
Disampaikan Oleh : Suherman
Setiap bangsa menggantungkan masa depannya pada pendidikan. Sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi ruang pembentukan kualitas sumber daya manusia. Di sanalah kecerdasan dipupuk, karakter dibentuk, dan arah peradaban ditentukan.
Namun pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah sistem pendidikan kita benar-benar menghasilkan kecerdasan yang memajukan bangsa, atau justru tanpa sadar mereproduksi kebodohan struktural?
Capaian yang Masih Tertinggal
Secara kuantitatif, Indonesia telah memperluas akses pendidikan secara signifikan. Angka partisipasi sekolah meningkat, dan anggaran pendidikan dalam APBN secara konstitusional dialokasikan minimal 20 persen. Namun kualitas menjadi persoalan serius.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan bahwa skor literasi membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia secara konsisten berada di bawah rata-rata OECD.
Dalam PISA 2022 :
– Skor matematika Indonesia sekitar 366 (rata-rata OECD ±472)
– Skor membaca sekitar 359 (rata-rata OECD ±476)
– Skor sains sekitar 383 (rata-rata OECD ±485)
Artinya, mayoritas siswa Indonesia belum mencapai level kompetensi minimum dalam memahami teks kompleks, memecahkan masalah numerik, dan berpikir ilmiah.
Anggaran Besar, Output Belum Optimal
Indonesia mengalokasikan sekitar 20% APBN untuk pendidikan, yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Secara komitmen fiskal, ini bukan angka kecil.
Namun belanja besar belum otomatis menghasilkan kualitas tinggi.
Sebagian besar anggaran pendidikan terserap untuk belanja pegawai (gaji dan tunjangan), sementara peningkatan mutu pembelajaran pelatihan guru, inovasi kurikulum, riset pendidikan belum sepenuhnya optimal.
Negara membiayai sistemnya, tetapi sistem belum sepenuhnya mentransformasi hasilnya.
Literasi dan Numerasi sebagai Fondasi Kemajuan
Bank Dunia dalam berbagai laporan Human Capital Index menempatkan kualitas pembelajaran Indonesia masih di bawah potensi optimalnya. Learning poverty yakni ketidakmampuan anak usia 10 tahun memahami bacaan sederhana, menjadi indikator yang mengkhawatirkan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketika literasi lemah:
– Kemampuan berpikir kritis rendah
– Daya saing tenaga kerja terbatas
– Produktivitas nasional stagnan
Ekonomi modern tidak hanya membutuhkan pekerja, tetapi pemikir dan inovator.
Jika pendidikan hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi analitis, negara akan sulit melompat ke ekonomi berbasis inovasi.
Kecerdasan Akademik vs Kecerdasan Karakter
Masalah lain bukan hanya soal skor akademik. Pendidikan juga harus membentuk integritas, etika, dan tanggung jawab sosial.
Korupsi yang masih marak menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa karakter tidak cukup.
Jika sekolah hanya melatih siswa menghafal, bukan memahami; mengejar nilai, bukan makna; mengejar ijazah, bukan kompetensi maka pendidikan gagal melahirkan manusia utuh.
Kebodohan dalam konteks ini bukan berarti tidak sekolah, tetapi tidak mampu berpikir kritis, tidak berintegritas, dan mudah terjebak dalam manipulasi.
Dampak terhadap Kemajuan Negara
Negara maju bertumpu pada :
– Produktivitas tinggi
– Inovasi teknologi
– Riset dan pengembangan kuat
Semua itu berakar pada sistem pendidikan berkualitas. Ketika kualitas pendidikan stagnan, ekonomi cenderung terjebak pada sektor berbasis sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Indonesia memiliki bonus demografi. Namun tanpa peningkatan kualitas pendidikan, bonus itu bisa berubah menjadi beban demografi.
Reformasi yang Dibutuhkan
Pendidikan perlu beralih dari sekadar perluasan akses menuju peningkatan mutu yang nyata :
1. Penguatan literasi dan numerasi dasar sejak pendidikan dasar.
2. Pelatihan guru berbasis kompetensi, bukan administratif.
3. Evaluasi berbasis kemampuan berpikir kritis, bukan hafalan.
4. Integrasi pendidikan karakter secara nyata dalam praktik sekolah.
Reformasi tidak cukup pada kurikulum, tetapi harus menyentuh kualitas pengajaran.
Penutup
Pendidikan bisa menjadi mesin kemajuan, tetapi juga bisa menjadi pabrik kebodohan jika tidak dirancang dengan visi jangka panjang.
Data menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam kualitas pembelajaran. Anggaran besar sudah ada. Akses sudah meluas. Namun kualitas harus menjadi prioritas utama.
Karena bangsa tidak maju hanya dengan sekolah yang banyak,
tetapi dengan manusia yang benar-benar cerdas cerdas pikirannya, cerdas moralnya, dan cerdas visinya.
Dan di situlah masa depan ditentukan.
06.46/18 Februari 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.