
by bambang oeban
Di negeri pertiwi ini,
segala sesuatu lebih dulu
kerapkali diukur dari bungkus
Dari sampul, dari kulit, dari gaya rambut, dari panjang celana, dari jenis topi menempel di kepala, bukan dari getar niat di dada, hadeeeh ….
Maka jangan heran, jika ada ustadz berambut gimbal panjang, lebih cepat dicurigai daripada koruptor yang licin, berdasi rapi sekaligus berpeci.
Namanya Alvin Bin Adam, nama yang terdengar biasa saja, tidak berteriak langit, tidak pula menyaru malaikat.
Bin Adam, anak dari kemanusiaan, anak dari salah dan benar yang terus berkelahi dalam diri manusia.
Ia berdiri di panggung kecil, kadang di sudut kampung, kadang di emperan kota, kadang di ruang maya yang lebih bising dari pasar ikan.
Rambut gimbalnya panjang, hampir menyentuh tanah, seolah ingin berkata : “Aku tetap membumi, meski kepalaku menghadap langit.”
Di kepalanya bertengger topi merah, kuning, hijau … warna reggae,warna perlawanan, warna harapan yang tidak pernah rapi.
Sebagian orang spontan berbisik : “Ini ustadz atau penyanyi bar?”
Sebagian lagi berdehem sambil mengelus ego : “Dakwah kok begini amat…?”
Ah, di negeri yang gemar menghakimi, pertanyaan sering lebih cepat daripada niat memahami.
INGATAN TAHUN 2001
Alvin memilih reggae, bukan karena ingin tampak beda, tetapi karena irama itu pernah menyelamatkan jiwanya di masa ketika hidup terasa terlalu keras untuk dijalani dengan marah. Reggae tidak berteriak,ia bergoyang pelan sambil menyelipkan perlawanan. Ia tidak menghardik, ia mengajak, seperti doa.
Tahun 2001-an hidup belum secepat notifikasi hari ini. Orang masih sempat menatap langit tanpa harus memotretnya.
Musik didengar, bukan dipotong. Makna dikunyah, bukan ditelan mentah. Alvin berpijak di sana, di kenangan ketika iman belum dikemas seperti iklan, ketika Tuhan belum terlalu sering dipakai sebagai caption pembenar.
Ia tahu zaman sudah berlari, tapi tidak semua orang harus ikut sprint. Ada yang bertugas menjaga ingatan, agar manusia tidak lupa.bahwa pelan juga bagian dari jalan.
KECURIGAAN KOLEKTIF
Di Indonesia,menjadi ustadz itu ada seragam tak tertulisnya. Ada standar visual, ada cetakan sosial. Jika kau keluar dari cetakan itu, kau siap dicetak ulang oleh komentar, oleh nyinyir, oleh dalil setengah matang yang dipakai seperti pentungan.
Alvin tahu risiko itu. Menjadi seniman saja sudah dicurigai, apalagi seniman yang berdakwah tanpa mengubah rambutnya demi kenyamanan publik.
“Tobat itu dari hati,bukan dari salon,” katanya suatu harisambil tersenyum, senyum orang yang sudah berdamai dengan salah paham. Ia tidak meminta semua orang setuju. Ia hanya meminta satu hal: kesempatan untuk didengar, sebelum diadili.
KESALAHPAHAMAN NASIONAL
Kita hidup di negeriyang sering salah fokus.Isi kalah oleh casing.Makna kalah oleh simbol. Kejujuran kalah oleh tampilan saleh. Padahal kitab suci sendiri tidak pernah menjanjikan bahwa kebenaran selalu tampil rapi. Kitab suci itu dibaca, tetapi lebih sering dipajang. Dikutip, tetapi jarang diendapkan.
Alvin mengingatkan … dengan musik, dengan syair, dengan goyangan kecil yang mengusik keseriusan palsu : Bahwa iman bukan kostum. Bahwa takwa bukan properti panggung. Bahwa Allah tidak menilai dari sudut kamera.
TANPA TERIAKAN
Syair-syair Alvin tidak meledak-ledak. Ia tidak memaki, tidak mengancam neraka setiap tiga baris. Ia lebih suka bertanya : “Kenapa kita mudah marah atas perbedaan, tetapi santai melihat ketidakadilan?” Reggae mengalun, kata-kata menyusup, pesan tiba-tiba sudah sampai sebelum kita sadar sedang dinasihati. Ini dakwah tanpa podium tinggi, tanpa mimbar marmer, tanpa jarak antara yang bicara dan yang mendengar.
KEIMANAN YANG KAKU
Kadang Alvin tertawa sambil bernyanyi tentang.umat yang sibuk mengukur surga dengan meteran sendiri. Tentang orang yang rajin ibadah tetapi malas adil. Tentang mulut yang fasih ayat tetapi lupa menutup lubang empati. Humornya segar, menggelitik, tapi tidak kejam. Ia tidak menghakimi, karena ia tahu dirinya pun sedang belajar.
ANTI KESERAGAMAN
Indonesia bukan hanya satu nada. Ia orkestra. Ada gamelan, ada dangdut, ada keroncong dan mengapa tidak, reggae dakwah…?
Alvin berdiri di tengah kebinekaan itu sebagai pengingat : bahwa iman dan nasionalisme tidak harus seragam… Cinta tanah air bisa berambut gimbal. Kesalehan bisa berirama reggae.
VERTIKAL BUKAN TARGET VIRAL
Di zaman ketika dakwah sering diukur dari jumlah tayangan, Alvin memilih jalur sunyi : vertikal. Ia tahu, niat yang lurus tidak selalu trending. Ia tidak sibuk membangun citra karena ia sibuk merawat hubungan. Bukan dengan follower, tetapi dengan Yang Maha Mendengar bahkan ketika panggung sepi.
MENEMUKAN DIRI
Setidaknya satu hal sudah Alvin menangkan : ia menemukan dirinya sendiri …Sebagai seniman. Sebagai pendakwah. Sebagai manusia yang tidak mau berpura-pura demi diterima. Di negeri merah putih ini yang sering takut pada perbedaan, keberanian semacam itu adalah bentuk ibadah yang jarang disadari.
UNTUK YANG GEMAR MENILAI
Mungkin, yang perlu kita periksa bukan rambut Alvin, bukan topinya, bukan iramanya. Tetapi kedalaman kita sendiri dalam memahami makna. Sebab agama bukan lomba busana. Iman bukan soal kemasan dan Tuhan jika benar-benar kita yakini Maha Melihat, pasti lebih sibuk menimbang isi hati daripada memeriksa gaya rambut.
Alvin Bin Adam hanya satu dari sedikit yang berani mengingatkan itu dengan cara yang tidak biasa. Dan mungkin, di negeri yang terlalu serius dalam menghakimi kita memang butuh sedikit reggae agar iman tidak akan pernah kehilangan rasa.
Dari Desa Singasari, Selasa, 9 Des 202518.18
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.