Oktober 10, 2026

(Kepunahan Cahaya Yang Belum Padam)

dipersembahkan oleh : Haremen

Di bawah langit yang dulu bersumpah biru,
Negeri ini menulis dirinya dengan tinta emas dan darah pejuang perintis dan raih kemerdekaan,
Namun kini huruf-hurufnya pudar,
Tersaput kabut tipu daya dan bisnis para serakah

Gambar ilustrasi

Parlemen jadi panggung wayang,
Konstitusi dikoyak di tengah tepuk tangan,
Demokrasi disulap jadi sirkus angka dan suara buatan,
Pemilu berubah jadi pabrik legitimasi palsu—
berbau uang, kekuasaan, dan warisan dinasti

Di lorong-lorong sunyi kota,
Rakyat bersujud bukan lagi karena iman,
Tapi karena utang, lapar, dan ketakutan.
Anak-anak bertanya,
“Apa arti merah putih jika keadilan bisa dibeli?”
“Apa gunanya sekolah jika kelulusan hanyalah formalitas untuk menganggur?”

Mereka bicara soal “pembangunan”,
tapi menggusur lebih banyak dari yang mereka bangun.
Mereka bicara soal “masa depan”,
tapi menanam racun di tanah yang diwariskan.
Ibu Pertiwi tidak lagi menangis,
Ia kini berteriak,
tapi suara itu ditelan oleh buzzer dan propaganda.

Di saat itulah,
dari reruntuhan etika dan institusi,
muncul satu nama yang tidak menjanjikan surga,
tapi menawarkan peta dan kompas:
Anies Rasyid Baswedan.

Bukan nabi, bukan penyihir,
tapi lelaki dengan lembar kerja,
dengan gagasan yang tidak lahir dari oligarki,
tapi dari pengalaman, kajian, dan keberpihakan pada manusia.

Ia membangun bukan hanya trotoar,
tapi juga kepercayaan
Ia mendirikan bukan hanya stadion,
tapi ruang bagi suara rakyat
Ia tidak hanya pandai bicara,
tapi tahu kapan harus mendengar

Ketika yang lain sibuk bagi-bagi kekuasaan,
ia sibuk menyiapkan jalan pulang
bagi republik yang tersesat arah

Tapi sungguh berat jalan keadilan
di tengah kekuasaan yang mabuk kuasa,
saat aparat menjadi pelindung kekeliruan,
dan hukum menjadi topeng bagi pemangsa

Pemilu 2024 adalah noda yang dikeramas dengan tinta
Warna hitam tetap menguar, meski dibungkus putih
Manipulasi bukan sekadar desas-desus,
ia tercetak dalam formulir dan narasi yang diputar balik

Namun anehnya,
semakin disingkirkan,
gagasan itu justru tumbuh,
di dada-dada rakyat yang tidak rela negeri ini punah

Anies Rasyid Baswedan,
bukan akhir, bukan juru selamat,
tapi mungkin, ia adalah pengingat
bahwa bangsa ini masih punya pilihan selain tunduk
Bahwa NKRI tidak ditulis hanya dengan KKN dan drama politik istana
Bahwa jika hari ini gelap,
maka besok bisa jadi terang
asal masih ada yang menyulut lentera,
di tengah puing-puing negara yang terbakar.

Dan selama satu nama masih diingat karena kerja, bukan janji,
Maka Indonesia belum mati
Ia mungkin sakit, bahkan koma,
tapi belum dikubur,
selama ada satu nyala…
yang menolak ikut padam.
(11.097□U73)

Terinspirasi dari tulisan Yusuf Blegur (Indonesia Tragis, Indonesia Butuh Anies)


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca