semutibrahim.com | Mihrabku – Secara teknis, sholat itu adalah persoalan privat (pribadi) tapi vibrasinya menjadi persoalan publik. Kalau saya sholat tapi korupsi, menulis kata-kata kotor di medsos, ghibah atau gemar fitnah atau katakanlah masih melakukan dosa dan maksiat, itu berarti ada yang salah dalam sholat saya. Ini artinya saya belum mendirikan sholat, sekadar mengerjakan sholat. Kalau sholat saya benar, gak mungkin hal-hal di atas saya lakukan.

Sholat Bagi Orang Beriman
Hampir di sebagian besar ayat Al-quran terkandung perintah sholat, sholat itu disandingkan dengan kata mukmin (orang beriman). Banyak Muslim yang belum jadi Mukmin. Hal ini sudah dijelaskan dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 14:
“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Al-Hujurat ayat 14 di atas, memang khusus ditujukan kepada orang-orang Arab Bani Asad yang datang ke Madinah dan mengungkit-ungkit keislaman mereka, minta jatah sedekah dan lain-lain. Allah kemudian mengutus Jibril untuk memberi kabar (wahyu) kepada Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasalam terkait status orang-orang Badui Asad tersebut.
Secara khusus ayat itu memang diturunkan terkait Bani Asad tapi secara umum ayat itu juga bisa berlaku untuk kita, yang selalu mendedahkan diri sebagai orang beriman. Padahal kalau kita mau menengok sejenak diri kita, masih berdiri pada tataran ber-Islam.
Sholat Itu Perjumpaan Dengan Allah
Alquran sudah menegaskan, sholat itu bagi orang-orang beriman. Di ujung An-Nisa ayat 103 : “Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. Jadi yang belum sholat dan malas sholat, ya sadar diri saja, belum beriman. Simpel kok.
Sholat itu berat. Ya berat bagi orang yang tak khusyu. Bagi orang yang khusyu, sholat itu bukan beban. Sholat bagi orang yang khusyu itu bentuk perjumpaan dengan Allah. Al-Baqarah ayat 45 – 46 : “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Satu-satunya cara berjumpa Allah bagi hamba-Nya yang masih hidup, ya melalui sholat. Tak ada pintu lain selain sholat. Kok berjumpa dengan Allah? Bukankah Allah itu Maha Ghaib, tak terlihat, imateri? Mosok imateri bisa bertemu dengan materi?
Di sinilah sholat tak hanya menyertakan unsur materi tapi juga unsur imateri. Sholat tak hanya menyertakan raga atau jasad tapi juga menyertakan aspek batin. Unsur batin itu sifatnya imateri dan kita sebagai hamba-Nya akan menemui Allah dalam kapasitas batin, imateri kita.
Kalau kita sholat, harus ada unsur kebahagiaan bisa bertemu dengan Allah. Siapa saja yang ingin berjumpa dengan kekasihnya, berjumpa dengan istri dan anak-anaknya atau istri ingin berjumpa dengan suami dan anak-anaknya, harusnya ada rasa kegembiraan. Kalau ada rasa tak bahagia, berarti ada yang salah dalam bangunan keluarga kita.
Ash-Sholatu Mi’rajul Mukminin
Sholat adalah bentuk mi’raj-nya kaum mukmin untuk menjumpai Allah. Mi’raj itu naik, naik dari bumi menuju langit. Apanya yang naik ke langit? Yang naik itu unsur imateri, batin kita. Yang akan berjumpa dengan Allah itu unsur batin kita. Di sinilah kenapa Allah selalu menekankan sholat khusyu. Yang ditekankan dalam khusyu itu anasir batin.
Allah SWT sudah menegaskan, sungguh beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu orang yang khusyu sholatnya. Penjelasan soal ini ada di Al-Mukminuun ayat 1 : “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya….”
Perintah Sholat Lima Waktu Ada di Aquran
Mendirikan sholat itu kewajiban. Saking pentingnya perintah sholat tersebut, Allah meminta Nabi Muhammad menemui-Nya, secara langsung. Perintah-perintah lain disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi. Tapi perintah sholat, Nabi diminta menghadap langsung kepada_NYA. (Al-Isra ayat 1) : “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Apakah Nabi Muhammad berjumpa Allah secara face to face? “Wallahu a’lam bishawab”. Tapi jika merujuk pada Allah Maha Ghaib, imateri dan Nabi Muhammad, materi, perjumpaan Allah dan Nabi Muhammad melalui medium suara dan cahaya. Nah persoalan ini pun akan berlanjut dengan pertemuan Nabi Muhammad dan para nabi yang sudah wafat di langit pertama hingga langit ketujuh. Pertemuan imateri dan materi? Atau jasad Nabi dan para nabi yang sudah wafat bertemu? Kajiannya bisa panjang soal ini.
Perintah Tegas Al-Isra : 78
“Dirikanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) Subuh. Sungguh, shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
Dari ayat ini, sholat limat waktu itu dimulai dari Dzuhur hingga Subuh. Rincian sholat Dzuhur sampai Maghrib ada di berbagai ayat. Sholat Subuh ada di An-Nur ayat 58 dan Ar-Rum ayat 17, sholat Dzuhur ada di Al-Isra ayat 78 dan Ar-Rum ayat 18, sholat Ashar ada di Al-Qaf ayat 39, sholat Maghrib ada di Hud ayat 114 dan sholat Isya ada di An-Nur ayat 58.
Semoga Allah menjadikan kita tidak sekedar ber-Islam, namun beriman. Naskah ini di tulis oleh Mihrabku. Pembaca juga dapat mencermati berbagai opini di sini.
Salam Semut Ibrahim.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
3 thoughts on “SHOLAT, PRIVAT YANG MENGGETARKAN JAGAT”