Oktober 10, 2026

SANG BAYI YANG BISA BERBICARA, MUKJIZAT DALAM BUAIAN

Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا . يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا . فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا . قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا . وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا . وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا . وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Maka Maryam membawa anak itu (Isa) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, “Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukanlah seorang yang buruk perangai dan ibumu bukanlah seorang perempuan pezina.” Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam buaian?” (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 27-33)

Sorot mata penuh hujatan dan tudingan keji mengarah kepada seorang perempuan suci, Maryam, yang dengan gemetar menggendong buah hatinya. Desas-desus dan bisikan tajam memenuhi udara. “Dia membawa aib,” bisik mereka. Dalam budaya timur tengah yang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian garis keturunan, kehamilan tanpa suami adalah noda yang tak terhapuskan, bukan hanya bagi Maryam, tetapi bagi seluruh keluarganya. Tuduhan itu bukan sekadar gosip, tetapi hukuman sosial yang bisa berakibat fatal.

Di puncak keterpurukan dan ketidakberdayaan itu, saat kata-kata sudah tak lagi mampu membela, Maryam hanya bisa melakukan satu hal: sebuah isyarat lembut kepada bayi yang tengah digendongnya. Sebuah isyarat yang bagi kaumnya terlihat seperti sebuah kegilaan. “Bagaimana mungkin kami berbicara dengan seorang bayi yang masih di dalam buaian?”

Dan di situlah mukjizat itu terjadi. Keheningan pecah oleh suara lantang yang keluar dari buaian. Bukan tangisan, bukan ocehan, melainkan kalimat-kalimat sempurna yang penuh hikmah dan kebenaran. Bayi mungil itu, Nabi Isa ‘alaihissalam, berbicara.

Secara berurutan, inilah poin-poin kebenaran yang disampaikan oleh Sang Bayi Ajaib, yang diuraikan oleh para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan As-Sa’di:

“إِنِّي عَبْدُ اللَّه”

(Innī ‘abdullāh)

“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.”

Kalimat pembuka ini adalah fondasi keyakinan. Sejak detik pertama mukjizatnya, Nabi Isa menegaskan status hakikinya: seorang hamba. Kata ‘abd dalam bahasa Arab mengandung makna ketundukan, kepatuhan, dan penghambaan total. Ini adalah sanggahan tegas terhadap segala bentuk pendewaan yang akan dialamatkan kepadanya di masa depan. Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa ini adalah penolakan pertama terhadap klaim ketuhanan atas dirinya.

“آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا”

(Ātāniyal-kitāba wa ja’alanī nabiyyā)

“Dia memberiku Al-Kitab dan menjadikanku seorang Nabi.”

Di sini, bayi itu menyatakan misi hidupnya. Dia bukan bayi biasa. Dia adalah Nabi yang telah diberi kitab suci, Injil. Bayangkan, seorang Nabi yang telah diangkat bahkan sebelum ia bisa berjalan. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ilmu dan takwa, bukan usia atau keduniawian.

“وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ”

(Wa ja’alanī mubārakan aina mā kuntu)

“Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.”

Keberadaannya adalah berkah. Di mana pun ia berada, rahmat Allah akan turun menyertainya. Ulama seperti Ath-Thabari menjelaskan bahwa keberkahan ini mencakup ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan kemampuan untuk memberi syafaat (pertolongan) bagi umatnya.

“وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا”

(Wa awshānī biṣ-salāti waz-zakāti mā dumtu ḥayyā)

“Dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.”

Pesan universal kenabian ditegaskan. Ibadah vertikal (shalat) dan horizontal (zakat) adalah pilar agamanya. Ini menunjukkan bahwa risalahnya adalah kelanjutan dari risalah Nabi-Nabi sebelumnya, menegaskan kesatuan tauhid.

“وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا”

(Wa barram biwālidatī wa lam yaj’alnī jabbāran syaqiyyā)

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka.”

Di tengah teguran kepada kaumnya, Nabi Isa justru mengajarkan birrul wālidain (berbakti kepada orangtua). Ia membersihkan nama ibunya dengan cara yang paling mulia. Kalimat “Dia tidak menjadikanku sombong lagi celaka” adalah sebuah perlindungan ilahi. Kesombongan, kata para ulama, adalah akar dari segala kesyirikan dan kehinaan. Allah telah menjaganya dari sifat itu.

“وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا”

(Was-salāmu ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amūtu wa yauma ub’atsu ḥayyā)

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Ini adalah puncak dari pernyataannya. Sebuah jaminan keselamatan dari Allah di tiga momen terberat dalam hidup manusia: kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Ayat ini juga menjadi isyarat tentang perjalanan hidupnya yang unik: kelahiran yang ajaib, kenaikan kepada Allah (bukan kematian biasa), dan penurunan kembali ke bumi di akhir zaman sebelum kematiannya yang sebenarnya.

Dari perspektif sosiologis, peristiwa ini adalah sebuah counter-narrative (narasi tandingan) yang sempurna. Di tengah masyarakat yang siap menghakimi berdasarkan prasangka dan norma sosial semata, Allah menghadirkan bukti yang tak terbantahkan langsung dari sumber yang tak terduga: seorang bayi. Ini adalah pelajaran abadi bahwa kebenaran seringkali datang dari tempat yang tidak kita sangka, meruntuhkan logika dan struktur sosial kita yang picik.

Betapa seringnya kita, sebagai manusia, terburu-buru menghakimi? Melihat fenomena luar biasa lalu langsung mencapnya sebagai sihir, kebohongan, atau kesesatan, hanya karena ia tak sesuai dengan frame berpikir kita yang terbatas.

Kisah Maryam dan bayinya mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati. Di balik setiap “skandal” dan “aib” yang kita lihat, boleh jadi terdapat mukjizat dan kebenaran ilahi yang sedang bekerja dengan caranya yang misterius. Sebelum kita melemparkan tuduhan, berhentilah sejenak. Bisa jadi, jawaban atas prasangka kita akan datang dari tempat yang paling tak terduga, sebagaimana kebenaran datang dari buaian seorang bayi.

Wallahu a’lam bish-shawwab…

Ikuti kelanjutan kisah mukjizat Nabi Isa yang menakjubkan dalam: Kisah Isa Al-Masih (Bagian #2): SANG PENYEMBUH ATAS IZIN ALLAH


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca