Disampaikan Oleh: Haremen

Di jalan raya yang retak oleh teriakan, di gedung kokoh terbakar, sembunyi oleh takut. Akhir Agustus 2025 kembali menorehkan luka, sepuluh tubuh tergeletak kaku, dua puluh dua nama hilang dari daftar keluarga. Mereka bukan sekadar angka, mereka adalah denyut nadi, yang terputus di tengah rangkaian teriakan : “Reformasi belum selesai!”
Apakah kita tidak belajar dari Semanggi? Dari Mei yang berdarah? Dari wajah-wajah yang lenyap tanpa kabar? Sejarah seperti cermin retak, memantulkan tragedi yang sama dengan nama berbeda, tahun berbeda, tetapi aroma kekerasan dan gas air mata tetap sama. Pukulan benda tumpul mendarat di tubuh penerus bangsa, tidak hanya lebam meninggalkan bekas luka, tapi tengkuk patah, kepala berdarah dan luka dalam yang merenggut jiwa.
Para ibu menunggu di posko kecil, membawa foto anaknya yang hilang, bertanya pada polisi yang berjaga dingin : “Apakah kau melihatnya? Apakah ada yang menyembunyikan namanya?” Namun jawaban menguap ke langit malam, hanya gema yang kembali: “Prosedur masih berjalan.
”Sepuluh jenazah sudah dikubur, namun dua puluh dua jiwa masih berkeliaran, menghantui lorong-lorong kantor pemerintahan, mengetuk pintu yang terkunci rapat. Apa mungkin nama-nama itu akan kembali lagi atau hilang bersama memudarnya berita tentang orang-orang hilang.
Di balik kaca berpendingin, para pejabat berbicara tentang stabilitas, tentang harga saham, nilai rupiah, tentang citra bangsa, sementara rakyat di jalan bertanya : “Apakah nyawa lebih murah dari retorika?”
Akhir Agustus 2025 bukan sekadar kalender, ia adalah nadi yang patah, ia adalah teriakan yang dibungkam, ia adalah bukti bahwa darah bisa berulang jika sejarah hanya dibaca, bukan dipelajari.
Dan malam itu, di sela-sela obor peringatan, seseorang berbisik di antara pelayat : “Reformasi dulu lahir dari darah, mungkinkah ia harus ditebus lagi dengan darah yang sama?”
Kini, Kamis sore di depan istana, barisan hitam bertambah panjang. Payung-payung hitam terbuka menyembunyikan wajah penuh duka. Selendang hitam melilit leher, tanda bahwa luka belum disembuhkan. Tanda bahwa negara masih berhutang, bukan uang, tapi kebenaran.
Mereka berdiri tegak, diam, tapi lebih nyaring dari orasi. Aksi Kamisan bukan sekadar ritual, ia adalah doa yang dipakukan ke aspal, ia adalah peringatan yang tidak boleh padam, bahwa darah di jalan raya tidak bisa dilupakan.
Dulu nama-nama hilang di masa Orde Baru, Wiji Thukul, Petrus, Munir, Semanggi, Mei 1998—kini sejarah menambah daftar baru. Setiap generasi seolah dipaksa mewarisi luka yang sama, luka yang tidak pernah dijahit tuntas.
Dan rakyat tahu, meski istana berdiri megah di depan sana, meski pagar besi dipasang setinggi kepala, kebenaran tetap akan mengetuk, dengan payung hitam dan langkah yang tidak gentar, hingga negeri ini berani bercermin pada wajahnya sendiri.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.