Oktober 9, 2026
Gambar Adab terhadap Guru dan orang yang lebih tua

Disampaikan Oleh : Suherman

Kita hidup di zaman ketika gelar akademik lebih dihormati daripada akhlak.Orang dinilai dari titel di belakang namanya, bukan dari integritas di dalam dirinya.Pendidikan katanya mencerdaskan. Tapi lihatlah realitas : yang tumbuh bukan keberanian moral, melainkan kepiawaian retorika.Yang berkembang bukan keteguhan prinsip, melainkan kelenturan membenarkan kepentingan.

Sekolah dan kampus berubah menjadi pabrik legitimasi sosial. Lulusannya tidak selalu menjadi pembela kebenaran sebagian justru menjadi arsitek pembenaran.

Mereka tahu aturan, tapi piawai menghindarinya. Mereka paham etika, tapi lihai menafsirkannya sesuai kebutuhan. Mereka belajar hukum, tapi menjadikan hukum sebagai alat, bukan pedoman. Inilah tragedi pendidikan modern:ia mencetak elit, tetapi gagal membangun karakter. Kampus yang seharusnya menjadi ruang kritik berubah menjadi ruang kompromi. Mahasiswa yang dulu dikenal sebagai agen perubahan, kini sering dipaksa realistis sebelum sempat idealis.

Dosen yang mengajarkan integritas kadang hidup dalam sistem yang memaksa kompromi dan dari sanalah lahir generasi yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral. Kita tidak kekurangan orang ber-IPK tinggi. Kita kekurangan orang yang berani berkata : “Ini salah”.

Ketika pendidikan kehilangan ruhnya, maka ia hanya melahirkan manusia yang pandai menghitung untung-rugi, bukan benar-salah”.

Ketika nalar sehat dikalahkan oleh ambisi, maka aturan hanyalah formalitas. Lebih mengkhawatirkan lagi, pendidikan justru bisa menjadi alat normalisasi penyimpangan. Yang dulu dianggap pelanggaran, kini disebut strategi. Yang dulu dianggap manipulasi, kini disebut kecerdikan. Yang dulu dianggap salah, kini dipoles menjadi kebijakan.

Jika pendidikan tidak lagi menjadi benteng moral, maka ia berubah menjadi mesin produksi elit yang fasih berbicara tentang rakyat, tetapi jauh dari empati terhadap rakyat. Pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan intelektual.Ia harus menumbuhkan keberanian moral, rasa malu, dan tanggung jawab. Tanpa itu, bangsa ini akan dipenuhi orang-orang pintar tetapi kehilangan manusia yang benar dan ketika orang pintar kehilangan nurani, aturan tinggal tulisan dan nalar sehat hanya menjadi nostalgia.

11.55/22 Februari 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca