Oktober 10, 2026

Kisah Isa Al-Masih (Bag #4): MAKAR KAUM KAFIR DAN PENYELAMATAN ILAHI

Oleh: M. Syarif Hidayatullah, S.Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ . إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Dan (orang-orang kafir) itu membuat makar, lalu Allah membalas makar (mereka). Dan Allah sebaik-baik pembalas makar. (Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa! Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku, serta membersihkan kamu dari (tuduhan) orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang kafir sampai hari Kiamat.'” (QS. Ali ‘Imran: 54-55).

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا . بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.’ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 157-158)

Puncak dari perlawanan kaum yang ingkar terhadap kebenaran seringkali berwujud konspirasi gelap untuk menghabisi nyawa pembawa cahaya itu sendiri. Demikianlah yang terjadi pada Nabi Isa ‘alaihissalam. Mukjizat-mukjizatnya yang gemilang, keteguhannya dalam berdakwah, dan semakin bertambahnya pengikut justru membakar api kebencian di hati para pemuka Bani Israil yang merasa otoritas mereka terancam. Dalam kegelapan malam, mereka merancang sebuah “final solution“: membunuh Sang Mesias.

Namun, di balik segala kelicikan dan kekuatan manusia, ada Dzat yang Maha Merancang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ” (“Dan mereka membuat makar, lalu Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar”). Ayat ini menjadi penegas bahwa tidak ada satu pun konspirasi, sehebat apapun, yang dapat mengalahkan rencana Allah. Makar mereka adalah kejahatan yang terbatas, sedangkan “makar” Allah adalah bagian dari kebijaksanaan-Nya yang sempurna untuk mengalahkan kejahatan itu sendiri.

Kisah agung ini mengungkap tiga kebenaran besar:

Pertama: Fakta Sejarah yang diputarbalikkan. Kaum kafir dengan bangga menyebarkan propaganda: “إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ” (“Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”).

Klaim ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an bukan sebagai pengakuan, melainkan sebagai bukti kedustaan mereka. Allah membantahnya dengan tegas: “وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ” (“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka”).

Inilah inti dari penyelamatan ilahi. Ulama tafsir seperti Ibnu Abbas dan Qatadah menjelaskan bahwa Allah mengubah wajah seorang pengkhianat dari kalangan hawariyyun—yang dikenal sebagai Yudas Iskariot—menjadi persis seperti wajah Nabi Isa. Orang itulah yang kemudian ditangkap dan disalib, sementara Nabi Isa diselamatkan oleh Allah. Penjelasan ini, sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabari, menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala bentuk persepsi dan realitas.

Kedua: Keraguan Abadi dalam Sejarah
Allah berfirman: “إِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ” (“Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu“). Ayat ini mengungkap sebuah fakta sosiologis dan historis yang mendalam. Sejak peristiwa itu terjadi, hingga ribuan tahun setelahnya, tidak ada kepastian sejarawan mana pun—bahkan di kalangan ahli kitab—yang dapat membuktikan secara meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu. Berbagai teori dan versi beredar, membuktikan bahwa Allah telah menanamkan keraguan abadi sebagai bukti kebenaran Islam. Mereka hanya mengikuti “اتِّبَاعَ الظَّنِّ” (mengikuti persangkaan belaka), sebuah kritik pedas terhadap klaim-klaim dogmatis tanpa dasar ilmu yang pasti.

Ketiga: Pengangkatan sebagai Bentuk Pemuliaan.
Allah berfirman: “بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ” (“Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya”). Inilah kebenaran sejati yang menjadi keyakinan Islam. Nabi Isa tidak dibunuh, tidak disalib, tetapi diangkat oleh Allah dalam keadaan hidup, jiwa dan raganya, ke langit. Ayat sebelumnya (Ali ‘Imran: 55) menjelaskan maksud pengangkatan ini:

· “إِنِّي مُتَوَفِّيكَ“

 (“Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu”). Kata mutawaffika di sini dipahami oleh mayoritas ulama sebagai “mengambilmu” dalam keadaan tidur atau pengambilan yang sempurna, bukan kematian, karena kematian sejati Nabi Isa akan terjadi setelah beliau turun ke bumi di akhir zaman.

· “وَرَافِعُكَ إِلَيَّ”

(“dan mengangkat kamu kepada-Ku”). Sebuah kemuliaan tertinggi yang Allah berikan kepada hamba pilihan-Nya.

· “وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا”

(“serta membersihkan kamu dari tuduhan orang-orang kafir”). Allah sendiri yang membela kehormatan Nabi-Nya dari fitnah keji bahwa ia terkutuk karena mati disalib.

· “وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ”

(“dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang kafir sampai hari Kiamat”). Janji kemenangan bagi para pengikut tauhid yang setia.

Kisah penyelamatan Nabi Isa adalah pelajaran abadi tentang bagaimana Allah membela hamba-hamba-Nya yang saleh. Di saat segalanya tampak mustahil, di ujung tanduk di mana maut seolah sudah di depan mata, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terduga.

Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya. Musuh boleh merancang makar dengan segala kekuatan dan sumber dayanya, tetapi satu keputusan Allah cukup untuk menggagalkan segalanya. Keyakinan ini seharusnya menjadi penenang jiwa setiap muslim yang menghadapi tekanan dan konspirasi kejahatan. Kebenaran mungkin diserang, tetapi ia tidak akan pernah bisa dikuburkan. Nabi Isa akan kembali, dan pada akhirnya, kebenaran yang ia bawa—Tauhid—akan menjadi pemenang.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tamat.

Namun, kisahnya belum benar-benar berakhir… Nabi Isa akan turun kembali di akhir zaman sebagai bagian dari tanda-tanda besar Kiamat. Epos terakhirnya melawan Dajjal dan menegakkan keadilan di bumi adalah cerita lain yang penuh dengan harapan dan keagungan.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca