(Akbar Tanjung Dan Hamza Haz Mundur Dari Kabiner Reformasi Pembangunan/KRP 1998)
Disampaikan Oleh : Haremen
Di layar kaca, suara Najwa bergetar, menyibak lembar sejarah reformasi, bertanya pada sang mantan Presiden jenius, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang dahulu berdiri di tengah badai, antara runtuhnya Orde Barudan lahirnya reformasi.

“Saya tidak bertanggung jawab pada Golkar,” ujar Habibie dengan tatapan bening, “tapi saya bertanggung jawab pada bangsa ini, negara yang saya cintai Indonesia.”
Kata-katanya sederhana, namun menusuk ke inti nurani : Indonesia bukan milik partai, Indonesia bukan milik golongan, Indonesia bukan milik perorangan dan suku tertentu, Indonesia bukan kursi rebutan, Indonesia adalah rumah kita bersama, yang harus dijaga dengan akal sehat dan hati bersih.
Najwa kembali menelisik, “Jadi, presiden Habibie menolak rangkap jabatan? Melepas semua kekuasaan demi bangsa?”
Habibie mengangguk, dengan ketegasan yang lembut : “Saya menolak kursi yang hanya untuk saya, tapi kepada semua pemimpin partai saya sampaikan: tidak boleh duduk di Kabinet Reformasi Pembangunan. Kalau ingin jadi ketua partai, silakan, tapi lepaskan kursi pemerintahan. Jangan menjadi pengurus partai juga merangkap jadi menteri”
Satu per satu pun mundur : Akbar Tanjung memilih Golkar, Hamza Haz mundur teratur, karena etika lebih tinggi dari nafsu kuasa.
Najwa tersenyum getir, lalu bertanya lagi : “Tapi sekarang terbalik, Pak, Presiden atau menteri dulu baru jadi ketua partai, malahan ada anggota partai dua hari langsung jadi ketua partai, bagaimana komentar Anda?”
Habibie, dengan logika jernihnya, berkata : “Itu salah. Itu melanggar etika. Itu mencampuradukkan kuasa, hingga bangsa kehilangan proteksi, hingga rakyat tidak lagi punya sandaran.”
Lalu Najwa menoleh pada Akbar Tanjung, “Pak Akbar, apa bedanya dulu dan sekarang? Kenapa etika dulu begitu jelas, tapi kini kabur entah ke mana?”
Akbar menarik nafas panjang, “Ya, itu tergantung pemimpin. Tergantung presidennya. Zaman Pak Habibie, memang lain, lebih jernih, karena beliau menegakkan garis batas. Meski saya sempat marah, sebab 80 persen pengurus Golkar itu PNS.Kalau dilarang, siapa lagi yang akan jadi pengurus?”
Habibie hanya tersenyum, menjawab pendek tanpa kompromi : “Ya kamu urus sendirilah.”
Dan begitulah—Habibie berdiri di jalan sepi, sendiri menegakkan prinsip, di saat reformasi masih rapuh, ketika partai-partai masih lapar kekuasaan, dan rakyat masih bingung mencari arah.
Najwa Shihab bertanya, “bagaimana dengan industri pesawat terbang yang Habibie Gagas. Kenapa diam saja saat itu dulu ditutup, padahal jabatan presiden dengan mudah memberi perintah untuk melanjutkan industri kebanggaan nasional itu.”
Habibie menjawab, “itu yang mereka inginkan, agar saya lebih memperhatikan industri pesawat terbang dari pada persoalan yang tengah di hadapi bangsa. Bayangkan US dollar hampir mencapai 20 ribu rupiah. Semua harga kebutuhan pokok melambung, semua antri, antri beras dan anti kebutuhan pokok. Saya abaikan industri ini, saya lebih konsen pada kebutuhan rakyat dan alhamdulillah US dollar dapat diturunkan menjadi 6.500 rupiah.
Kini, dua puluh tahun lebih berselang, Indonesia masih bertanya : di manakah sosok seperti Habibie? Akan lahirkah figur Habibie baru? yang berani berkata “tidak” pada partainya, yang menolak kursi demi etika, yang menjadikan bangsa lebih tinggi dari golongan. Indonesia butuh jenius berhati nurani, bukan sekadar cerdas, tapi berani menolak godaan kuasa. Indonesia butuh pemimpin yang berkata: “Bangsa ini lebih penting dari kursi. Bangsa ini lebih penting dari partai.” Sebab, tanpa itu—politik hanyalah lingkaran setan, kursi hanyalah perebutan, dan rakyat kembali jadi penonton, dalam drama kekuasaan yang tidak pernah usai.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.