
Disampaikan Oleh : Bambang Oeban
Dua bulan lalu …
Joko Pranoto, nekad terbang dari Palembang ke Jakarta, pulang pergi dalam sehari, bersilahturahmi ke gubugku di pelosok desa Singasari, Jonggol, Bogor. Pengusaha kelapa sawit, mau buang-buang waktu, tentu ada sesuatu yang hendak dituju, bukan mencari lagi mimpi tapi hendak menafasi dunia pentas yang sudah begitu lama ditinggalkan. Aku menyebut Joko Pranoto sosok yang punya energi hidup sekeras baja, berkomitmen, bertanggungjawab, bukan saja cerdas, namun dibarengi kerja keras, pantang mundur menghadapi tantangan hidup.
Joko Pranoto meninggalkan dunia teater dan kepenyairan, bukan sebagai pembenci yang kecewa, karena dunia seni tak bisa diandalkan untuk bisa memperpanjang hidup, tapi semacam ada pemberontakan, mengajak para pelaku seni untuk melek batin bahwa hidup itu, realistis, antara imajinasi dan realisasi harus seimbang dan diujudkan.
Joko Pranoto di masa lalu, tak beda dengan seniman lain, menggauli panggung teater, bahkan bersensansi tinggi.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.