Oleh : Ida. N. Kusdianti, SekJend FTA

Bahaya itu bukan semata datang dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri dari pilihan-pilihan kecil yang lebih mementingkan kenyamanan sesaat ketimbang keberlanjutan perjuangan.
Teriakan sekolompok kecil di desa Sawah Luhur Kasemen, pesisir utara Banten, Pontang, Tirtayasa, Tanara… seolah menjadi justifikasi/pembenaran bagi para budak oligarki yang sedang intens menggarap daerah tersebut.
Di lain pihak kita menyaksikan bagaimana perjuangan para aktivis, ulama, akademisi forum purnawirawan, mereka yang dengan suara lantang menolak ketidakadilan, oligarki, dan dominasi korporat—dilemahkan bukan hanya oleh kekuasaan, tapi juga oleh masyarakat yang dulu mereka bela. Ironisnya, mereka ditinggalkan oleh rakyat yang memilih berpihak pada isi perut ketimbang idealisme.
Semakin banyak dari kita yang lebih rela menerima bantuan instan, sembako sesaat, atau iming-iming proyek kecil, daripada menahan lapar dan berjuang bersama. Sebagian masyarakat kita mulai alergi terhadap kata perjuangan, karena dianggap merepotkan dan tak menjanjikan keuntungan cepat.
Kita lupa bahwa semua kemajuan besar dalam sejarah bangsa ini lahir dari perjuangan panjang, bukan dari kompromi dangkal.
Akibatnya, ruang-ruang kritis menyempit. Suara kebenaran teredam. Aktivis disingkirkan, dilabeli pembuat onar, dan dibungkam secara sistematis. Dan parahnya, ini semua terjadi dengan restu diam-diam dari masyarakat yang mulai merasa nyaman hidup dalam ketidakadilan yang terselubung rapi.
Apakah kita tidak sadar bahwa apa yang kita anggap “aman” hari ini, justru sedang menyiapkan perangkap bagi anak cucu kita?
Melacurkan idealisme, nurani, dan keberanian kita hari ini, kita tengah menyerahkan masa depan mereka kepada segelintir elite pemilik modal?
Saat ini mungkin belum terasa. Tapi kelak, ketika lapangan kerja dikuasai asing, pendidikan menjadi barang mewah, dan hak bersuara dibungkam oleh algoritma kekuasaan, maka barulah kita sadar: kita telah gagal menjadi pendahulu yang bertanggung jawab.
Tulisan ini bukan untuk provokasi tapi sebagai bentuk kekecewaan, yang bertujuan untuk memanggil jiwa kita bangkit dan berani menghadapi apapun. Jangan biarkan perjuangan mati karena kita memilih kenyamanan sesaat. Jangan biarkan anak cucu kita hidup dalam sistem yang gagal kita lawan saat masih punya kesempatan. Sebab kelak, sejarah tidak hanya menulis tentang para tiran, tapi juga mencatat diamnya kita semua yang membiarkan mereka berkuasa dimasa datang.
Sahabat Ida Fillah & Lillah
Harus dengan cara apa lagi kami lakukan perjuangan…aksi demo yang intens sudah dan akan terus dilakukan..tapi warga sudah menyerah, entah karena takut atau memang tidak mau tau atau masabodo dengan masa depan anak cucu…
Langkah edukasi dan penyadaran terhadap rakyat sepertinya lebih efektiv dab harus intens dilakukan..
Jika hal ini terus berlanjut maka Banten khususnya game over..marwah Banten hilang..??
Nooo…selama masih ada ghiroh perjuangan walau hanya beberapa gelintir orang maka harapan itu masih ada..
Perjuangan akan berlanjut dan harus dilanjutkan walaupun hasilnya tak dinikmati saat ini ,tapi anak cucu kita yang akan menikmati..
Wallahu musta’an
Wassalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.