Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : Abdul Rachim, HKA, (Bambang Oeban)

Peradaban, bukan sekadar gedung tinggi atau podium berlapis karpet merah. Ia hidup di sela ingatan, di lipatan sejarah yang sering kita setrika agar tampak rapi, padahal masih basah oleh keringat leluhur.

Pada 12 Januari 2026, tanggal berdiri tegak seperti tonggak, bukan tongkat komando, bukan pula tongkat sakti, melainkan tonggak peradaban yang menyatukan RI 1 dan Sultan, dua wajah kekuasaan yang lahir dari rahim berbeda namun menyusu pada ibu yang sama : INDONESIA.

Sejarah ibarat budaya, kata orang tua di beranda
rumah panggung : ‘Tak lekang karena panas,
tak lapuk karena hujan.” ia tidak minta dielu-elukan, tidak juga merengek minta diingat, tetapi ia akan selalu hadir sebagai penyeimbang, seperti rem pada kendaraan kekuasaan yang kadang lupa bahwa jalan tak selalu lurus.

Sejarah tak pernah pensiun. Ia hanya berganti seragam. Kadang jadi prasasti, kadang jadi cerita lisan, kadang hanya jadi bisik-bisik di antara kerabat kesultanan yang masih percaya bahwa tanah bukan sekadar peta dan adat bukan sekadar aksesoris seremoni.

Di tengah perkembangan zaman yang melaju seperti kereta cepat tanpa tiket pulang, kita sering berkata: “Tak bisa ditolak” benar tapi sejarah pun tak bisa diusir hanya karena dianggap menghambat investasi. Maka di sinilah local wisdom bukan jargon seminar, bukan catatan kaki pidato, melainkan cara berpikir : bahwa membangun daerah tanpa memahami ruh daerah sama saja menanam pohon tanpa mengerti arah angin.

Kesultanan Kutai, bukan sekadar nama dalam buku IPS, bukan pula ornamen wisata, melainkan pintu gerbang terakhir penjaga budaya dan benteng sunyi bagi masyarakat adat lainnya.
Ia bukan musuh negara, bukan pula saingan republik, ia adalah saudara tua yang mengingatkan adiknya agar tidak lupa asal-usul.

Sejarah selalu berulang, kata mereka yang sabar. Ia berulang bukan karena dendam, tetapi karena manusia terlalu sering lupa. Dan lupa, adalah penyakit paling kronis dalam peradaban.
Mari kita buka lembar yang sering disembunyikan, bukan untuk menuding, bukan untuk menghakimi, melainkan agar terang dan tidak lagi remang.

Demi meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya, Sultan Aji Muhammad sulaiman pernah membuka pintu kerjasama. Bukan menjual negeri, bukan menggadaikan martabat, tetapi membaca zaman dengan kecerdasan seorang pemimpin adat.

Fakta tak bisa dipungkiri :

Pertamina, yang dulu bernama BPM Belanda, diizinkan menambang minyak di Balikpapan. Kontraktornya? Mathilda dan J.H. Menten,
di Sanga-Sanga, tahun 1898. Angka-angka ini bukan gosip, bukan hoaks media sosial, melainkan data sejarah yang terlalu lama tidur di lemari arsip.

Tahun 1886, konsesi batu bara diberikan kepada Oost Borneo Maatschappij (OBM) di Loa Kulu, mensuplai batu bara untuk pembangkit listrik di Tenggarong dan Samarinda.

Listrik menyala, peradaban bergerak dan sejarah mencatat tanpa perlu tepuk tangan. Bidang perkebunan karet, pertanian dan kayu dikelola oleh NVD – BPM. Lagi-lagi, bukan cerita baru hanya cerita lama yang jarang diulang.

Lalu 1968, lahirlah Pertamina, integrasi dari Pertamin dan Permina, anak kandung Republik yang darah sejarahnya juga mengalir dari bumi Kalimantan Timur.

Masih banyak kisah tersembunyi yang tak sempat jadi buku teks, yang tak sempat jadi museum, yang hanya hidup dalam ingatan segelintir orang yang menolak lupa.

Maka jika hari ini terjadi kelalaian, jangan buru-buru menunjuk satu jari, karena empat jari lain mengarah ke diri sendiri. Ketidaktahuan adalah ibu dari kelalaian, dan kelalaian sering lahir secara berjamaah. Antara KSP, Pertamina, protokol Pemprov, dan Pemkot, semua sibuk dengan jadwal, sibuk dengan rundown, sibuk dengan posisi berdiri, hingga lupa posisi sejarah.

Tak satu pun mampu sepenuhnya menangkap
alam pikir Yang Mulia Presiden. Padahal kita tahu, RI 1 bukan pemimpin ecek-ecek, bukan pembaca cepat tanpa pemahaman, ia dikenal sangat menghargai sejarah dan pemangku budaya. Namun apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur, dan bubur tak perlu dimaki, cukup diberi kecap agar bisa ditelan dengan bijak.

Apakah kita harus menghujat…? Memaki…? Membakar emos di linimasa…? Tidak… karena kemarahan tak pernah menyelesaikan kelalaian administratif. Yang Mulia Sultan Kutai pun pasti memaklumi, bukan karena lemah tetapi karena arif karena beliau tahu, niat buruk dan niat lalai adalah dua hal berbeda. Banyak yang sudah mengingatkan, melalui surat, tulisan media, hingga video.

Namun sejarah memang sering kalah cepat oleh agenda protokoler. Janganlah peristiwa ini menjadi pemicu ketidakharmonisan anak bangsa.
Karena harmoni lebih mahal daripada ego institusi.

Kami yakin, semua pihak sudah saling menegur, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk kebaikan bersama. Sebab kehati-hatian adalah kewajiban setiap kali.

Yang Mulia Presiden hadir, bukan hanya soal
pengamanan fisik, tetapi juga pengamanan makna. Sebab akar Pancasila adalah budaya, bukan beton, bukan baja, bukan spreadsheet. Iatumbuh dari nilai, adat, dan kearifan lokal yang tak bisa dipindahkan dengan satu klik.

Maka, mari kita berdamai dengan saudara kita
yang lalai akan masa lalu. Bukan dengan memaafkan tanpa belajar, tetapi dengan mengingatkan tanpa menyakiti karena bangsa besar bukan bangsa yang tak pernah salah, melainkan bangsa yang mau belajar dari kesalahan bersama. Jangan pernah berhenti
saling mengingatkan tentang cerita leluhur. Bukan untuk hidup di masa lalu, tetapi agar masa depan tak kehilangan arah. Supaya NKRI tetap utuh dan kuat, bukan hanya di peta, tetapi di hati.

Dan kelak, ketika anak cucu kita menyambut Indonesia Emas, mereka tidak hanya mewarisi gedung-gedung tinggi, tetapi juga kesadaran sejarah yang matang. Karena peradaban sejati bukan soal siapa berdiri di depan, melainkan siapa yang tidak dilupakan di belakang.

Rabu, 14 Januari 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca