Oktober 10, 2026
Foto : Lalu Muhammad Zohri lari estafet 4×100 meter putra di Asian Games 2018

Disampaikan Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H. Advokat Koordinator Non Litigasi Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi & Aktivis

Suatu ketika, penulis bersama Bang Abraham Samad (Mantan Ketua KPK), Bang Petrus Selestinus (Ketua TPDI yang juga Koordinator Litigasi Tim Advokasi), Bang Syamsir Djalil (Advokat Pembela HAM), berdiskusi tentang bagaimana pikiran dan perasan menjadi seorang kakek. Karena Bang Syamsir Djalil dan Bang Petrus sudah mencapai status sebagai kakek. Meski telah mencapai status kakek, keduanya sepakat bahwa untuk urusan perjuangan, membela kebenaran dan menegakkan keadilan, tak ada istilah berstatus kakek. Setiap diri harus selalu berjiwa muda dan bersemangat untuk terus berjuang, tak ada kata pensiun, tak ada kata lelah apalagi menyerah.

Penulis mendapatkan wejangan, bahwa ketika orangtua telah menikahkan anaknya bukan berarti selesai untuk memikirkan anak. Pikiran terhadap anak, akan terus hadir hingga berganti memikirkan cucu. Jadi, bukan berarti lega dan tuntas segala urusan. Pagi ini (8/1), ternyata salah satu anggota tim kami yakni Bang Baharu Zaman juga akhirnya sampai pada status kakek, atau dalam istilah wong Palembang akhirnya menjadi Datuk.

Bang Bahar dapat karunia sangat besar, karena lahir 3 orang cucu sekaligus, 2 laki laki dan 1 perempuan.

Tentu saja, kebahagiaan itu menyelimuti segenap keluarga dan seluruh tim advokasi. Didalam GWA tim, berulangkali ucapan selamat dan saling syukur dicurahkan.

Namun, ada juga kalimat permintaan maaf sekaligus minta izin. Ya, Bang Bahar mohon izin karena hari ini fokus menemani cucu dan tidak bisa membersamai tim untuk konpers di Polda, sehubungan dengan laporan KMRT Roy Suryo Notodiprojo terhadap 7 pihak dari kubu Jokowi yang mengeluarkan ujaran fitnah, cacian, makian dan hinaan. Ya, tentu saja kami mengizinkannya. Namun, ada hikmah penting lainnya yang perlu penulis uraikan dalam artikel ini. Yakni, hakekat hidup tak sekedar melanjutkan estafet kehidupan melainkan juga melanjutkan estafet perjuangan.

Suka pada lawan jenis (pria terhadap wanita atau sebaliknya), adalah karunia dari Allah SWT yang merupakan manifestasi dari naluri Gharizatun Na’u (naluri melestarikan hidup). Tujuannya, untuk melestarikan keturunan, agar selalu ada hamba Allah SWT yang menyembah-Nya.

Coba bayangkan, jika tak ada naluri ini. Adam tak akan suka pada hawa. Tak akan ada anak cucu Adam yang melanjutkan kehidupan dan memakmurkan bumi.

Dalam konteks dunia aktivisme, generasi yang lahir bukan saja untuk melestarikan kehidupan. Bukan sekedar untuk melanjutkan estafet kehidupan, melainkan juga untuk melanjutkan estafet perjuangan.

Para pendahulu kita, telah mengajari bagaimana mereka berjuang dan merebut kemerdekaan. Generasi kita, tentu saja harus melanjutkan estafet perjuangan dengan mengontrol dan mengarahkan negeri ini menuju arah yang lebih baik. Bukan sekedar numpang makan dan merusak negeri ini.

Dalam konteks perjuangan melawan ijazah palsu, kami di Tim ini sejatinya sedang melanjutkan estafet perjuangan. Agar negeri ini tidak dirusak, bukan saja oleh dokumen palsu melainkan juga oleh kebijakan dan keputusan palsu yang menyengsarakan segenap rakyat.

Dalam konteks itulah, rasanya tidak berlebihan jika kami menyatakan perjuangan kami adalah bagian dari perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tidak keliru pula, jika kami mohon doa dan dukungan seluruh rakyat untuk menuntaskan perjuangan ini.

Kembali ke soal kelahiran cucu Bang Baharu Zaman, Selamat ya, semoga cucunya menjadi anak yang Sholeh dan Sholihah, Amien.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca