Oktober 10, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 27/03/2026

Setelah berlibur di bulan Ramadhan, Kajian Politik Merah Putih, semalam (27/03) kembali berkumpul untuk halal bihalal sekadarnya setelah selama bulan Ramadhan mereka kembali ke desanya masing – masing.

Setelah basa basi saling maaf memaafkan, bukan ceramah hanya seorang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, meminta ijin teman teman untuk bicara. Ternyata akan sedikit menguraikan tentang _Perjanjian Hudaibiyah – sentuhan dengan aroma perdamaian peran Iran dengan Amerika dan Israel.

Urian selengkapnya yang bisa direkam: Perjanjian Hudaibiyah adalah kesepakatan damai bersejarah antara kaum Muslimin dari Madinah dan kaum Quraisy Mekkah yang ditandatangani pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H (Maret 628 M) di sebuah tempat bernama Hudaibiyah, sekitar 22 km dari Mekkah.

Perjanjian ini awalnya terlihat merugikan umat Islam, namun kelak terbukti sebagai kemenangan strategis terbesar yang membuka jalan bagi penaklukan Mekkah (Fathul Makkah).

Kronologi dan Liku-Liku Peristiwa perjalanan menuju perjanjian ini penuh dengan ketegangan dan drama diplomasi.

Rasulullah SAW beserta 1.400 sahabat berangkat dari Madinah dengan niat menunaikan umrah, bukan perang. Mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan kurban. Namun, kaum Quraisy menutup akses masuk Mekkah dan mengirim kuda-kuda perang untuk menghalangi.

Terjadilah negosiasi kaum Quraisy mengirim beberapa utusan (seperti Urwah bin Mas’ud dan Mikraz bin Hafs) untuk membujuk Nabi mundur, namun semua gagal. Nabi bahkan mengirim Utsman bin Affan ke Mekkah untuk menjelaskan niat damai.

Di Hudaibiyah, pasukan Muslim kehabisan air. Rasulullah SAW menancapkan panah ke sumur kering, dan air pun memancar deras, memulihkan semangat dan rasa haus.

Negosiasi berjalan alot, kaum Quraisy akhirnya mengirim Suhail bin Amr sebagai negosiator ulung yang sangat keras. Ia menolak istilah “Rasulullah” dalam dokumen dan bersikeras pasukan Muslim harus pulang tahun itu juga.

Akhirnya terjadilah perdamaian hanya Isi Perjanjian Damai (terasa sangat merugikan). Demi kedamaian, Nabi Muhammad SAW menerima syarat-syarat yang tampak sangat berat dan membuat banyak sahabat terkejut, bahkan Umar bin Khattab marah sempat bertanya-tanya.

Gencatan Senjata 10 Tahun, disepakati kedua belah pihak sepakat tidak akan saling menyerang. Penundaan Umrah dan umat Islam harus kembali ke Madinah tahun ini, dan baru boleh melakukan umrah pada tahun berikutnya dengan tinggal di Mekkah maksimal 3 hari.

Setiap orang Quraisy yang lari ke Madinah (masuk Islam) tanpa izin wali, harus dikembalikan ke Mekkah. Sebaliknya, jika orang Muslim lari ke Mekkah (murtad), tidak perlu dikembalikan.

Banyak sahabat Nabi kecewa karena merasa mampu menggempur kaum Quraisy yang menghalanginya niat Rasulullah Saw akan ibadah Umrah ke Mekah.

Tidak ada yang mengetahui hikmah dan dampak strategis dibalik (rahasia Allah SWT) keadaan yang tetasa  merugikan, perjanjian ini justru menjadi titik balik kejayaan Islam.

Akan terjadi pengakuan kedaulatan, ini adalah pertama kalinya Quraisy secara resmi mengakui eksistensi Negara Madinah sebagai mitra sejajar. Sampai disini teman teman diskusi bertanya tanpa jawaban apakah ini akan terjadi di Palestina

Dengan berhentinya perang, Islam menyebar lebih cepat. Dalam 2 tahun setelah perjanjian, jumlah orang yang masuk Islam melebihi total jumlah muslim sebelumnya. Umat Islam punya waktu untuk memperkuat barisan dan membangun aliansi dengan kabilah lain.

Perjanjian ini akhirnya batal setelah 2 tahun karena sekutu Quraisy (Bani Bakr) menyerang sekutu Nabi (Bani Khuza’ah), yang memicu Fathul Makkah pada tahun 630 M.

Kira kira dari peran Iran dengan Amerika dan Israel hikmah apa yang akan terjadi saat ini. Dekian tahun (dekade yang panjang) negara teluk dalam kendali Amerika dan Israel. Semua tidak menyangka Iran berani melawan dominasi mereka. Apakah “kemunduran” taktis selama ini adalah langkah raksasa untuk kemenangan strategis di masa depan.

Sebuah ayat saat itu turun setelah Perjanjian Hudaibiyah, yang secara strategis menjadi pembuka jalan bagi kaum Muslimin untuk menaklukkan Mekkah (Fathu Makkah) di kemudian hari  Innā fataḥnā laka fat-ḥam mubīnā, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) kemenangan yang nyata.(QS. Al-Fath: 1 )

Kemenangan yang dimaksud bukan hanya sekadar kemenangan militer, tetapi juga kemenangan spiritual berupa pembenaran misi kerasulan Nabi Muhammad SAW dan pembukaan jalan dakwah yang lebih luas

Rasulullah SAW sangat mencintai surat ini. Beliau pernah bersabda bahwa surat yang baru turun kepadanya (Al-Fath) lebih beliau cintai daripada segala sesuatu yang disinari matahari.

Dalam diskusi Kajian Politik Merah Putih sekedar ingin melepas pikirannya, sebagai Muslim sebaiknya mengingat ayat ini sebagai dzikir dan doa untuk perjuangan kita dan perjuangan para pejuang Iran yang sedang berjihad fisabilillah (di jalan Allah), mendapatkan kemenangan yang nyata atas Ridho dan Pertolongan-Nya.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca