Oktober 10, 2026

Daniel Mohammad Rosyid @Rosyid College of Arts

Bagaimana bencana hidro-meteorologis sekaligus antropogenik ditangani Pemerintah Prabowo telah membuat gelombang deligitimasi atas presiden Prabowo sehingga kita lupa akar masalahnya : proses maladministrasi publik pengelolaan perkebunan dan pertambangan yg telah terjadi dan meluas sejak UUD 10/8/2002 diberlakukan.

Maladministrasi publik ini berbuah malapetaka lingkungan. Tidak ada pengawasan yang efektif oleh DPR, DPD, Ormas dan kampus. Legislatif sakit gigi, dan para ulama dan profesor dibungkam atau rame-rame jadi setan bisu.

Kini kita malah menyalahkan Prabowo – sikap yang sedang ditiupkan oleh para perusak lingkungan itu -. Hanya berdasarkan pola hidup nya yang sedikit bisa kami ketahui, sejak Pilpres langsung 2014 kami memilih Prabowo. Bagi kami, Jokowi sedang nglakoni lakon Petruk Dadi Ratu. Berbeda dengan Prabowo yang mendirikan Gerindra, Jokowi yang melesat out of nowhere sejak menjadi walikota Solo, lalu Gubernur DKI, (kedua jabatan ini tidak pernah diselesaikan Jokowi) dengan cerdik menunggangi beberapa parpol dan kemudian menjadi Presiden 10 tahun adalah sebuah maladministrasi publik berjamaah yang dimungkinkan oleh UUD 10/8/2002 di mana partai politik telah memonopoli politik secara radikal. No more no less. Menyalahkan Jokowi sendirian atas berbagai masalah bangsa ini, tidak saja keliru dan tidak bertanggung jawab, tapi juga menyesatkan.

Kita sering merespons secara reaktif apa yang disajikan oleh media massa tanpa melakukan pendalaman. Kita masuk ke dalam logika post-truthism. Isu-isu semacam kepalsuan ijazah Jokowi yang mendominasi ruang publik kita, membuat kita melupakan masalah sistemik yang terus dibiarkan terjadi : kegagalan gerakan reformasi dan UUD 10/8/2002 dan bagaimana kita lupa memastikan bonus demografi menjadi berkah demografi pada 2045.

Kami curiga bahwa hiruk pikuk di media massa ini adalah operasi bendera palsu kaum sekuler radikal agar kita lupa bahwa norma-norma dasar kehidupan berbangsa dan bernegara kita, yaitu Pancasila, dan strategi untuk mewujudkan amanah para ulama pendiri bangsa, yaitu UUD 18/8/1945 telah dikubur* di bawah kaki kaum sekuler kiri dan liberal radikal dengan memanfaatkan para nasionalis sebagai useful idiots.

Bahkan dengan berani kaum sekuler radikal ini menuduh ummat Islam masih menyimpan agenda mengganti UUD 18/8/1945 dengan syariah dan khilafah. Agenda membangun politik Islam oleh tokoh-tokoh muslim hilang tak berbekas. Sudah jelas, bahwa Jokowisme adalah pencapaian paling ikonik kaum sekuler radikal itu melalui UUD 10/8/2002 hasil perubahan besar-besaran dan ugal-ugalan itu.

Bahkan para die hard Jokower seperti Gunawan Muhammad, Ikrar Nusa Bakti, dan banyak profesor rame-rame menyesalkan akhir demokrasi di Republik ini di tangan Jokowi. Mimpi demokrasi kaum reformis hanya membawa korporatokrasi dan duitokrasi dimana duit menjadi oksigen di jagad politik Republik ini. Inilah jagad politik yg diwariskan Jokowi pada Prabowo.

Kami memandang penting untuk menepis deligitimasi atas Prabowo selaku presiden agar beliau tetap berani bersikap untuk kembali menggunakan UUD 18/8/1945 sebagai strategi pokok untuk mengatasi Paradoks Indonesia : negara yang kaya, tapi rakyatnya miskin.

Saya menambahi : negara dengan mayoritas ummat Islam, tapi ditakut-takuti dengan tuduhan Islam anti-Pancasila. Politik adalah sebuah power-game. Sikap tokoh-tokoh muslim dalam power game ini akan mempengaruhi sikap politik Prabowo dan oligarki penikmat korporatokrasi.

Ummat Islam perlu menunjukkan diri sebagai mitra konstruktif pada pemerintahan Prabowo. Ummat Islam tidak boleh lagi membiarkan politik dimonopoli oleh partai-partai politik. Politik Islam adalah sah dan layak diperjuangkan ummat Islam secara konstitusional agar Republik ini tidak dibajak oleh para bandit, badut dan bandar politik yang membegal bangsa ini untuk merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Bersikap pasif, atau bahkan mengolok-olok Prabowo akan memperkuat posisi oligarki yang terus berusaha melumat Republik ini.

Surabaya Ahad, 21 Des 2025

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca