Oktober 10, 2026

Seri ke I kajian peringatan 80 tahun

Oleh Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Study Kajian Rumah Panca Sila

Ada perubahan tafsir pada Panca Sila ketika ada jargon “Saya Panca Sila dan Saya Indonesia “Kelihatan nya terdengar lumrah tetapi sesungguh nya sudah terjadi pencangkokan individualisme pada Panca Sila.

Gambar ilustraai

Tentu nya hal demikian perlu dikoreksi dan di luruskan agar Panca Sila tidak diseret pada Individualisme. Panca Sila justru antitesis dari Individualisme, kudeta konstitusi yang dibungkus Amandemen UUD 1945 adalah sebuah pengkhianatan terhadap Panca Sila sebab aliran pemikiran ke Indonesiaan telah dihancurkan dengan di Cangkokan Pancasila dengan Individualisme. Contoh pencanglokan itu dengan pikiran akal pendek mengcopy UU Ham PBB dan menempelkan pada pasal 28, ini adalah bukti para pengamandemen tidak mengerti sejarah dan tidak mengerti apa itu Indonesia, apa itu Ideologi Panca Sila.

Ideologi Panca Sila adalah kristalisasi pemikiran tentang negara berdasarkan Panca Sila yang oleh pendiri negeri ini ideologi Pancasila telah diuraikan dalam pasal-pasal UUD 1945, misal Ideologi Pancasila tentang kedaulatan rakyat ya silakan baca pasal 2 ayat 1 UUD 1945, Ideologi Pancasila tentang Ekonomi ya silakan baca pasal 33, dan seterus nya.

Kudeta UUD 1945 yang dibungkus Amandemen UUD 1945 ternyata telah memasukan Individu liberalisme , dan Kapitali. Kapitalisme yang merontokan Panca Sila, coba resapi apa yang di katakan Soekarno pada sidang BPUPKI , dan apa yang terjadi sekarang dengan di kudeta nya konstitusi dengan dibungkus amandemen UUD 1945. Dan munculnya Jargon Individualisme “Saya Panca Sila , Saya Indonesia.

“Apakah sesederhana itu ? mari kita telusuri sejarah bangsa Indonesia yang dibuang oleh penguasa hari ini sehingga tidak mengerti apa itu Indonesia, ” Maka oleh karena itoe, djikalau kita betoel-betoel hendak mendasarkan negara kita kepada faham kekeloeargaan, faham tolong-menolong, faham gotong-royong, faham keadilan sosial, enjah kanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme dari padanja…”. Mari kita buka sejarah bagaimana orang tua kita, para pendiri negeri ini membentuk UUD 1945 ,membuat sistem bernegara di sidang BPUPKI….” Toean-toean dan njonja-njonja jang terhormat. Kita telah menentoekan di dalam sidang jang pertama, bahwa kita menjetoedjoei kata keadilan sosial dalam preambule. Keadilan sosial inilah protes kita jang maha hebat kepada dasar individualisme. Tidak dalam sidang jang pertama saja telah menjitir perkataan Jaures, jang menggambarkan salahnja liberalisme di zaman itoe, kesalahan demokrasi jang berdasarkan kepada liberalisme itoe. Tidakkah saja telah menjitir perkataan Jaures jang menjatakan, bahwa di dalam liberalisme, maka parlemen mendjadi rapat radja-radja, di dalam liberalisme tiap-tiap wakil jang doedoek sebagai anggota di dalam parlemen berkoeasa seperti radja. Kaoem boeroeh jang mendjadi wakil dalam parlemen poen berkoeasa sebagai radja, pada sa’at itoe poela dia adalah boedak belian daripada si madjikan, jang bisa melemparkan dia dari pekerdjaan, sehingga ia mendjadi orang miskin jang tidak poenja pekerdjaan.

“Inilah konflik dalam kalboe liberalisme jang telah mendjelma dalam parlementaire demokrasinja bangsa2 Eropah dan Amerika.Toean-toean jang terhormat. Kita menghendaki keadilan sosial. Boeat apa grondwet menoeliskan, bahwa manoesianja boekan sadja mempoenjai hak kemerdekaan soeara, kemerdekaan hak memberi soeara, mengadakan persidangan dan berapat, djikalau misalnja tidak ada sociale rechtvaardigheid jang demikian itoe? Boeat apa kita membikin grondwet, apa goenanja grondwet itoe kalau ia ta’dapat mengisi “droits de l’homme et du citoyen” itoe tidak bisa menghilangkan kelaparannja orang jang miskin jang hendak mati kelaparan.Maka oleh karena itoe, djikalau kita betoel-betoel hendak mendasarkan negara kita kepada faham kekeloeargaan, faham tolong-menolong, faham gotong-royong, faham keadilan sosial, enjahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme dari padanja.Marilah kita menoendjoekkan keberanian kita dalam mendjoendjoeng hak kedaulatan bangsa kita, dan boekan sadja keberanian jang begitoe, tetapi djoega keberanian mereboet faham jang salah di dalam kalboe kita. Keberanian menoendjoekkan, bahwa kita tidak hanja membebek kepada tjontoh² oendang2 dasar negara lain, tetapi memboeat sendiri oendang² dasar jang baroe, jang berisi kefahaman keadilan jang menentang individualisme dan liberalisme; jang berdjiwa kekeloeargaan, dan ke-gotong-royongan.Keberanian jang demikian itoelah hendaknja bersemajam di dalam hati kita”.

“Kita moengkin akan mati, entah oleh perboeatan apa, tetapi mati kita selaloe takdir Allah Soebhanahoewataala. Tetapi adalah satoe permintaah saja kepada kita sekalian : Djikalau nanti dalam zaman jang genting dan penoeh bahaja ini, djikalau kita dikoeboerkan dalam boemi Indonesia, hendaklah tertoelis di atas batoe nisan kita, perkataan jang boleh dibatja oleh anak-tjoetjoe kita, jaitoe perkataan: “Betoel dia mati, tetapi dia mati tidak sebagai pengetjoet”.

Para pengamandemen UUD 1945 dan partai-partai politik yang berkuasa sesungguh nya telah berkhianat terhadap Panca Sila dan tidak mungkin tujuan berbangsa dan bernegara Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia di letakan pada sistem Liberalisme Kapitalisme. Sistem Presidensiel adalah bentuk pengkhianatan terhadap Sila ke empat “Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikma kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ”

Sebab sistem Panca Sila adalah permusyawaratan perwakilan basis nya Kebersamaan, Kolektivisme, kekeluargaan, gotong royong, musyawarah perwakilan, onok rembuk yo dirembuk.

Sementara sistem Presidenseil basis nya individualisme, banyak-banyakan suara, kalah menang, kuat-kuatan, mayoritas yang menang dan minoritas yang kalah, bahkan sistem ini juga berkhianat terhadap Bhinekatunggal ika, butuh kesadaran bersama untuk mengembalikan negara ini berdasarkan Panca Sila dan UUD 1945 Proklamasi 18 Agustus 1945 yang kemudian di berlakukan kembali dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca