Oktober 10, 2026

— Sutoyo Abadi : 25.11.2025

Dialog Profesor dan Politisi Provokator sedang berlangsung di balik dinding tebal mewarnai kehidupan Indonesia Emas saat ini :

Profesor Provokator (seseorang yang sengaja melakukan tindakan untuk membangkitkan, kemarahan orang lain untuk bertindak atau pertikai),. Politisi  Provokator  (sedang membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut, penghasutan, memasang pancingan).

Kebangkitan Profesor dan Politisi Provokator diperparah Aparat Keamanan dan Pemerintah berkelitan sebagai provokator eksekusi, kriminalisasi, tetapkan cegah tangkal (Cekal) sebagai prosedur tetap (protap) harian yang harus dijalankan sesuai perintah atasanProfesor, Politisi dan Pejabat Keparat terus tersambung dalam dialog senyap anti sadap sebagai provokator menprovokasi sesuai bidangnya masing-masing :

Profesor (Prof) : Masalah ketatanegaraan di hilir macam – macam seperti sampah di mana – mana kamu tahu sebabnya ?

Politisi (Pol) : Saya ini politisi itu bidang saya, karena masalah di hulu (negara tetap bandel belum mau kembali pada Pancasila dan UUD 45 asli masih di abaikan).

Prof : Lho, tugas kamu sebagai politisi apa…?

Pol : Sebagai Profesor pasti sudah tahu saat ini sudah tidak ada politisi sejati (negarawan), apalagi model politisi sebagai DPR itu hanya seperti mayat hidup.

Prof : Saya ini Profesor ahli teori ahlinya ahli tapi kamu politisi lebih licik dari saya, menurut kamu kelicikan apa yang sedang terjadi.

Pol : Saya politisi licik itu karena sudah cetakan penguasa di Indonesia tentu sebagai Profesor lebih ampuh sebagai provokator lebih licik berdalih sebagai Profesor. Kelicikan saat ini sudah masuk babak baru menjadi kesepakatan koalisi.

Prof : Kau pikir profesor itu Malaikat, ada Profesor (asli) dengan karakter dan keilmuanya. Tetapi gara gara kamu sampai terjadi seorang memiliki 10 (sepuluh) gelar profesor abal – abal, beli di Pasar Pramuka;

Pol : Sebagai politisi pasti tahu. Contoh sejak teman – teman saya merekayasa jabatan rektor diangkat/ditentukan oleh Presiden. Kampus sebagai tempat profesor sebagai dewa keilmuan, bisa porak poranda, sebagian harus menjual dirinya sebagai provokator;

Prof : Waduh… benar juga, tragis presiden yang tidak lulus SMA  bisa mengendalikan para profesor menjadi bebek lumpuh.

Pol : Prof… apa kamu tidak bisa melacak ada kampus harus menjual diri hanya untuk melindungi seorang mantan presiden gombal. Sebagian profesor (asli) bergolak aparat keamanan (parcok) langsung menyisir akan mengkriminalisasi.

Prof : Sebagai profesor saya tahu bahkan saya juga merasakan dan mengalami banyak tawaran sebagai provokator demi kekuasaan dan penguasa penghianat negara.

Pol : Semua bisa di atur asal mau bersahabat dan kerjasama dengan penguasaan boneka kendali para naga pemilik modal yang sangat besar telah menganeksasi negara ini.

Prof : Presiden Prabowo Subianto dalam bahaya harus di selamatkan dari kekuatan yang makin mencengkram negara ini.

Pol : Lagi lagi Pak Profesor menggunakan teori kuno, bagi Prabowo Subianto yang penting jadi Presiden belum peduli dan masih belum siuman, masih melindungi mantan Presiden dan sangat lemah melawan begundal naga kuning dari utara.

Prof : Lho … Prabowo Subianto ingin mati dalam perjuangan bersama rakyat harus kita back up.Pol : Ente Profesor sontoloyo, sebagai politisi itu hanya metafor omon omon.

Prof : Kalau begini hanya kalau terjadi Revolusi Sosial negara bisa diselamatkan

Pol : Ente seorang Profesor provokator amatiran, pikirannya terlaku pendek (cekak) saklarnya, karena hanya keluar masuk kamar mandi. Aparat keamanan akan bergerak menumpasnya.

Prof : Saya itu ahli menguasai teori politik dari jaman Nabi Adam sampai saat ini. Saya tahu keadaan sudah sangat anomali semua dalam kendali angpao, kedaulatan negara sedang diperdagangkan harga cocok transaksi lancar.

Pol. : Teori gombal, sebagai politisi praktis, lebih pahan. Semua ini adalah penipuan, kebohongan, prilaku licik penghianat negara.

Prof : Saya harus setuju sebagai profesor mesti harus memberikan jalan keluar kepada Presiden Prabowo Subianto harus berani ambil keputusan politik *negara harus segera kembali pada Pancasila dan UUD 45 (asli).

Pol : Sebagai politisi harus mencegat negara jangan sampai pada UUD 45 (asli), penghasilan bisa lenyap. Tidak peduli, dampak di hilir dalam kelola negara makin liar,  parah dan carut marut tanpa arah”_.

Prof : Kita sudah dapat predikat sebagai profesor dan politisi brengsek bersama aparat sontoloyo, sepakati saja saya kalau begitu. Bagaimana kita sepakat dan kompak dengan profesi masing – masing cari selamat, syukur bisa ikut kue kekuasaan minimal sebagai Komisaris.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca