena syariat sendiri tidak memerintahkan manusia menghancurkan dunianya.

Allah berfirman:

«وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا»

“Carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegakkan keseimbangan.

Miliki harta, tetapi jangan menjadi milik harta.
Pegang kekuasaan, tetapi jangan menjadi budak kekuasaan.
Bangun dunia, tetapi jadikan pembangunan itu jalan menuju akhirat.

Inilah zuhud yang matang.

Zuhud bukan membuat tangan kosong. Zuhud adalah membuat hati merdeka.

*KESALAHAN TERBESAR MANUSIA: MENUKAR YANG KEKAL DENGAN YANG SEMENTARA*

Manusia disebut cerdas ketika mampu menghitung keuntungan dan kerugian. Tetapi betapa banyak manusia yang sangat cerdas dalam bisnis namun melakukan transaksi paling buruk dalam eksistensinya: menjual akhirat untuk membeli dunia yang segera berakhir.

Shalat ditinggalkan demi pekerjaan.
Kejujuran dijual demi keuntungan.
Halal dan haram diterobos demi kekayaan.
Persaudaraan diputus demi warisan.
Agama dikorbankan demi jabatan.
Prinsip ditukar dengan tepuk tangan manusia.
Padahal semua yang diperebutkan itu akan ditinggalkan.

Tidak ada rekening bank yang masuk ke liang kubur. Tidak ada jabatan yang ikut melewati alam barzakh. Tidak ada popularitas yang dapat menyuap malaikat.

Yang ikut hanyalah iman dan amal.

Maka persoalan terbesar manusia bukan berapa banyak dunia yang telah ia kumpulkan.

Pertanyaan sesungguhnya adalah:

berapa banyak dari dunia itu yang telah ia kirimkan ke akhirat?

*KESUDAHAN ADALAH UKURAN KEMENANGAN*

Jangan pernah mengukur seseorang hanya dari keadaan hari ini.

Fir‘aun pernah memiliki kerajaan.
Qarun pernah memiliki kekayaan.
Namrud pernah memiliki kekuasaan.

Tetapi sejarah manusia tidak berhenti di istana, singgasana, rekening, atau makam.

Ada akhirat.
Ada kebangkitan.
Ada hisab.
Ada surga.
Ada neraka.

Karena itu, seorang mukmin tidak silau melihat kebatilan sedang berada di puncak. Ia juga tidak putus asa ketika kebenaran sedang diuji.

Allah telah memberikan kalimat yang cukup untuk meluruskan seluruh perspektif:

مَتَاعٌ قَلِيلٌ

Hanya kesenangan yang sedikit.

Maka bekerjalah, tetapi jangan melupakan Allah. Carilah harta, tetapi dari yang halal. Bangunlah kekuatan, tetapi gunakan untuk kebenaran. Nikmatilah karunia Allah, tetapi jangan membiarkan kenikmatan itu membuat kita melupakan Pemberi nikmat.

Sebab orang yang paling beruntung bukanlah orang yang memiliki dunia paling banyak.

Orang yang paling beruntung adalah orang yang ketika dunia berakhir, kehidupan sebenarnya justru dimulai dalam keridhaan Allah.

Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, jangan jadikan ia menguasai hati kami. Jadikanlah apa yang Engkau titipkan di tangan kami sebagai jalan menuju ridha-Mu. Karuniakan kepada kami husnul khatimah, ampunan pada hari perhitungan, keselamatan dari neraka, dan kenikmatan memandang wajah-Mu di negeri yang tidak mengenal kematian.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا مِنَ الدُّنْيَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، وَأَجِرْنَا مِنَ النَّارِ.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca