
Kabar Jabar, 28 Mei 2026 semutibrahim.com – INDONESIA| Dalam menghadapi kompleksitas interaksi profesional dan personal di era informasi, pemahaman atas kapasitas kognitif seseorang menjadi krusial. Koningh Anwar, pakar perilaku organisasi, memberikan tinjauan mendalam mengenai bagaimana tingkat kecerdasan (IQ) seseorang tercermin melalui pola perilaku dan cara bergaul mereka di lingkungan sosial.
Menurut Koningh Anwar, kecerdasan intelektual bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kemampuan adaptasi yang termanifestasi dalam tindakan sehari-hari. Ia mengidentifikasi lima (5) indikator perilaku yang sering kali menunjukkan keterbatasan kapasitas kognitif dalam sebuah interaksi. Kesatu, Resistensi terhadap Bantuan dan Dukungan. Koningh Anwar menjelaskan bahwa individu dengan keterbatasan kognitif sering kali memandang permintaan bantuan sebagai ancaman terhadap harga diri mereka.
“Kecerdasan sejati mencakup kesadaran akan keterbatasan diri. Sebaliknya, mereka yang kurang cerdas secara kognitif cenderung memaksakan kemandirian semu karena takut terlihat lemah,” ujarnya.
Kedua, Penggunaan Retorika yang Berlebihan (Semu). Dalam pengamatannya, terdapat kecenderungan individu untuk mengompensasi kekurangan intelektual dengan menggunakan istilah-istilah kompleks yang tidak relevan. Koningh menekankan bahwa orang dengan IQ tinggi justru memiliki kemampuan untuk menyederhanakan konsep yang rumit agar dapat dipahami secara inklusif. Kamis (28/5/2026)
Ketiga, Dominasi Komunikasi dan Rendahnya Empati Sosial. Perilaku seperti memotong pembicaraan atau merendahkan orang lain sering kali merupakan mekanisme pertahanan. “Sikap defensif dan keinginan untuk selalu mendominasi pembicaraan tanpa substansi menunjukkan rendahnya kesadaran sosial, yang merupakan cerminan dari kapasitas pemrosesan informasi yang terbatas,” tambah Koningh.
Keempat, Ketidakmampuan Menerima Kritik Membangun. Koningh Anwar menyoroti bahwa fleksibilitas mental adalah ciri utama kecerdasan. Individu dengan IQ rendah cenderung bersikap reaktif dan defensif terhadap umpan balik, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan personal maupun profesional mereka.
Kelima, Kegagalan dalam Manajemen Komitmen. Indikator terakhir yang disoroti adalah ketidakmampuan dalam memprediksi kapasitas diri, yang berujung pada seringnya pelanggaran komitmen atau janji. Menurut Koningh, ini adalah hasil dari kegagalan kognitif dalam merencanakan dan memvisualisasikan konsekuensi jangka panjang.
“Penting bagi kita untuk tidak hanya mengasah IQ secara akademis, tetapi juga memahami bagaimana kecerdasan tersebut diaplikasikan dalam etika bergaul,” tutup Koningh Anwar. Ia menegaskan bahwa dengan mengenali tanda-tanda ini, organisasi maupun individu dapat membangun lingkungan komunikasi yang lebih sehat dan produktif. Barisan semut ibrahim/ Kabar Jabar/ Konsolidasi Forum/ Respect (Tim/Red)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.