Oktober 9, 2026

ISLAM  BERKEMAJUAN

Platform dan Dakwah Sosial Muhammadiyah

Oleh : Gyo Madaskar, Kabiro SIM Lampung dan Waka PCM Bumiratu Nuban, Lampung Tengah

Beragama dengan cara mengikuti tradisi yang ada tanpa dasar syariat yang jelas membuat paham agama menjadi taqlid buta. Namun mengikuti hadits secara rigid sebatas teks pun membuat paham menjadi puritan buta.

Taqlid buta dan puritan buta kedua-duanya menjadi paham agama yang konservatif alias kolot atau jumud. Kedua pola pikir paham agama yang demikian tidak pas untuk Muhammadiyah yang ingin membangun Islam yang berkemajuan.

Islam berkemajuan memang dimulai dengan beragama yang puritan, yakni kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Tetapi dalam memahami kitab Allah dan Sunnah, Muhammadiyah tetap memperhatikan realitas empiris (pengalaman), kultur, perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan paham beragama seperti inilah dinamisasi Muhammadiyah di mulai.

Islam Berkemajuan adalah platform Muhammadiyah

Muhammadiyah memandang bahwa Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan dan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan. Kemajuan dalam pandangan Muhammadiyah adalah kebaikan yang serba utama, yang melahirkan keunggulan hidup lahiriyah dan batiniyah.

Islam yang berkemajuan dalam pandangan Muhammadiyah memberikan tempat yang proposional kepada akal pikiran dalam menghadapi perkembangan jaman. Dalam menghadapi perkembangan jaman perlu di kembangkan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen kemajuan sehingga Islam menjadi agama bagi kehidupan yang bersifat “kontekstual tanpa kehilangan pijakannya yang otentik pada sumber ajaran”.

Ijtihad dan tajdid dalam gerakan Muhammadiyah sejak awal menemukan ruang artikulasi (upaya untuk mewujudkan sesuatu menjadi ada) dalam kontekstualisasi (proses menempatkan) ajaran Islam sebagaimana di kembangkan oleh KH Ahmad Dahlan. Adapun rasionalisasi memperoleh bingkai yang kokoh sebagai “akal pikiran yang suci”, sedangkan dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah di sebut “akal pikiran yang sesuai dengan ajaran Islam”.

Muhammadiyah memandang bahwa Islam dalam pergumulan dengan kehidupan sepanjang jaman harus di wujudkan dengan amal. Islam sangat menjunjung tinggi amal sejajar dengan iman dan ilmu sehingga Islam hadir dalam keseimbangan sekaligus membumi dengan kehidupan.
Dalam kehidupan yang kongkrit tidak ada manifestasi lain dari Islam kecuali dalam amal.

Teologi al-Ma’un

K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya telah mempelopori penafsiran ulang doktrin Islam secara nyata untuk perubahan sebagaimana tercermin dalam teologi al-Ma’un. Dari teologi Al Ma’un inilah lahir transformasi Islam untuk mengubah kehidupan yang bercorak ; membebaskan, memberdayakan dan memajukan.

Model penafsiran doktrin Islam yang implementatif itu menunjukan daya hidup dan kemampuan Muhammadiyah dalam merumuskan ulang pesan-pesan dan nilai-nilai Islam yang responsif terhadap problematika kehidupan kemanusiaan serta berdialog dengan realitas jaman secara cerdas dan mencerahkan.

K.H. Ahmad Dahlan menyadari bahwa umat Islam saat itu berada dalam kondisi tertindas secara ekonomi, terbelakang secara pendidikan, dan minim akses terhadap layanan sosial. Ia tidak menunggu perubahan datang dari atas, tapi mulai bergerak dari bawah. Baginya, menolong sesama bukan hanya ajaran moral, tapi panggilan iman dan strategi dakwah yang membebaskan.

Di tengah kemiskinan masyarakat, beliau memaknai zakat, infak, dan sedekah bukan hanya sebagai ibadah individual, tetapi sebagai alat perjuangan sosial. Semangat filantropi ini menjadi pondasi awal Muhammadiyah membangun rumah sakit, sekolah rakyat, dan panti sosial sebagai wujud nyata dari nilai-nilai Islam.

K.H. Ahmad Dahlan tak ingin umat Islam hanya kuat secara spiritual, tapi juga berdaya secara sosial. Ia ingin membangun masyarakat Islam yang mandiri, cerdas, dan berkeadaban. Maka filantropi bukan sekadar kegiatan karitatif, melainkan proses transformasi.

Warisan K. H. Ahmad Dahlan sangat relevan hingga hari ini. Muhammadiyah masih terus mengembangkan model filantropi berbasis dakwah dan pemberdayaan. Dalam dunia modern yang semakin kompleks, pesan beliau tetap sama: jadikan filantropi sebagai jalan peradaban Islam Rahmatan Lil’alamin.

Walauhu’alam bisawab.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca