Disampaikan Oleh: Haremen
Di jalan-jalan kota, suara rakyat bergemuruh seperti ombak, menyapu aspal, mengguncang pagar besi, mengetuk pintu kekuasaan yang terlalu lama dikunci rapat.Mereka datang, dengan poster yang menjadi doa, dengan teriakan yang menjadi petir, dengan langkah yang menjadi gempa, tsunami dan Likuifaksi. Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Solo, Yogyakarta—seluruh nusantara menjelma satu tubuh, yang menggeliat, menolak dibungkam.

Dan di tengah riuh itu, nama seorang jenderal purna bakti berdiri di persimpangan : Prabowo Subianto Dengan Akal Sehatnya. Apakah ia karang yang kokoh atau sekadar perahu tua yang oleng ditelan badai?
“Kalau ia kuat, (cerdas, smart),” kata seorang pemikir, DR. Anton Permana, maka momentum ini adalah senjata. Demo besar bukan sekadar teriakan, tetapi palu rakyat untuk menghantam geng Solo, membebaskan negeri dari cengkeraman yang terlalu lama menekan nafas kebangsaan.
Bayangkan—rakyat yang marah menjelma jadi gelombang, dan Prabowo tidak kuat, tidak cerdas, tidak smart, sebagai nahkoda singa pemberani yang memukul balik kekuasaan semu atas nama republik, atas nama keadilan dan permintaan rakyat.
Namun sejarah selalu menyimpan sisi lain : Jika ia ragu, goyah, lemah, maka ombak itu tidak lagi gelombang, melainkan jadi gempa – tsunami – likuifaksi, yang merubuhkan, menghantam dirinya sendiri, menggulung, menelan kursinya, menghapus namanya dari lembaran kekuasaan.
Begitulah politik, seperti bumi yang retak : kadang membuka jalan mata air, kadang melahirkan gempa yang memusnahkan kota. Kadang tanah yang tampak kokoh, namun sekali diguncang—ia luluh, cair, menjadi likuifaksi yang menelan rumah-rumah beserta pemiliknya.
Rakyat di jalanan menunggu, apakah suara mereka dijadikan senjata, atau justru menjadi liang kubur politik?Di bawah spanduk dan langit yang muram, pertanyaan itu bergema : Apakah Prabowo berdiri sebagai singa yang mencabik akar masalah, atau jatuh sebagai bayangan yang dikubur gelombang…? Sebab rakyat tidak pernah berhenti berjalan, tidak pernah berhenti bersuara. Mereka adalah denyut, mereka adalah gempa, mereka adalah tsunami, mereka adalah likuifaksi. Dan siapa pun yang tidak siap, tidak kuat, tidak cerdas, tidak smart akan ditelan olehnya.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.