Oktober 10, 2026
Tribowo Budi Santoso
https://www.facebook.com/564519173/posts/10163897309109174/?app=fbl
penulis buku, pernah jadi redaktur di sebuah percetakan

Kabar Jabar, semutibrahim.com Bayangkan ada brand gede sedang kena isu kontroversial dan dihujat netizen se-Indonesia Raya. Apa yang mereka lakukan? Mereka mungkin sewa agen PR (Public Relations) paling mahal buat bikin klarifikasi, pakai visual kece, atau bayar influencer dan buzzer buat bilang, “Sebenarnya gak gitu, kok!”

Sekarang, misal kamu sering lihat konten politik soal perang iran vs israngel/AS di timeline yang rapi kayak feed estetik tapi isinya isu full debat politik negara, itu kemungkinan besar kamu lagi papasan sama yang namanya geng Hasbara ( הַסְבָּרָה ) yang sedang melakukan operasinya dan mendapat perlawanan sengit dari netizen journalists.

Kalau ada yang belum ngeh apa makhluk Hasbara ini, bisa baca ringkasan di sini. Kalau sudah tahu, skip aja.

Dia ni kayak tim public relations raksasa milik Israngel. Secara harfiah, Hasbara artinya “penjelasan”. Tapi di dunia nyata, ini adalah strategi diplomasi publik buat “jualan” citra positif Israngel ke seluruh dunia, alat propaganda, sekaligus alat buat ngomporin lawan-lawan biar pada berantem sendiri-sendiri.

Tugas mereka tuh pertama, nyebokin taeknya Israngel (bangun legitimasi, kontra-narasi pelanggaran HAM atau genosida) dan, kedua sebagai kepanjangan bacotnya israngel untuk meramaikan hal-hal kontroversial pada geng lawan, misal memperbesar perpecehan sektarian, biar geng lawan pada berantem sendiri, atau mengadu-domba lawan via bacotan. Di sini ada 2 jenis: pembacot yang kasih umpan, yang kedua pembacot yang tugasnya bikin rage bait, tantrum, ngejek, naikin emosi. Biasane mereka berbondong-bondong muncul di kolom-kolom komentar dengan isi ketikan yang tak jarang bernada gaslighting, playing civtim, hasut dan provokatif dan nge-gass terus.

Anggota geng hasbara jenis pembacot di sini (yang warga negara konoha) kerap dijuluki sebagai yahudi pesek atau yahudi gosong.

Ada dua hal yang nyebelin jika kamu liat perdebatan lawan geng hasbara. Pertama, kamu akan liat mereka tu gemar pake teknik “whataboutism.” Ini njelehi bianget. Teknik ni sederhananya gini: Saat kamu kritik israngel, mereka akan balas, “tapi gimana dengan negara A yang….”” “Gimana dengan peristiwa tahun …?”

Tujuannya apa? Biar kamu jengkel, pecah konsentrasi dan tanpa sadar fokus permbicaraan malah bergeser sehingga geng hasbara ga perlu jawab kritik yang kamu sedang kemukakan. Intinya, ngeles kayak bajay terus-terusan. Kedua adalah selalu menggiring opini bahwa mengkritik Israngel atau anti zionisme itu sama dengan antisemitisme, biar pengkritik dicap rasis.

Selain itu, Israngel juga tahu apa yang disukai anak-anak digital native dan Gen Z yang populasinya makin banyak. Makanya, taktik mereka di medsos itu next level. Hasbara itu nggak kaku kayak gen boomer, nggak kayak bapak-bapak pejabat yang kalau bikin poster dukungan ke timnas mukanya yang ga estetik itu dipasang segede gaban, jauh lebih besar daripada wajah-wajah atlet.

Cara mengemas cerita dan berita itu penting. Untuk segmen digital native dan gen z, konten yang mudah FYP di tiktok, IG dan reel FB lebih diprioritaskan, biasanya dalam bentuk infografis, video pendek, postingan penjelasan, narasi dalam format video hiburan/entertain oleh influencer/konten kreator, dan narasi cepat setiap ada konflik. Tujuannya satu: menguasai timeline secepat mungkin dengan mengeksploitasi kecenderung netijen yang FOMO.

