Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi : 21/03/2026

Satu bulan kita berpuasa, mereka yang sudah tuli, bisu, lagi buta, tidak akan ekembali”. Ketika pikiran sudah tersumbat sampah keangkuhan, kesombongan, ketamakan dan angkara murka menutup semua sumbu otak dan pikirannya, sesungguhnya Dia tetap dalam kegelapan yang nyata.

Tetapi Dia tidak pernah sadar, mereka menutup diri hadirnya hidayah karena hatinyanya sudah seperti batu. Sangat keras meskipun secara fisik hanya segumpal darah, menjadi besi karena tertimbun nafsu Iblis. Dia tidak akan pernah bisa kembali, Dia berpuasa hanya mendapatkan haus, dahaga dan lapar.

Keadaan terus berubah sesuai alam naturalnya tetapi makna kemanusiaan, kebenaran, keadilan dan kejujuran tidak akan bisa dirubah oleh manusia tanpa bersandar pada nilai pakemnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa Di Hari Raya Idul Fitri, sesuai petunjuk – Nya semestinya bisa membawa perubahan atas kesadaran dirinya kebersihan hati, sebagai pijakan untuk lebih bijak membuat kebijakan sesama anak bangsa yang mendambakan kedamaian, ketenangan dan hidup dalam kebersamaan, keadilan, kebenaran dan kejujuran untuk kebaikan hidup bersama.

Itulah gema takbir kalau bisa didengar dengan kebersihan nurani dan kesucian hati untuk hidup yang lebih memberi makna kehidupan sejati.Terus siapa saya, siapa anda dan siapa kita, semua ada pada kedalaman yang terdalam apakah memang mendapatkan hidayah untuk memakai makna *Hari Raya Idul Fitri*, itu hanya tanda waktu dari hasil terpaan akhir setelah menjalani puasa sebulan penuh.

Apa yang didapat itu urusan Tuhan Yang Maha Esa, bukan otoritas manusia menentukan baik dan buruknya. Keadaan hanya akan menerima pantulannya apakah saya dan kita memang sudah berubah menjadi energi ilahiah atau tetap sebagai batu keras masih dalam kuasa Iblis.

Dalam hidup kenegaraan dalam beberapa dekade, Indonesia telah melesat terlaku jauh dari kiblat bangsa, telah memberitahu kita kepemimpinan tanpa pakem nilai nilai ilahiyah bahkan Pancasila di lecehkan, Indonesia menjadi liar dan binal. Kering kerontang dari ingatan dan makna mendalam dari gema takbir.

Kepemimpinan bukanlah kecerobohan, keangkuhan, kebohongan, tipuan lewan gegap gempitanya pidato diatas mimbar menggema bertalu – talu berulang-ulang, bersambung – sambung hanya pepesan kosong. Rakyat hanya terdiam menerima takdirnya untuk merintih dalam kesedihan tiada harapan akhirApabila kekuasan disalahgunakan kehormatan akan hilang, kekuasaan tidak jatuh dalam sehari mereka lemah perlahan lahan, akhirnya akan menghilang.

Dihari Raya Fitri ini tetap menaruh harapan perubahan pikiran dan hati para punggawa negara, khususnya Presiden sebagai nahkoda negara, semoga telah mendapat hidayah dan pertunjuk – Nya. Lepas dari bulan Ramadhan, datanglah secercah harapan menjadi kenyataan kehidupan Bangsa Indonesia yang bisa menepi ke tepian negara Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur.

Ingatlah, kerutuhan sebuah negara itu tidak diumumkan, ini hanya akan berlaku samasa anda berbicara (berpidato) dan fakta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, paska melewati Lailatul Qadar, kalian sudah mendapatkan hidayah atau hatinya tetap membatu seperti kerasnya batu atau binatang yang tetap tuli, bisu, lagi buta.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca