Oktober 10, 2026
Ilustrasi (SIM)

SEMUT IBRAHIM MEDIATAMA – Rosullulloh pernah menjawab pertanyaan dari salah satu sahabatnya tentang pertanyaan “apa itu wahn?” Beliau menjawab, “yaitu cinta dunia dan takut mati” wahn sendiri adalah jenis penyakit non medis dalam diri setiap manusia.

Nah, apa yang ingin saya sampaikan tentang hal diatas? Kita sama-sama tau bahwasannya para pejabat korup di Indonesia keberadaannya sudah cukup kronis, dengan berbagai tipu muslihat yang sangat beragam, dan saya berasumsi bahwa para koruptor ini yang  di takutkan dalam hidupnya ada dua, yaitu takut miskin dan takut mati, indikasinya jelas bahwa meskipun mereka tergolong orang kaya raya, ditambah lagi mereka juga dapat gaji dan fasilitas dari negara, mereka justru melakukan korupsi yang nilainya sangat fantastis, bisa ribuan kali lipat dari gaji pejabat publik yang mereka terima. Indikasi yang ke dua yaitu takut mati, para koruptor tentu merasa hidupnya bisa panjang dan ingin hidup lebih lama serta berusaha menepis kematian karena terbuai kenikmatan dunia yang mereka peroleh, bahkan ada yang di usia senjapun masih melakukan kejahatan luar biasa ini.

Untuk itu, sebagai warga negara dan rakyat Indonesia yang punya peran dalam menjaga kedaulatan dan kestabilan sosial sebuah negara, perlu menekan kepada wakil-wakilnya di parlemen untuk dapat segera memperbaiki sistem hukum dan undang-undang terhadap kejahatan luar biasa ini.

Sesuai pembukaan dalam tulisan ini, rakyat berharap bahwa hukuman paling pantas terhadap kejahatan tindak pidana korupsi ini adalah sebuah hukuman yang paling mereka takutkan dalam hidupnya, yaitu antonim dari cinta dunia dan takut mati, miskinkan mereka, rampas seluruh aset yang mereka miliki, hingga sampai pada hukuman mati.

Sebab penjara sudah tidak relevan lagi diberlakukan bagi para pelaku kejahatan ini yang sudah cukup bahkan sangat menghawatirkan bagi masa depan bangsa dan negara serta menyengsarakan rakyat Indonesia.

Oleh : Sudarsono Dars, Biro SIM KALSESL


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca