Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Secara teori, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Namun dalam praktik politik modern, banyak warga merasa bahwa demokrasi justru semakin dikendalikan oleh partai politik dan elite, sementara rakyat hanya hadir sebagai objek legitimasi lima tahunan.

Data partisipasi politik menunjukkan ironi tersebut.

Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu nasional Indonesia relatif tinggi,sering berada di kisaran 70–80 persen lebih menandakan antusiasme publik untuk memilih masih besar.

Namun setelah pemilu usai, ruang keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan keputusan cenderung mengecil.

Agenda politik, pembentukan koalisi, pembagian jabatan, hingga negosiasi kebijakan banyak terjadi di ruang elite yang tertutup dari publik.

Rakyat dibutuhkan saat pemilu, namun dilupakan saat kursi sudah terisi.

Partai politik yang seharusnya menjadi jembatan aspirasi masyarakat kerap dipersepsikan lebih sibuk mengurus :

  • konsolidasi kekuasaan,
  • pembagian posisi strategis,
  • dan kepentingan elektoral jangka pendek.

Akibatnya, demokrasi terasa prosedural namun kurang substantif.

Pemilu berjalan, suara dihitung, pemerintahan terbentuk
tetapi banyak rakyat merasa aspirasi mereka tidak benar-benar menentukan arah kebijakan.

Gejala ini diperkuat oleh rendahnya kepercayaan publik terhadap partai politik dalam berbagai survei persepsi nasional dibanding institusi lain.

Meski angka tiap survei berbeda, partai politik kerap berada di kelompok bawah dalam tingkat kepercayaan lembaga publik.

Tentu, tidak berarti demokrasi gagal sepenuhnya.

Namun kritik bahwa demokrasi hanya dikuasai elite politik menunjukkan adanya persoalan representasi yang nyata.

Karena demokrasi tidak cukup hanya memberi hak memilih.

Demokrasi juga harus memberi rasa bahwa suara rakyat tetap berarti setelah pemilu selesai.

Jika tidak, maka demokrasi berisiko berubah menjadi sekadar ritual :
Rakyat datang, memilih, lalu menunggu keputusan orang lain.

Pada akhirnya,
demokrasi yang sehat bukan yang hanya ramai saat kampanye, melainkan yang tetap mendengar rakyat
bahkan setelah baliho diturunkan.

Sebab bila politik hanya menjadi milik partai dan kaum politis, maka rakyat bukan lagi pemilik demokrasi melainkan hanya penonton yang diminta tepuk tangan dari kejauhan

05.38/30 April 2026


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca