
Disampaikan Oleh : Suherman
Di panggung politik yang tak pernah benar-benar sepi,karakter sering kali lebih kuat daripada ide.Dan tanpa disadari, kita seperti menonton ulang cerita lamadengan tokoh-tokoh yang terasa akrab, meski dalam wajah yang berbeda. Ada yang seperti riuh, penuh semangat, namun kekanak-kanakan.
Berbicara cepat, bereaksi spontan,kadang lebih sibuk mencari perhatiandaripada membangun pemahaman.Keputusan diambil dengan emosi sesaat,bukan dengan kedalaman berpikir.Seolah politik adalah permainan, bukan tanggung jawab. Lalu ada yang menyerupai berwibawa, tapi terjebak dalam bayang feodalisme.
Merasa paling tahu, paling benar,dan sulit disentuh oleh kritik.Hierarki dijaga lebih tinggi daripada dialog, dan kekuasaan dipandang sebagai hak, bukan amanah.Dan di sudut lain, berdiri sosok seperti pragmatis, sederhana dalam prinsip : “ada uang, urusan jalan.”
Nilai dinegosiasikan,keputusan ditimbang bukan dari benar atau salah, tetapi dari untung atau tidak.ketiga karakter initidak berdiri sendiri. Mereka hidup berdampingan, bahkan kadang menyatu dalam satu tubuh kekuasaan.
Kekanak-kanakan dalam mengambil keputusan,feodal dalam mempertahankan posisi,dan pragmatis dalam menentukan arah.Padahal politik seharusnya dewasamampu berpikir panjang,terbuka pada kritik,dan teguh pada nilai.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya : emosi menggantikan rasionalitas,status mengalahkan kesetaraan,dan uang menyingkirkan prinsip.Ini bukan sekadar kritik,melainkan cermin.Bahwa politik tidak hanya tentang siapa yang memimpin,tetapi juga tentang karakter yang dibawa ke dalam kekuasaan.
Selama karakter itu belum berubah, maka cerita akan terus berulang dengan lakon yang sama, di panggung yang berbeda.
Dan mungkin, yang perlu kita tanyakan bukan hanya“siapa yang memimpin?” tetapi “karakter apa yang sedang kita biarkan tumbuh?”
02.30/10 April 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.