Oktober 9, 2026

Pemerintah mengatakan industri manufaktur kita “optimis.” Datanya bicara: PHK tercepat dalam 5 tahun, output ambruk

Index PMI Manufaktur Indonesia yang meringis, sumber The Economist (Bagong)

Pemerintah mengatakan industri manufaktur kita “optimis.” Datanya bicara: PHK tercepat dalam 5 tahun, output ambruk 4 bulan beruntun, dan itu semua terjadi di bulan yang sama Kemenperin keluarkan siaran pers soal “fondasi kuat.”

PMI (Purchasing Manager Indexs) Manufaktur RI pada Juni 2026: 46,9. Terjadi penurunan 3,1 dari bulan sebelumnya yang mencapai 50,0. Di bawah 50 itu bukan melambat, itu mengkerut. Pabrik-pabrik kita collectively bilang: bulan ini kita produksi lebih sedikit dari bulan lalu.

Pesanan baru anjlok paling cepat dalam setahun. Ekspor merosot paling dalam sejak Agustus 2021, tahun ketika pandemi masih menghajar rantai pasok global. Sekarang alasannya bukan pandemi. Alasannya daya beli rakyat yang keok dihajar harga.

Sementara permintaan mati suri, biaya produksi malah pesta pora. Inflasi harga input tertinggi kedua sepanjang sejarah survei sejak 2011. Rupiah lemah, bahan baku mahal, pabrik terjepit dari dua sisi sekaligus.

Ujungnya predictable: pabrik potong produksi, lalu potong orang. Laju PHK Juni ini paling cepat sejak September 2021. Tapi angka PHK nggak masuk dalam paragraf pertama siaran pers Kemenperin. Yang masuk: “optimis kembali ekspansi dalam beberapa bulan mendatang.”

Optimis itu gratis. Nggak butuh anggaran, nggak butuh rapat koordinasi lintas kementerian, cukup modal kalimat. Yang nggak gratis: buruh pabrik yang di-PHK bulan ini nggak akan menikmati “ekspansi beberapa bulan mendatang” itu karena mereka sudah nggak kerja di sana.

PMI itu indikator dini. Fungsinya sebagai pemberi sinyal sebelum data resmi keluar. Sinyalnya sudah menyala merah dua-tiga bulan terakhir.

Yang belum menyala cuma kesadaran bahwa “optimisme” bukan kebijakan industri.

Oleh : Bagong, Ragil Semar


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca