
Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H. Advokat
“Ini (Ahmad Khozinudin) yang punya PIK-2. Ini Owner-nya PIK-2″ (Erros Djarot, saat peluncuran Buku Autobiografi Erros Djarot, 19/10). Siang itu selepas memarkir kendaraan, penulis dengan tergopohnya segera menuju lokasi acara di Midaz Golf Senayan, Senayan Avenue, Jakarta Selatan, Minggu (19/10).
Acara yang jauh-jauh hari, bukan hanya mengirimkan undangan, sang empunya acara juga menelpon penulis secara langsung, untuk menghadiri undangan acara tersebut.
Acara tersebut diadakan oleh Erros Djarot. Ya, Mas Erros Djarot, seorang pencipta lagu, sutradara, politikus dan Budayawan Indonesia. Siapa yang tak kenal Mas Erros…?
Penulis sendiri, berjumpa untuk pertama kali dengan Mas Erros saat mengadvokasi SK Budiardjo & Nurlela, pasutri korban perampasan tanah yang dilakukan oleh Agung Sedayu Group (ASG) group usaha milik Aguan melalui PT. Sedayu Sejahtera Abadi (PT SSA) yang Direkturnya Alexander Halim Kusuma dan terakhir dijabat oleh Nono Sampono.
Saat masuk ke Midaz Golf Senayan, penulis tak langsung menemui Mas Erros. Penulis langsung menuju ke lantai 2, karena posisi Mushola ada di lantai 2.
Selepas sholat Dzuhur, penulis asyik diskusi sambil menikmati hidangan. Di lantai 2, terlihat ada Pak Andi Sahrandi, Bang Anthoni Budiawan, Mas Gigin Praginanto, juga sejumlah tokoh lainnya.
Sesaat, penulis terjebak dalam diskusi intensif di meja lantai 2, terkait kasus utang kereta Whoosh warisan Jokowi. Bang Anthoni, menegaskan bahwa soal mekanisme pembayaran apakah melalui APBN atau non APBN (Danantara), itu soal kedua. Yang pertama harus dilakukan, adalah segera melakukan audit untuk mendapatkan jawaban, kenapa proyek tak visible ini dipaksakan lanjut. Padahal, saat ada rencana Cost Over Run, Bang Anthoni juga sudah menyampaikan kritik agar proyek dievaluasi.
Bukan menambah anggaran untuk melanjutkan proyek.Sejak awal, proyek ini memang tak layak. Namun, Jokowi lah, yang memaksakan. Proyek ini, hanya dijadikan ajang untuk ‘Cari Cuan’, seperti proyek infrastruktur lainnya di era Jokowi yang akhirnya mangkrak (termasuk proyek IKN).
Tak ingin terjebak terlalu lama dalam diskusi, penulis akhirnya pamit untuk turun ke bawah. Untuk menemui pemilik acara, setor muka ke Mas Erros Djarot.
Dari kejauhan, penulis telah melihat Mas Erros begitu sibuk menyapa, mempersilahkan duduk, hingga mengobrol mesra dengan sejumlah tamu. Terlihat pula, Bang Abraham Samad dan Bang Sa’id Didu telah ada di lingkaran para tamu. Lalu, penulis menemui Mas Erros Djarot, bersalaman dan mencoba ingin segera berpaling untuk mencari tempat duduk, agar tak mengganggu kemesraan Mas Erros melayani tamu. Tapi, Mas Erros malah memeluk erat, sambil dengan bangganya memperkenalkan penulis kepada sejumlah tamu yang hadir.
“Ini yang punya PIK-2. Ini Owner-nya PIK-2” begitu, seloroh mas Erros Djarot kepada para tamu, saat memperkenalkan penulis. Pada moment tersebut, juru keker (kamera) sempat melirik. Segera saja, kami berpose untuk diambil gambarnya. Sebelumnya, penulis juga ngobrol dengan Pak Mince. Diskusi soal proyek PIK-2 yang belakangan dihapus dari status PSN oleh Presiden Prabowo Subianto.
Saat bertemu Bang Abraham Samad, penulis sempat melihat sosok yang sepertinya Pak Syafri Samsudin. Kami saling memandang, namun tidak menyapa karena belum saling kenal. Peristiwa ini, mengulangi moment saat kami juga saling memandang di acara RH Channel di Al Jazeera Restaurant, beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Pak Syafri Samsudin belum menjadi Menhan.
Meskipun tidak saling kenal, namun Bang Abraham Samad dan Bang Sa’id Didu akrab dengan Pak Syafri. Disisi lain, dalam Advokasi kasus PIK-2 dan ijazah palsu Jokowi, penulis menjadi akrab dengan Bang Sa’id Didu dan Bang Abraham Samad.
Penulis berlalu dari Bang Abraham Samad, setelah sempat meminta penulis duduk disamping beliau. Namun, penulis memilih posisi lain.
Di belakang, ada SK Budiardjo dan Bang Akbar Faisal. Saat ngobrol, terlontar kata-kata dari Bang Akbar : “Kalian hebat. Hebat ..” ungkapnya. Namun, tak sempat dijelaskan soal apa yang dimaksud, karena kemudian ada tamu lain yang disapa.
Banyak tokoh lain yang terlihat hadir. Ada Guntur dan Guruh Soekarputra, Sukmawati Soekarnoputri, Ganjar Pranowo, Roy Marteen, Slamet Rahardjo, Berlian Hutauruk, Keenan Nasution, Aburizal Bakrie, Menkop Ferry Juliantono, Bambang Soesatyo, Putih Sari, Arif Hidayat, Bambang Pacul, dan lainnya.
Penulis mengikuti acara dengan Hidmat. Bahkan, sempat terbawa emosi dan meneteskan air mata, saat tampilan video napak tilas biografi mas Erros ditampilkan di layar. Penulis, juga menikmati sajian musik yang indah, yang menampilkan sejumlah lagu gubahan Mas Erros Djarot.
Paling terpukau, saat aksi solo gitaris dengan dua handle memainkan setiap notasi grip gitar dengan ciamik. Penulis fikir, hanya Alif Ba Ta yang semahir itu, ternyata tidak. Permainan gitarnya begitu memukau.
Sayangnya, penulis tidak bisa menuntaskan acara sampai kelar jam 16.00. penulis, harus kembali karena anak ada jadwal untuk segera diantar ke pondok pesantren di Bogor. Akhirnya, sambil menyelinap diantara keramaian, penulis kabur. Menuju parkir dan meninggalkan lokasi acara.
Saat senggang, penulis buka kembali dua buku yang di launching. ‘Autobiografi Erros Djarot’ jilid 1 dan ‘Erros Djarot Apa Kata Sahabat’, dua judul buku yang di launching. Belum seluruhnya selesai dibaca, namun dari beberapa halaman dan tinjauan daftar isi, setidaknya Buku Autobiografi Erros Djarot ini menggambarkan tentang riwayat sebuah perjuangan panjang, memori tentang cinta dan komitmen kehidupan, juga soal harapan untuk bangsa.
Selain buku Autobiografi, juga buku ‘Erros Djarot Apa Kata Sahabat’ setebal 666 halaman berisi tulisan dari 72 sahabat tentang Erros Djarot. Sejumlah tokoh yang menulis buku itu diantaranya Guntur Soekarnoputra, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Mahfud M.D., Laksamana Sukardi, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Muhaimin Iskandar, Yenny Wahid, hingga Susilo Bambang Yudhoyono.
Ah, bahagia dan bangga rasanya menjadi salah satu tamu dalam acara tersebut. Penulis kira, selama ini telah membuat garis panjang tentang peta perjuangan untuk negeri ini. Tetapi begitu dibandingkan dengan kiprah mas Erros, ternyata panjangnya garis perjuangan yang penulis torehkan, tak sebanding dengan setitik kalimat dari untaian kata yang ada dalam buku setebal 669 halaman.
Sekedar bocoran, melalui buku Autobiografi Mas Erros Djarot kita bisa tahu bahwa yang dimaksud Mas Tok, itu adalah Guntur Soekarno Putra. Kita juga tahu, bagaimana kisah ‘Ngenger’ beliau saat di Amerika. Juga petualangan hidup di Munchen, Thailand, hingga sejumlah kota di Tanah Air.
Mas Erros juga tak pelit membagikan kisah cinta dan kehidupan keluarganya. Dari upaya gigih melamar Dewi Putri Duta Besar sang Pujaan hati melalui upaya menaklukan calon mertua, mengarungi bahtera rumah tangga, menyambut kelahiran Banyu Biru, hingga kelahiran Sekar Putih sang Matahari Erros Djarot.
Ah, jika pembaca tak puas dengan tulisan ini, penulis sarankan untuk membaca bukunya sendiri. Agar tak ada distrorsi keindahan kisah, dari upaya keras penulis menuturkan ulang sebagiannya melalui tulisan ini.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.