
Oleh Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Panca Sila.
PENDAHULUAN
Dengan akan diusulkan pemberian gelar pada Jendral besar Soeharto mantan Presiden Republik Indonesia, Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDI-P, Bonnie Triyana menolak usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto. Diketahui, Soeharto menjadi salah satu dari 40 nama yang diusulkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional.
“Menurut hemat saya, ya kita harus tolak, saya sendiri menolak,” katanya, dilansir dari Kompas.id. Kepala Sejarah PDIP ini ternyata sangat sempit pikirannya mengapa dia katakan pemberian gelar Pahlawan pada Soeharto mencederai Reformasi.
PDIP MERUSAK AJARAN SIEKARNO
Sungguh sebuah kelucuhan selalu saja menggunakan rakyat nenolak, rakyat yang mana? menolak pemberian gelar pahlawan pada Soeharto, justru dengan Reformasi itu yang dirusak PDIP adalah negara yang di Proklamasikan oleh Soekarno Hatta, mengapa? Reformasi telah melakukan Kudeta konstitusi dibungkus Amandemen UUD 1945 dan itu penggeraknya adalah PDIP lewat ketua fraksinya Jakob Tobing.
Jika Soeharto melindungi ajaran Soekarno dan menjaga Ideologi Pancasila justru PDIP sebagai penggerak dan membumi hanguskan ajaran Soekarno. Jika kita mempelajari ajaran Soekarno maka seluruh ajaran Soekarno kristalisasinya ya UUD 1945. Bahkan Soekarno mengatakan UUD 1945 itu keramat, apa Ketua Sejarah PDIP tidak mengerti sehingga lewat ketua Fraksinya Jakob Tobing mengatakan UUD 1945 buatan Jepang…? ini sebuah penghinaan terhadap Soekarno.
UUD 1945 ITU KERAMAT
Cuplikan pidato Bung Karno di sidang PPKI :
“Alangkah keramatnja, toean2 dan njonja2 jang terhormat, oendang2 dasar bagi sesoeatoe bangsa. Tidakkah oendang2 sesoeatoe bangsa itoe biasanja didahoeloei lebih doeloe, sebeloem dia lahir, dengan pertentangan paham jang maha hebat, dengan perselisihan pendirian2 jang maha hebat, bahkan kadang2 dengan revolutie jang maha hebat, dengan pertoempahan darah jang maha hebat, sehingga sering kali sesoeatoe bangsa melahirkan dia poenja oendang2 dasar itoe dengan sesoenggoehnja di dalam laoeatan darah dan laoetan air mata.Oleh karena itoe njatalah bahwa sesoeatoe oendang2 dasar sebenarnja adalah satoe hal jang amat keramat bagi sesoeatoe rakjat, dan djika kita poen hendak menetapkan oendang2 dasar kita, kta perloe mengingatkan kekeramatan pekerdjaan itoe. Dan oleh karena itoe kita beberapa hari jang laloe sadar akan pentingnja dan keramatnja pekerdjaan kita itoe. Kita beberapa hari jang laloe memohon petoendjoek kepada Allah S.W.T., mohon dipimpin Allah S.W.T., mengoetjapkan: Rabana, ihdinasjsiratal moestaqiem, siratal lazina anamta alaihim, ghoiril maghadoebi alaihim waladhalin.Dengan pimpinan Allah S.W.T., kita telah menentoekan bentoek daripada oendang2 dasar kita, bentoeknja negara kita, jaitoe sebagai jang tertoelis atau soedah dipoetoeskan : Indonesia Merdeka adalah satoe Republik. Maka terhoeboeng dengan itoe poen pasal 1 daripada rantjangan oendang2 dasar jang kita persembahkan ini boenjinja : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatoean jang berbentoek Republik” jika PDIP tidak membaca pidato ini sungguh sebuah Ironis jadi Soekarnois itu apanya setiap kampanye mengusung Soekarno tetapi ajarannya dihilangkan.
SOEHARTO MELAKSANAKAN PANCASILA SECARA MURNI DAN KONSEKWEN
Untuk menjaga dan meneruskan Pancasila maka Pak Harto membuat P4 Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila. Jika Bung Karno mengajarkan Pancasila sebagai dasar Negara maka Pak Harto menguraikan Pandangan hidup bangsa dengan P4 atau Weltanschauung. Pancasila bagi Soekarno merupakan sebuah filosofi dasar negara Indonesia yang disebutnya dengan istilah philosofische Grondslag.
Soekarno tidak menjelaskan secara detail apa yang dimaksudkan dengan weltanschauung itu. Namun, ia menunjukkan betapa pentingnya weltanschauung tersebut sebagai spirit yang menyatukan dan memerdekatan sebuah negara.
WELTANSCHAUUNG PANDANGAN HIDUP BANGSA
Weltanschauung itu oleh Soeharto diuraikan menjadi 45 butir P4 agar rakyat bisa memahami dan melaksanakan dengan mudah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian datanglah Reformasi yang dibajak oleh PDIP untuk melakukan bumi hangus ajaran Soekarno dengan mengkudeta UUD 1945 yang dibungkus Amandemen dimotori oleh ketua fraksi PDIP Jakob Tobing.
Maka digantikan UUD 1945 dengan UUD 2002 hasil Amendemen dari hasil Kajian dan penelitian Prof Kaelan perubahan pasal 97% dan tata negara tidak berdasarkan Pancasila. Negara tidak lagi mencerminkan kedaulatan seluruh rakyat Indonesia sebab kedaulatan rakyat diamandemen dengan dihilangkan utusan Golongan dan utusan daerah, akibatnya Negara bukan lagi semua untuk semua.
JASA TERBESAR SOEHARTO PADA RAKYAT NYA MEMBASMI BUTA HURUF
Jasa terbesar Soeharto adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membasmi buta huruf dan buta angka pada rakyatnya dengan membangun SD impres diseluruh Indonesia. Program ini mendapat penghargaan Nobel. Kisah SD Inpres ini memang fenomenal.
Di disertasi Duflo (MIT, 1999) berjudul Essays in Empirical Development Economics, ia mengupas tuntas kebijakan SD Inpres yang lahir dari Inpres No. 10/1973—gagasan Widjojo Nitisastro saat menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas. Sampai 1993/1994, program ini telah membangun ±150.000 unit SD dengan dukungan ±1 juta guru. Prestasinya diakui dunia; pada 1993 UNESCO menganugerahkan Medali Emas Avicenna kepada Presiden Soeharto.
Analisis Duflo unik : ia menggabungkan variasi jumlah sekolah di berbagai daerah dengan perbedaan antar-angkatan murid untuk mengukur dampak. Hasilnya? Anak usia 2–6 tahun pada 1974 mendapatkan tambahan rata-rata 0,12–0,19 tahun sekolah untuk setiap tambahan 1 sekolah per 1.000 anak.
Dampak ekonominya pun nyata : upah meningkat 1,5–2,7% untuk setiap sekolah tambahan. Singkatnya, SD Inpres sukses meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan sekaligus. Menariknya, penelitian ini masih berlanjut. Dua peneliti di AS—Maria Rosales-Rueda (University of California, Irvine) dan Margaret Triyana (Wake Forest University)—menyambung kajian Duflo dengan data 1979–1983. Temuan awal mereka menunjukkan bahwa SD Inpres juga berkorelasi positif dengan kesehatan generasi yang terpapar program, bahkan hingga anak-anak mereka. Mereka menyebutnya “program yang keren, excellent, dan pionir” untuk negara berpendapatan menengah bawah.
PUSKESMAS DAN POSYANDU
Posyandu dan Puskesmas menyehatkan ibu dan anakmelalui berbagai pelayanan terpadu. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah fasilitas kesehatan tingkat dasar yang memberikan pelayanan rutin seperti pemeriksaan kesehatan ibu hamil, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang balita, dan penyuluhan gizi.
Puskesmas sementara menjadi fasilitas rujukan yang lebih lengkap untuk pelayanan harian. Keduanya saling melengkapi untuk deteksi dini masalah kesehatan, pencegahan penyakit, dan peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. Peran PosyanduUntuk ibu : Pemeriksaan kehamilan, pemberian vitamin dan tablet tambah darah, serta penyuluhan gizi dan perencanaan kehamilan.
Untuk anak : Penimbangan rutin untuk menjaga pertumbuhan, imunisasi, pemberian vitamin A dan obat cacing, serta pemeriksaan dini keterlambatan tumbuh kembang.
Kegiatan tambahan : Posyandu juga menjadi tempat ibu-ibu berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan, serta bisa Merujuk anak ke fasilitas kesehatan jika sakit.
Bukti kepiawaian Soeharto dalam mencerdaskan dan Menyehatkan rakyat nya terutama ibu dan anak sekaligus mensejahterakan kehidupan bangsa diakui dunia dan dihargai nya justru sedih nya didalam negara nya dinistakan.
Bahkan pada saat PDIP dengan mengusung Jokowidodo sebagai Presiden, menteri pendidikan yang sekarang terpapar korupsi dan ditahan KPK menghilangkan nama Soeharto dalam sejarah Serangan Oemom 1Maret 1946 yang terkenal dengan 6 Jam di Jogya. Padahal Jendral Soedirman, Soeharto dan Sri Sultan Hamangkubuwono IX adalah pelaku sejarah yang tidak mungkin dihilangkan sebab saksi sejarah yang masih hidup bisa bercerita.
PDIP lewat tangan Jokowidodo telah menghancurkan negeri ini dengan hutang, korupsi, penggarongan kekayaan ibu pertiwi, apa PDIP sadar dibanding dengan Jasa Pak Harto tidak ada apa-apanya.
KESIMPULAN
Dari sejarah dan rekam jejak nya Soeharto memang pantas dan seharus nya mendapat gelar pahlawan, begitu besar jasa dan pengabdiannya pada bangsa dan negara.
Jika saja diambil jajak pendapat saya yakin mayoritas Rakyat akan setuju pemberian gelar pahlawan pada Sieharto. Jika kita melihat PDIP tidak setuju saya rasa bukan ukuran untuk persetujuan, jangankan Soeharto Soekarno saja di khianati dan dinistakan dengan mengkudeta UUD 1945 yang merupakan karya keramat padahal Soekarno lah ketua pembentuk UUD 1945.
Mudah mudahan tulisan ini di baca Megawati agar segera sadar untuk kembali ke UUD 1945 sebelum ajal menjemput dan sejarah akan menulis nya sebuah pengkhianatan terhadap bapak pendiri bangsa.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.