Analisis yang penuh istilah berat berbumbu nyinyir atau merendahkan orang yang tidak intelektual, kayak yang biasa dilakukan sebagian bapak-bapak swerius di FB, adalah ndak eye catching dan ndak cocok buat segmen anak-anak muda itu. Lha wong baca artikel 5 paragraf aja kadang dah mengeluh kepanjangan, apalagi terlalu serius. Konten serius biasanya memang diarahkan untuk orang-orang yang betah serius-serius dalam waktu lama, mungkin seperti bapak-bapak idealis berkumis berambut klimis yang level keseriusan hidupnya sama dengan level aura keseriusan tampangnya. Meski demikian, hasbara tetap memproduksi konten yang serius karena jelas perlu untuk membentuk opini terutama di kalangan intelektual, pers/media dan pengamat serta peneliti.

Di era digital, caption, hashtag, dan algoritma bisa sama kuatnya dengan propaganda klasik di masa lalu. Karena itu, memahami bagaimana narasi global itu dibentuk jadi makin penting, supaya kita ndak mudah dipermainkan. Saat situasi konflik militer sekarang ini, masuk media sosial dah kayak masuk ke arena royal battle digital. Di satu sisi, ada tim Hasbara buat bikin iklan dan gerakin akun-akun buat spam narasi mereka. Di sisi lain, ada jurnalis warga atau journalist netizen yang cuma modal HP android buatan china atau korea buat nunjukin apa yang terjadi di lapangan. Lalu terjadilah perang opini yang sangat seru.

Mengapa ada banyak yang mau jadi Hasbara? Selain alasan ideologis, ada juga alasan ekonomis: Dalam laporan Global Inventory of Organised Social Media, Israngel menggelontorkan duit 100 juta dolar (sekitar 1.4 trilyun dan duit ini hampir setara dengan duit MBG untuk 1 hari (1,2 T/hari)). Besarnya dana ini membuat geng Hasbara bisa memproduksi ribuan konten setiap bulan untuk disebar via medsos (FB, Tiktok, IG, X (Twitter), Tele, WAgroup dan sebagainya).

Hasbara yang bayaran tu biasanya punya skrip berulang. Cirinya: kalo ada puluhan akun berbeda tapi ngomongin hal yang sama persis (misal, Israngel punya hak bela diri), dengan nada dan vibe-nya mirip, itu berarti posting pesanan israngel via hasbara. Cara ini namanya astroturfing. Tujuannya jelas, yakni mereka ingin bikin kesan bahwa “semua orang berpendapat begini,” padahal itu cuma narasi yang disebar secara massif biar viral. Atau menyebarkan narasi bohong/hoax terus-menerus, berdasarkan prinsip: “Kebohongan yang diulang terus-terusan lama-lama akan dianggap kebenaran.” “Video/narasi hoax yang diulang terus-terusan lama-lama akan dianggap fakta realita”

Terkadang untuk kepentingan ini, Hasbara menggunakan akun centang biru supaya view dan reach-nya lebih luas. Jadi kalo ada akun verified centang biru, jangan mudah percaya dia itu akun terpercaya (verified). Lha wong centang biru bisa kita dapatkan dengan mbayar kok.

Pada akhirnya, pertarungan Hasbara vs netizen journalism di medsos tidak akan pernah selesai selama ada duitnya, dan perang digital ini mengubah cara bagaimana konflik dipahami warga atau netijen biasa. Narasi politik sekarang masuk lewat influence, selebgram, content creator, yang dapat materi, briefing, atau bahkan diajak kolaborasi untuk menyampaikan perspektif tertentu.

Pesan politik jadi terasa lebih santai, lebih lifestyle, dan tampak organik. Akibatnya, netizen yang tadinya cuma mau lihat konten hiburan tiba-tiba malah ketemu geopolitik di feed mereka. Terus abis tu twitter, TikTok, Instagram, bahkan kolom komentar YouTube dan FB bisa berubah jadi arena perang narasi global. Bayangkan jika kamu sebenere cuma pengen liat konten ciwi-ciwi joged, tapi algoritma di feedmu sudah berubah dan menjadikan feed mu penuh kabar politik gara-gara perang hasbara dan netijen? Kan asu banget yak.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca