
Awalan
Tidak ada bahasa yang lebih tua, lebih halus, dan lebih menyeluruh daripada bahasa cinta. Cinta adalah rahasia pertama yang menggerakkan semesta, sebagaimana firman Allah SWT dalam hadist qudsi : “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
Maka, penciptaan alam ini bukan bermula dari murka, bukan pula dari kebutuhan, melainkan dari cinta Allah untuk dikenal. Segala ciptaan adalah cerminan kasih-Nya, dan segala kejadian adalah surat dari cinta yang tak bertepi.
Cinta Sebagai Sumber Penciptaan
Al-Qur’an menyingkapkan bahwa kasih sayang (rahmah) adalah asas dari segala wujud. Allah berfirman :
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘rāf: 156)
Kata rahmah berasal dari akar kata rahim — yang berarti “rahim”, tempat tumbuhnya kehidupan. Dalam tafsir para ulama, rahmah bukan sekadar kasih sayang emosional, tetapi daya Ilahi yang melahirkan, memelihara, dan menuntun makhluk menuju kesempurnaan wujudnya.
Dari rahmah inilah muncul cinta; dan dari cinta lahirlah segala yang hidup. Maka, di balik keindahan bunga, suara burung, dan kelahiran seorang anak — sesungguhnya Tuhan sedang menampakkan wajah kasih-Nya.
Cinta Sebagai Jalan Ma‘rifah
Para arif billah berkata: “Awal agama adalah ma‘rifah (pengenalan kepada Allah), dan ma‘rifah tidak mungkin lahir tanpa cinta.”
Sebab pengetahuan yang tidak dilandasi cinta hanya melahirkan kesombongan. Sedang cinta yang tidak berlandaskan pengetahuan hanya melahirkan kesesatan.
Allah berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rūm: 21).
Ayat ini bukan hanya tentang manusia dan pasangan, melainkan juga perumpamaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Sebagaimana manusia merindukan kekasihnya, demikian pula ruh manusia merindukan asalnya — yaitu Allah.
Setiap kerinduan, setiap pencarian makna, sejatinya adalah gema cinta Ilahi yang sedang memanggil jiwa agar pulang.
Cinta Ilahi dalam Ujian dan Takdir
Orang beriman tidak hanya membaca cinta Allah dalam nikmat, tetapi juga dalam ujian. Ketika Allah menahan sesuatu yang kita inginkan, itu bukan tanda murka, melainkan tanda kasih yang belum kita pahami. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam menafsirkan ayat ini dengan indah : “Jangan engkau kira Allah menahan darimu karena Dia membencimu. Bisa jadi, Dia menahan sesuatu agar engkau tidak jauh dari-Nya.” Maka, cinta Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk pemberian, tetapi sering hadir dalam bentuk penahanan.
Karena bagi Allah, mencintai hamba bukan berarti memanjakannya, melainkan menuntunnya kembali kepada kesejatian ruhnya.
Cinta yang Menghapus Jarak
Dalam Al-Qur’an, Allah memanggil manusia bukan dengan gelar, tapi dengan kelembutan : “Wahai manusia, apa yang telah memperdayakanmu dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (QS. Al-Infithār: 6)
Perhatikan — Allah tidak berkata “Wahai orang durhaka” atau “Wahai pendosa”, tapi “Wahai manusia”, dengan nada kasih sayang.
Teguran ini bukan bentakan, tapi panggilan cinta dari Yang Maha Penyayang kepada makhluk yang lupa arah.Ayat ini seolah berbisik di dalam hati : “Aku tidak marah, Aku hanya rindu engkau kembali.”
Begitulah cinta Ilahi : Ia tidak menolak, hanya menunggu; Ia tidak menghukum tanpa rahmat, karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
Cinta Sebagai Kesempurnaan Iman
Rasulullah bersabda : “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Cinta, dalam pandangan Islam klasik, bukan hanya perasaan, tapi ibadah tertinggi.
Karena mencintai makhluk dengan tulus adalah bentuk tasyabbuh bi shifatillah — meneladani sifat-sifat Allah yang penuh rahmah dan kasih.
Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, cinta sejati kepada Allah adalah ketika seluruh cinta duniawi menjadi jalan untuk mengenal-Nya, bukan pengganti-Nya. Barang siapa mencintai sesuatu lebih dari Allah, maka ia akan dikecewakan; bukan karena Allah kejam, tetapi karena Ia ingin hamba-Nya belajar mencintai yang benar-benar abadi.
Akhiran
Cinta adalah bahasa terakhir dan tertinggi yang diajarkan Allah kepada manusia.Ia lebih dalam dari kata, lebih kuat dari logika, dan lebih abadi dari waktu.
Di dalam cinta, semua pertentangan melebur — antara pahala dan dosa, antara bahagia dan derita — karena semua hanyalah cara Allah mendidik jiwa agar mengenal-Nya lebih dekat.
Maka, siapa pun yang ingin memahami bahasa Allah, belajarlah mencintai : Cintai ciptaan karena PenciptaNYA, cintai ujian karena hikmahNYA, cintai kehidupan karena ia adalah kitab cinta yang ditulis oleh tangan Allah sendiri.
Benz Jono Hartono, HIAWATHA INSTITUTE dan Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat di Jakarta
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.