Oktober 10, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 09/06/2026

Mengapa Iran masih berdiri meski dihantam sanksi, ancaman, dan tekanan bukan hanya saat ini, tapi sudah puluhan tahun?Jawabannya  bukan semata pada rudal, bukan pada teknologi, dan bukan pula pada kekuatan ekonominya. Ada sesuatu yang lebih bermakna dan mahal dari semua itu semua, yaitu cinta tanah air, keberanian menolak tunduk pada tekanan kekuatan asing. Kepatuhan dan loyalitas rakyat kepada pemimpinnya tidak bisa serta merta di rekayasa. Itu akan terjadi dengan sendirinya ketika pemimpinnya memancarkan ketulusan, zuhud, jujur dalam pengabdian kepada rakyatnya maka rakyat otomatis akan membersamai pemimpinya.

Sebuah bangsa yang rakyatnya siap mati dan berkorban demi negaranya jauh lebih sulit dikalahkan dibanding negara yang hanya disatukan oleh keuntungan ekonomi.

Bagi bangsa yang menjadikan kedaulatan sebagai harga diri, mereka tidak bertanya, “Apa keuntungan yang saya dapat?”. Mereka akan bertanya, “Apa yang harus saya korbankan agar negeri ini tetap eksis  (merdeka) dan terjaga kedaulatan dan kehormatannya”. Sejarah berulang kali membuktikan, sebuah bangsa tidak runtuh saat kehabisan uang. Tapi sebuah bangsa runtuh ketika kehilangan jiwa dan harga dirinya.

Bagaimana dengan Indonesia. Selama pemimpin Indonesia masih mencintai tanah airnya kokoh nenjajaga kedaulatan dan keselamatannya, selama mereka menolak hidup di bawah kehendak, kendali dan tekanan asing, maka kekuatan sebesar apa pun akan kesulitan memaksa mereka Indonesia rontok. Sebaliknya akan menjadi bebek lumpuh ketika sudah tidak memiliki harga diri.

“Senjata paling ditakuti bukanlah rudal yang dapat menghancurkan kota. Senjata paling ditakuti adalah pemimpin dan rakyatnya yang tidak bisa dibeli dan tidak sudi menyerahkan tanah air / kedaulatan negara kepada siapa pun.”

Penghianat yang sangat besar, apabila pemimpin hanya karena tekanan pemilik modal perilakunya nekad menjual kedaulatan negara. Tidak memiliki harga dirinya sebagai simbol kedaulatan negara.Jangan salahkan rakyat dengan bermacam – macam teori hanya ingin memaksa rakyat patuh tanpa reserve pantulan dari kelakuan pengendali negara yang ugal – ugalan.

Dalam skala global Indonesia tidak sedang dalam perang fisik tetapi benar benar sudah masuk dalam perang cyber (atau perang siber/cyberwarfare) kadaulatan negara dipertaruhkan. Kita akan terus melihat dan mengamati nasib bangsa ini dalam menapaki sejarahnya.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca