
semutibrahim.com – Jakarta | Waktu telah mencatat rentetan peristiwa perjalanan Indonesia Raya. Cikal bakal Indonesia dari orde pra sejarah sampai dengan orde pat gulipat. Tingkah polah para penguasa tercatat dengan rapi dari era homo wajakensis, homo soloensis sampai dengan era Gayus Tambunanensis, Aril Vs Luna Mayaensis era Nazarudinensis, era Harun Masiku hingga era cawe-cawe.
Orde Prasejarah
Orde Purba/Prasejarah, tanah air ini belum bernama Indonesia, tulisan ataupun artikel tentang bagaimana para pemimpin purba memimpin kaumnya dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi, tidak jarang sering berperang hanya demi mempertahankan/memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya.
Pemimpin akan dipilih karena memang layak memimpin dan memiliki daya linuwih (kemampuan lebih – red), bahkan pemimpin dianggap sebagai Tuhan/Dewa yang mengejawantah. Hal ini kita ketahui dari arteefak-arteefak peninggalan pada masanya. (ternyata menelusuri fakta sejarah dari arteefak atau benda-benda peninggalan lebih mudah dari pada menelusuri fakta kejahatan para mafia tender, mafia hukum dan menelusuri fakta rentetan korupsi para “seniman koruptor” yang buktinya sudah nyata-nyata terlihat, teraba dan terasa.
Abad 19, Indonesia raya merdeka, pejuang dan kaum revolusioner kita mampu melepaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah yang karena ketololan leluhur kita pula sehingga penjajah bisa bercokol, seperti bagaimana Sultan Haji dari Banten merangkul mesra VOC yang hanya sebuah organisasi dagang kafir hanya demi merebut tahta dari sang ayah Sultan Ageng Tirtayasa, bagaimana kaum adat yang mengirim berita “SOS” kepada VOC hanya demi memerangi Kaum Padri Imam Bonjol, bagaimana dampak perjanjian Giyanti yang merobek kedaulatan tanah Jawa menjadi skoci-skoci mungil. Sehingga dampak ketololan itu semua semakin memberi angin segar bagi kaum penjajah untuk lebih eksis.
Orde Kebangkitan
Orde kebangkitan, bermula gerakan kaum pribumi karena Sang Guru, tokoh yang menetaskan banyak revolusioner dan cendekia beliau adalah Kyai Haji Sam’an Hudi yang membidani lahirnya sebuah organisasi dagang dengan nama Serikat Dagang Islam (SDI) sebagai penyeimbang dominasi atas VOC, “as a counterbalance to the dominance of the VOC“, kemudian, sejarah mencatat pula bahwa dari padanya lahirlah insan nan hebat seperti H. O. S. Cokro Aminoto yang meremajakan Serikat Dagang Islam (SDI) menjadi Syarikat Islam (SI) dan sudah merambah ranah politik, dari tangan dingin H. O. S. Cokro Amionoto inilah lahir tokoh-tokoh seperti Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, K. H. Agus Salim dll.
Pun demikian, rupanya kemesraan tokoh-tokoh nasional kita harus terbelah menjadi beberapa bagian setelah menyusup konstruktor komunis “Tan Malaka” dan semakin kentara dengan pecahnya Syarikat Islam (SI) menjadi “SI Hijau” dan “SI Merah”. Seiring waktu, SI Hijau berafiliasi menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan SI Merah menjadi PKI hingga lahirlah goro-goro Madiun.
17 Agustus 1945, Jabang Bayi NKRI lahir jua dengan kebersahajaan dan liuk liku perjalananannya, lahir dengan ruh Piagam Jakarta dengan mencantumkan Syari’at Islam didalamnya sebagai penghargaan atas perjuangan para mujahid dan cendekiawan Islam dalam membidani kelahiran Negara republik Indonesia yang berdaulat. Waktu terus berjalan, dan p[erjuangan pun belumlah usai, seiring bergulirnya waktu sampailah kepada geger G30S-PKI/GESTAPU/GESTOK lagi-lagi ulah PKI dengan ideologi kirinya. Hikmah dari peristiwa ini adalah melahirkon tokoh sentral SOEHARTO dari KOSTRAD bersinergi dengan SARWO EDI WIBOWO dari RPKAD (Sekarang KOPASSUS-red) dan peran penting para ulama serta kyai yang mendorong semangat jihad umat Islam hingga PANCASILA kendatipun sudah tanpa “Syari’at Islam” tetap sakti dan eksis hinga hari ini.
Orde Baru
Orde Baru, sebuah orde dimana Indonesia merangkak bangkit dari keterpurukan akibat ulah PKI hingga mampu bangkit dan menjadi “Macan Asia”, Indonesia kita “dulu” pernah menjadi lumbung pangan dunia, pernah menjadi pengekspor beras karena para petani mencintai sawah ladangnya, Pak Harto sering kali turun kesawah untuk menemui kaumnya, menyemangati dan memodali dengan program BINMAS -INMAS-nya yang melegenda. Bukan sekedar pencitraan dengan berlagak naik traktor di sawah, berjanji akan membagikan traktor kepada petani, ternyata cuma nge-prank, traktor ternyata hanya pinjaman sementara.
Awal pemerintahan Orde Baru dengan presidennya Soeharto mulai dilaksanakan pembangunan besar-besaran di sejumlah bidang. Hal tersebut tidak terlepas dari krisis yang terjadi pada masa akhir pemerintahan Orde Lama, mulai dari inflasi hingga kenaikan harga kebutuhan pokok. Salah satu fokus perhatian pemerintah Orde Baru kala itu adalah dibidang pertanian dengan fokus kepada peningkatan hasil produksi beras.
Pada masa awal pemerintahan Orde Baru, Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia. Sedangkan produksi beras nasional hanya 12 juta ton pada tahun 1969. Upaya peningkatan hasil produksi beras selanjutnya ditempuh melalui intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Selanjutnya pemerintah melalui program Bimbingan Masal (BIMAS) berupaya mendorong peningkatan hasil produksi beras.
Program BIMAS kemudian dikembangkan menjadi BIMAS Gotong Royong yang melibatkan peran swasta nasional serta swasta asing. Tujuan dari Bimbingan Masal Gotong Royong yakni untuk meningkatkan produksi beras nasional dengan memberi bantuan pupuk serta pestisida pada petani. Program BIMAS Gotong Royong kemudian disempurnakan menjadi Bimas Nasional melalui Keputusan Presiden No 95 Tahun 1969. Melalui Bimas Nasional, petani memperoleh Intensifikasi Masal (INMAS) serta Intensifikasi Khusus (INSUS). Selain menggerakkan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, pemerintah juga menerapakan diversifikasi pertanian dengan menggabungkan teknologi dan pertanian.
Program serta kebijakan yang diberlakukan pada masa pemerintahan Soeharto tersebut berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984. Indonesia selanjutnya mampu menjadi negara pengekspor pangan setelah sebelumnya hanya mengandalkan impor. Atas keberhasilan Indonesia menjadi negara swasembada pangan dan pada tahun 1985 Presiden Soeharto diundang oleh Direktur Jenderal Food an Agriculture Organization (FAO), Edward Saouma untuk hadir dalam Forum Dunia pada tanggal 14 November 1985 di Roma, Italia untuk memaparkan keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada pangan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Soeharto menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan pangan merupakan hasil dari kerja raksasa suatu bangsa. Pada agenda yang sama di Roma, Italia, Presiden Soeharto atas nama rakyat Indonesia menyerahkan bantuan berupa 100.000 ton padi kepada korban kelaparan di sejumlah negara Afrika. Bantuan tersebut merupakan sumbangan dari kaum petani Indonesia sekaligus menegaskan bahwa negara-negara yang sedang membangun dapat meningkatkan kemampuannya sendiri.
Orde Reformasi
Orde baru akhirnya harus tumbang dan digantikan orde reformasi yang meledak hiruk pikuk tanpa kendali. Reformasi melahirkan singa podium “Amin Rais” dan sederet nama besar lainnya. Syahdan, sebelumnya sesungguhnya telah berteriak dengan lantang meskipun tanpa kawan seorang pembaharu “SRI BINTANG PAMUNGKAS”.
Dan…, reformasi pula yang berperan melahirkan dan membangkitkan kembali tokoh MERAH seperti “BUDIMAN SUJATMIKO – PRD”, CIPTANING – anak PKI, RIEKE “ONENG” DYAH PITALOKA, dll. Mereka semua bernaung di bawah bendera partai peserta pemilu, Partai ……… udah pada tahukan?!
Orde Cawe-cawe, Orde Kebetulan dan Kesalahan
Abad 21 adalah era millennium, era pat-gulipat penuh tipu muslihat. Abad 21 juga telah melahirkan KGB (Komunis Gaya Baru) yang menyusup melalui berbagai media dan ormas.
Bapak-bapak kita menjadi pemimpin karena memiliki daya linuwih (lebih Nasionalis, lebih ideologis, lebih merakyat dan lebih-lebih yang lain). Sekarang pemimpin negeri ini ternyata memimpin karena 2 (dua) hal saja, yakni KEBETULAN dan KESALAHAN.
• Kebetulan karena KEBETULAN menang PILEG, PILPRES, PILKADA dan PIL-PIL yang lain, jadi memang nawaetu-nya bukan memimpin bangsa ini, nawaetu-nya adalah niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll. Jadi walaupun sudah jadi pemimpin nagara (negarawan), jadi anggota dewan misinya kembali kehati nurani sebagaimana nawaetu-nya tadi yaitu niat ingsun nilep, niat ingsun mbangun kroni, niat ingsun korupsi dll.
• Kesalahan karena ternyata kita SALAH memilih. Kita tahu bahwa pemilihan apapun selalu sarat dengan money politic, sarat dengan intrik, penuh dengan tipu muslihat dan janji palsu. Kita tahu bahwa kandidat adalah kaum Burisrawa, drakula atau bahkan dedemit mrakayangan. Namun masih dipilih juga. Ini adalah kesalahan kita yang fatal total-tal!!!
Janganlah lagi kita berkelindan dengan kebodohan, Indonesia harus bangkit, dan kita kembali bisa menepuk dada; Ini Indonesiaku bisa maju tanpa cawe-cawe.
Salam, Semut Ibrahim
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
1 thought on “Jejak Orde Prasejarah Hingga Orde Cawe-Cawe”