Oktober 10, 2026
Foto : Syaikh Ali Khamenei saat menempuh

Disampaikan Oleh : Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik

Syaikh Ali Hosseini Khamenei, atau Rakyat Iran menyebutnya dengan gelar Imam Khamenei, adalah salah satu sosok pemimpin yang merepresentasikan hadits “Al Imamu Junnatun” (Imam/pemimpin laksana perisai/tameng). Beliau adalah pemimpin yang ‘pasang badan’, menjadi perisai untuk melindungi rakyatnya.

Pada saat beliau dikabarkan syahid oleh serangan aliansi iblis Amerika & Zionis Israel 28 Februari 2026 lalu, ternyata ada kisah inspiratif sebelum sang Imam Iran tersebut menjemput Syahadah¹.

Sebenarnya, pasukan elit Iran, yakni Garda Revolusi Islam (IRGC/Islamic Revolutionary Guard Corps), telah mengetahui rencana serangan Amerika dan Israel yang menarget komplek kantor Syaikh Ali Khamenei. Lalu, mereka menawarkan kepada sang Imam untuk dievakuasi.

Sang imam lantas bertanya retoris : “Apakan kalian sudah menyiapkan rencana evakuasi untuk 90 juta rakyat Iran ?” Tanya sang Imam.

“Wahai Imam, Kalau begitu kami siapkan bungker untuk keselamatan tuan” jawab pasukan elit Iran.”Apakah kalian, telah menyiapkan bunker untuk keselamatan 90 juta rakyat Iran?” tanya kembali sang imam secara retoris.

Lalu, terjadilah peristiwa yang dikehendaki Allah SWT. Sang Imam menjemput Syahadah bersama sejumlah anggota keluarganya, menjadi martir untuk melindungi rakyatnya. Subhanallah.

Ini adalah karakter pemimpin sejati sesuai ajaran Islam. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw yang menyatakan :

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya Imam (Khalifah/Pemimpin tertinggi umat Islam) itu adalah perisai, yang orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan kekuasaannya.”² Seorang pemimpin harus menjadi pelindung rakyatnya. Hadir dan membersamai rakyat, bukan malah menumbalkan rakyat untuk melindungi kepentingan pribadi dan keluarganya.

Pemimpin harus siap pasang badan, terdepan melindungi rakyatnya. Bukan malah bersembunyi di belakang, dengan menumbalkan rakyatnya.

Berbeda dengan Imam Khamenei, saat ini Benyamin Netanyahu perdana menteri Israel kabarnya diamankan pasukan elit Israel dalam sebuah bungker. Bungker yang dikabarkan dapat menjamin keselamatan dirinya dan keluarganya.

Walaupun pasca serangan Iran yang menargetkan komplek kantor perdana menteri zionis ini, belum ada kabar tentang keselamatan Netanyahu. Namun yang jelas, Netanyahu lebih memilih menyelamatkan dirinya ketimbang melindungi rakyatnya di Israel.

Karakter culas Netanyahu ini, yakni pemimpin yang mau cari aman sendiri, pemimpin yang menumbalkan rakyatnya, sayangnya lazim dipraktikan oleh sejumlah pemimpin-pemimpin di negeri Islam, baik dalam level negara, organisasi hingga gerakan Islam.

Pemimpin yang pengecut, yang hanya cari aman untuk dirinya sendiri, dengan dalih keamanan dirinya lebih penting bagi rakyat atau jamaahnya, ketimbang sikapnya yang teguh pasang badan, hidup dan mati bersama rakyatnya. Pemimpin munafik, yang selalu mengambil antrian mati paling belakang, dengan mengumpan rakyatnya untuk maju terlebih dahulu mati di medan juang.

Pemimpin yang banyak hidup dalam keraguan dan selalu diliputi rasa takut. Pemimpin yang lebih memilih keamanan dirinya, ketimbang keamanan perjuangan dan rakyat yang berjuang bersamanya.

Kembali ke Syaikh Ali Khamenei. Kisah inspiratif lain dari beliau adalah, ketika beliau dimintai doa oleh seorang anak remaja, yang menginginkan mati syahid. Lalu beliau berujar : “Mati Syahid…? Tidakkah lebih baik, engkau tumbuh besar dan dewasa, menguasai banyak ilmu, memberikan banyak manfaat bagi umat, usiamu mencapai 80 hingga 90 tahun, lalu engkau syahid” (Video beliau terkait hal ini, masih banyak beredar di sosmed).

Subhanallah ! Itu pula yang saat ini terjadi pada beliau. Dalam umur 86 tahun, akhirnya beliau menutup usia dengan cara paling terhormat dan sangat mulia : mati syahid dalam membela rakyat dan agamanya.

Dan sepanjang perjalanan hidup beliau, selalu dipenuhi dengan ilmu dan manfaat bagi umat Islam, bukan hanya untuk rakyat Iran. Beliau lahir pada 19 April 1939 dan menjemput Syahadah pada tanggal 28 Februari 2026. Semoga Allah SWT menyayangi beliau, Amien.

1. Syahadah atau mati syahid adalah menjemput kematian terbunuh karena berjuang membela agama Allah.2. HR. Bukhari dan Muslim.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca