
Di awal Agustus 1945, Ketua Besar PBNU KH. Abdul Wahab Hasbullah tiba-tiba mengirim kawat memanggil para konsul NU seluruh Jawa dan Madura ke Jombang. Dalam kawat itu hanya disebutkan untuk rapat penting dan tidak boleh diwakilkan.
200 tokoh NU yang hadir, selama satu minggu, dilatih dan digembleng dalam bidang rohani. Mereka disadarkan bakal terjadinya perjuangan yang hebat, maka kekuatan lahir-batin harus disiapkan.
Para ‘instruktur’ pelatihan dan penggemblengan itu antara lain : Hadlratussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari sendiri, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Sahal Mansur, KH. M. Dahlan, KH. Thohir Bakri, KH. Ahmad Munif Bangkalan, KH. Abdul Jalil Kudus, dll.
Puncak dari latihan dan penggemblengan itu, KH. Abdul Wahab Hasbullah memberi ijazah doa Hizb Rifa’i dan Shalawat Kamilah.
Syahdan, suatu hari KH. Abdul Wahab Hasbullah tiba-tiba datang ke tempat penggemblengan dengan menuntun seorang pemuda gagah, 26 tahun.
Dengan wajah bersinar-sinar dan masih menuntun si pemuda, Kiai Abdul Wahab naik ke podium dan langsung berpidato.
Setelah khotbah pembukaan yang singkat, beliau berkata, “Saudara-saudara yang saya cintai. Saya baru saja tiba dari Surabaya dan datang ke majlis yang mulia ini dengan membawa “serdadu ucul” ini (menunjuk pemuda di sampingnya). Pemuda ini anak saya, Muhammad Wahib Wahab (Ayahanda Gus Aam Wahib Wahab). Dia seorang Peta, berpangkat… apa namanya? (dijawab oleh si pemuda: Shodancho). Shodancho itu bahasa Nippon. Apa artinya? (dijawab: Letnan). Ya, benar. Dia ini letnan. Tapi sekarang sudah ucul, lepas, dari tangsinya bersama kawan-kawannya. Peta sudah bubar karena Indonesia sudah merdeka. Proklamasi Kemerdekaan sudah dilakukan oleh Sukarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 ini. Allahu Akbar!”
Dan meledaklah pekik “Allahu Akbar!” berulang-ulang menggetarkan ruang.
Pada akhir pidato singkatnya, KH. Abdul Wahab mengatakan : “Saya instruksikan saudara-saudara segera pulang ke daerah-daerah untuk menyusun perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Allahu Akbar waliLlahil hamd.”
(Diceritakan oleh salah seorang peserta Latihan dan Gemblengan, KH. Saifuddin Zuhri mantan Menag RI)
Rahmat Allah untuk Hadlratussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab, KH. Bisri Syansuri, KH. Sahal Mansur, KH. M. Dahlan, KH. Thohir Bakri, KH. Ahmad Munif Bangkalan, KH. Abdul Jalil Kudus, Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, para kiai dan santri pejuang kemerdekaan yang lain.
Lahul Fatihah…
Oleh : Gus Aam Wahib Wahab, Putra Almaghfulah KH. Wahib Wahab (Mantan Menteri Agama RI), Cucu Inisiator, Pendiri, Penggerak NU dan Pahlawan Nasional KH. Wahab Chasbullah (Ponpes Bahrul Ulum Tambak beras, Jombang).
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.