
Disampaikan Oleh : Madi Saputra
Sejarah sering kali memiliki dua wajah : wajah yang tampil di panggung seremoni, dan wajah yang bergerak di lorong-lorong gelap operasi intelijen.
Publik hari ini mungkin terkejut melihat Presiden Prabowo Subianto begitu berani mengambil langkah “tidak populer” dengan masuk ke dalam Board of Peace (BoP). Namun, bagi mata yang terlatih membaca sandhi yudha (perang rahasia), langkah ini hanyalah puncak gunung es dari operasi panjang yang telah dimulai lebih dari tiga dekade lalu.
Prabowo tidak “mendadak Palestina”. Darah perjuangan itu telah mengalir dalam DNA karir militernya sejak era Orde Baru. Mari kita buka arsip-arsip senyap itu.
I. ERA SOEHARTO DAN KOPASSUS : The Clandestine Training (1980-an – 1998)
Di bawah doktrin Presiden Soeharto, Indonesia adalah pendukung fanatik kemerdekaan Palestina. Namun, Pak Harto adalah ahli strategi yang licin; beliau tahu kapan harus berteriak di PBB, dan kapan harus bergerak di bawah tanah.
Di sinilah peran Prabowo Subianto, sang “Rising Star” Baret Merah. Kawah Candradimuka untuk Pejuang Asing :
Dalam dunia intelijen militer, adalah rahasia umum bahwa Indonesia—melalui mekanisme non-state actor atau operasi tertutup—pernah menjadi tuan rumah pelatihan bagi para pejuang dari negara-negara sahabat yang tertindas.
Prabowo, sebagai Danjen Kopassus, memegang kendali atas pusat pendidikan pasukan khusus. Ada indikasi kuat secara historis bahwa perwira-perwira muda Palestina (dari faksi Fatah/PLO di era Yasser Arafat) pernah mencicipi disiplin militer di hutan-hutan Indonesia. Ini bukan pelatihan terorisme, melainkan Capacity Building militer resmi untuk sebuah negara yang sedang berjuang berdiri.
Operasi “Intel-to-Intel” : Di era 90-an, Prabowo membangun jejaring intelijen yang kuat dengan dunia Arab. Hubungannya bukan sekadar diplomatik, tapi personal. Beliau memahami bahwa musuh Israel (Mossad) bermain sangat kotor. Maka, untuk membantu Palestina, Indonesia tidak bisa hanya kirim selimut; Indonesia harus mengirim “pengetahuan” tentang perang asimetris. Prabowo adalah arsitek dari transfer pengetahuan ini.
II. KONEKSI YORDANIA : Koridor Strategis “King & General”
Salah satu aset intelijen terbesar Prabowo yang jarang dimiliki pemimpin lain adalah persahabatan “darah” dengan Raja Abdullah II dari Yordania.
Pintu Gerbang Tepi Barat : Yordania adalah paru-paru bagi Tepi Barat (West Bank). Tanpa restu Yordania, bantuan sulit masuk.
The Brotherhood : Persahabatan Prabowo dan Abdullah II terjalin sejak mereka sama-sama perwira muda di sekolah militer Barat. Ini adalah High-Value Asset. Ketika Prabowo diasingkan pasca-1998, Yordania-lah yang menampungnya.
Analisis Strategis : Prabowo menggunakan koneksi ini bukan untuk jalan-jalan, tapi sebagai Jalur Logistik Kedaruratan. Saat menjabat Menhan, Prabowo bisa dengan mudah menelepon Raja Yordania untuk air-drop (penerjunan) bantuan ke Gaza, sesuatu yang birokrasinya bisa memakan waktu berbulan-bulan bagi negara lain. Ini adalah bukti Ukhuwah yang taktis, bukan retoris.
III. ERA MENHAN (2019-2024) : Dari Retorika ke Logistik Tempur
Saat menjadi Menteri Pertahanan, Prabowo mengubah pola bantuan Indonesia dari sekadar donasi uang menjadi Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Pengiriman KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 : Mengirim kapal rumah sakit melintasi samudra menuju zona perang Laut Merah yang dikuasai armada Barat dan Houthi bukan perkara sepele. Ini adalah Show of Force yang terukur. Prabowo ingin menunjukkan bahwa militer Indonesia hadir secara fisik di dekat Palestina.
Bantuan via Udara (C-130 Hercules) : Prabowo memerintahkan pengiriman bantuan via udara (airdrop) bekerjasama dengan Angkatan Udara Yordania. Secara siyasah, ini mengirim sinyal ke Israel: “Langit Gaza bukan milik kalian sepenuhnya.”
Beasiswa Kadet Palestina di Unhan : Ini adalah langkah paling visioner. Prabowo memberikan beasiswa penuh kepada puluhan mahasiswa Palestina untuk belajar di Universitas Pertahanan (Unhan).
Analisis Jangka Panjang : Prabowo tidak hanya memberi ikan, tapi memberi kail. Dia sedang mendidik calon-calon jenderal, insinyur, dan dokter militer Palestina masa depan. 20 tahun lagi, lulusan Unhan ini yang akan memimpin Palestina. Ini adalah investasi Nation Building yang jenius.
IV. PERSPEKTIF SPIRITUAL & FIQH: I’dadul Quwwah
Apa yang dilakukan Prabowo selaras dengan perintah Al-Qur’an dalam Surah Al-Anfal ayat 60: “Wa a’iddu lahum mastatha’tum min quwwah…” (Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…).
Prabowo paham, Palestina tidak akan merdeka hanya dengan doa dan kutukan di mimbar PBB. Mereka butuh Quwwah (Kekuatan). Melatih militer mereka adalah Quwwah, Mendidik sarjana mereka di Unhan adalah Quwwah, Membangun jaringan logistik via Yordania adalah Quwwah.
Keterlibatan Prabowo bukan sebuah kebetulan elektoral. Ini adalah sebuah Grand Design yang telah ia rajut sejak masih berseragam loreng hingga kini berjas kepresidenan.
Jika hari ini beliau masuk ke dalam Board of Peace, saya membacanya sebagai babak baru dari strategi panjang tersebut. Beliau tahu, untuk memenangkan perang ini, kita tidak bisa selamanya bergerilya di hutan. Ada kalanya kita harus masuk ke istana musuh, duduk di meja mereka, menatap mata mereka, dan memastikan—dengan segala cara—bahwa saudara kita di Palestina tidak punah dari muka bumi.
Prabowo adalah seorang “Prajurit Senyap”. Dia tidak butuh tepuk tangan kita. Dia butuh doa kita agar langkah kudanya di papan catur geopolitik yang licin ini tidak tergelincir.
Wallahu a’lam bish-shawab.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.