
Sebuah Opera Humanistik Tentang Kertas, Moral, dan Manusia
Pemberitaan mengenai dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo atau Jokowi, sudah seperti sinetron panjang :
“banyak episode, rating stabil, pemainnya itu-itu saja, dan ending-nya selalu menggantung” seperti kawat jemuran yang kepanjangan”.
Yang paling menarik bukan soal ijazahnya, itu urusan hukum dan arsip kampus, tetapi bagaimana media dan publik menari di atas panggungnya dengan irama yang kadang heroik, kadang kocak, kadang tragis.
Dari perspektif jurnalisme humanistik, drama ini bukan soal “mana dokumen asli mana dokumen fotokopi”, tetapi soal bagaimana bangsa memperlakukan pendidikan, moral, dan hubungan antar sesama.
Mari kita bedah dengan pisau analisis yang tajam namun tetap steril.
- Kritik pada Pendidikan: Ketika Bangsa Menganggap Gelar Seperti Stiker di Helm Anak Motor
Dalam pemberitaan ini, pendidikan berubah dari proses memanusiakan menjadi lomba menebak keaslian tinta.
Media dan publik bergeser dari membahas kualitas kepemimpinan menjadi mengukur lengkungan font, posisi koma, dan warna kertas seperti tim kurator museum barang antik.
Maka humanistiknya :
Kita hidup di negeri yang katanya mengutamakan meritokrasi, tapi begitu sibuk memperlakukan ijazah seperti “surat warisan sah” yang menentukan apakah seseorang dianggap manusia berkualitas atau tidak.
Pendidikan akhirnya bukan bicara kompetensi, tapi status sosial: siapa punya kertas apa.
Media lebih rajin membongkar arsip fotokopi daripada membongkar ketimpangan pendidikan nasional.
Jika pendidikan adalah cermin bangsa, maka pemberitaan ini memperlihatkan bahwa cermin itu retak, dan kita masih sibuk menuduh siapa yang memecahkannya ketimbang memperbaiki kacanya.
- Kritik pada Moral Building : Moralitas Dijual per Gram di Pasar Politik
Dalam drama ini, moral bukan lagi nilai, tetapi komoditas. Tuduhan (benar atau tidak) menjadi bahan bakar moralitas instan.
Media dan para komentator berubah seperti pedagang rempah moral: “Siapa yang mau beli moral versi saya? Lebih murah, lebih menusuk!”
Maka pisau tajamnya :
Tanpa menunggu hasil resmi, sebagian publik sudah mengangkat palu moral seperti hakim dadakan yang sedang kehabisan tontonan.
Moralitas menjadi perlombaan : siapa paling cepat menuding.
Diskursus publik bergeser dari mengenali kompleksitas manusia menjadi berlomba menentukan siapa paling tidak bermoral.
Padahal membangun moral bangsa tidak bisa dilakukan dengan memamerkan kecurigaan, melainkan dengan membangun budaya kejujuran dalam sistem pendidikan, bukan sekadar menjadikan isu ini sebagai “teater penghakiman moral”.
- Kritik pada Hubungan Antar manusia: Polarisasi yang Lebih Tajam dari Pisau Dapur Murah
Ini sektor yang paling rusak :
Hubungan sosial.
Setiap kontroversi nasional selalu menemukan caranya menjadi pertandingan gladiator online, dan isu ini tidak berbeda.
Sehingga :
Keluarga terpecah bukan karena ekonomi, tapi karena adu postingan analisis tanda tangan digital.
Pertemanan retak bukan karena utang, tapi karena beda pandangan soal apakah tampilan kertas ijazah itu normal atau tidak.
Media sosial berubah menjadi arena debat antar manusia yang lupa bahwa yang dibicarakan juga manusia.
Jurnalisme humanistik mengingatkan bahwa hubungan sosial harus dijaga, bukan dijadikan collateral damage dari debat tanpa ujung.
Penutup :
Opera Besar Bernama “Perseteruan Tentang Sepotong Kertas”
Jika drama pemberitaan dugaan ijazah palsu Jokowi diajukan sebagai naskah teater, jurnalisme humanistik akan menulis sinopsisnya:
“Ada sebuah bangsa besar, dengan persoalan pendidikan yang kompleks, moralitas publik yang ringkih, dan polarisasi yang kronis, memilih menjadikan selembar kertas sebagai pusat orbit seluruh emosinya.”
Dalam kacamata humanistik, pelajaran besarnya sederhana : manusia lebih penting daripada kertas,
dialog lebih penting daripada tudingan,
dan empati lebih penting daripada sensasi.
Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa
Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat dan Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.