Oktober 10, 2026


(Jangan Jadi Presiden Pengecut)
—– Sutoyo Abadi : 08.07.2025

Cerita situasi pasca pasukan Italia menaklukkan pasukan Etiopia. Angkatan perang Italia berhasil menduduki Etiopia pada 1935, tokoh- tokoh negeri Afrika Timur — yang telah membantu kemenangan—diundang Benito Mussolini naik ke pesawat terbang (joy flight).

Gambar ilustrasi

Mereka naik pesawat karena menerima undangan dari Benito, menganggapnya sebagai bukti penghargaan atas jasa mereka bagi kemenangan dan kejayaan Italia.

Dengan perasaan gembira mereka di bawa terbang di atas laut, setelah terbang di atas Laut Merah, Mussolini tanpa menunggu lahirnya UU hukuman bagi para penghianat negara, ambil putusan dramatis, memerintahkan supaya semua tokoh Etiopia itu dibuang keluar pesawat tanpa parasut.

Wajar  para jenderalnya bertanya mengapa tuan Benito Mussolini  berbuat demikian, sang diktator fasis menjawab : “Kepada negerinya sendiri mereka berkhianat, apalagi kelak kepada Italia. Sekali orang berjiwa pengkhianat, dia akan terus menjadi pengkhianat seumur hidupnya”.

Pengkhianat seperti itu disebut “bajingan” seperti pengkhianat Etiopia yang layak dibuang satu per satu ke laut seperti yang dilakukan oleh Benito Mussolini  pada 1935.

Penghianat memiliki watak dan profesi pencitraan,  berbohong, menipu untuk membungkus / menutup prilakunya sebagai penghianat.

Kita menyaksikan saat ini penghianat negara merajalela sebagai penguasa, politisi bahkan ilmuwan penghianat, selalu lolos sensor melenggang dalam pengkhianatan  karena selalu melekat dengan kekuasaan bahkan telah melakukan korporasi yang memiliki struktur dan skala signifikan mengumbar kejahatan tanpa beban dan rasa malu.

“Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis”, mengatakan bahwa ketika seseorang menyerahkan kebebasan dan nilai-nilainya demi kekuasaan, ia sebenarnya sedang mengalami kejatuhan eksistensial, menjadi bagian dari sistem yang mereka lawan dan berubah menjadi penghianat.

Penghianat State Corporate Crime, yakni persekongkolan antara penguasa bengis dengan pengusaha. “What is to be done” yang kita saksikan realita di lapangan?. Maka itu kita harus segera bertindak untuk menyelamatkan  rakyat dengan
mengumumkan perang melawan para penghianat negara.

Penghianat  seperti ini berprilaku liar, sadis dan berwatak barbar (barbarian). Tidak ada standar moral dan etika dalam sistem orang barbar, siapa yang kuat itulah hukum.

Modusnya selalu  menggunakan  instrumen kekuasan untuk melakukannya, agar aman dari kejahatannya. Mereka akan menggunakan segala cara untuk menang. Tidak ada standar hukum, moralitas dan etika yang bisa membatasi sifat barbarian itu.

Penghianat selalu  larut dalam budaya konformitas (culture of conformity), menjual dirinya sebagai budak dan boneka Taipan Oligarki dan asing, menindas, menyiksa bahkan membunuh bangsanya sendiri.

Penghianat yang merajalela saat ini yang dipertontonkan dengan telanjang oleh para penguasa, politikus bersenyawa dengan para pengusaha (oligarki) sebagai penghianat.

Tidak ada gunanya pidato berapi-api menjual narasi kebajikan tetapi Ia hanyalah  ikan busuk. Sebagai pelaku/pelindung kejahatan dan  penghianat.

Menarik contoh Benito Mussolini, penghianat akan tetap sebagai penghianatan harus di buang ke laut.

Presiden Prabowo Subianto bukan Benito Mussolini juga bukan Sukarno atau Suharto, tampak sebagai anak buah penghianat Presiden Jokowi.
Presiden gamang, peragu bahkan seperti masih tampil sebagai pengecut.

Hancur dan rusak negara ini karena “Ikan busuk dari kepalanya (rotten fish from its head)”.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca